Cashless Bikin Kita Lebih Boros atau Justru Lebih Praktis?

Mahasiswa Universitas Pamulang Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Kholisatun Noviana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pembayaran cashless kini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari membeli makanan, membayar transportasi, berbelanja, hingga membeli kebutuhan kecil, semuanya bisa dilakukan hanya melalui kartu atau smartphone.
Kemudahan ini tentu membuat transaksi menjadi lebih praktis. Kita tidak perlu membawa banyak uang tunai dan proses pembayaran juga bisa dilakukan dengan cepat. Namun, di balik kemudahannya, cashless juga bisa membuat seseorang kurang menyadari jumlah uang yang sudah dikeluarkan.
Saat membayar menggunakan uang tunai, kita bisa melihat uang berkurang secara langsung. Berbeda dengan pembayaran digital, uang hanya berpindah melalui beberapa kali klik. Akibatnya, membeli sesuatu dengan harga kecil pun bisa terasa sepele jika dilakukan berkali-kali.
Selain itu, berbagai promo dan potongan harga dari layanan pembayaran digital juga dapat mendorong seseorang untuk berbelanja lebih sering. Promo memang bisa menghemat pengeluaran jika digunakan untuk kebutuhan, tetapi bisa menjadi pemborosan jika membuat kita membeli sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan.
Meski begitu, cashless tidak selalu berarti boros. Justru dengan penggunaan yang tepat, pembayaran digital dapat membantu seseorang mengatur keuangan. Riwayat transaksi yang tercatat secara otomatis dapat digunakan untuk melihat ke mana saja uang digunakan setiap bulan.
Pada akhirnya, masalahnya bukan terletak pada penggunaan cashless, tetapi pada bagaimana seseorang mengendalikan pengeluarannya. Kemudahan pembayaran seharusnya membantu kita mengatur keuangan, bukan membuat kita semakin sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
