Fenomena Bahasa Daerah Menjadi Bahasa Gaul: Sebuah Kemajuan atau Kemunduran?

Mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Pamulang, Tangerang Selatan, Indonesia.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Khoerunisa Mudiyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak era milenial, masyarakat mulai diakrabkan oleh munculnya beragam bahasa gaul. Munculnya bahasa gaul di era milenial tentunya adalah salah satu dampak dari perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi membuka pandangan baru bagi masyarakat untuk lebih terbuka dalam segala hal yang dianggap lebih “modern”. Saat ini, bahasa daerah juga merangkap menjadi bahasa gaul yang populer di masyarakat. Bahasa daerah yang menjadi bahasa gaul dan populer di masyarakat tidak hanya digunakan oleh masyarakat daerah saja, tetapi dapat digunakan dalam percakapan sehari-hari oleh masyarakat Indonesia. Dalam bahasa Sunda, terdapat beberapa kata yang menjadi populer, seperti kata “ceunah” yang berarti katanya atau kata “mereun” yang berarti mungkin. Selain itu, bahasa Jawa juga memiliki beberapa kata yang populer, seperti kata “jancok” yang berarti umpatan atau kata “lugu” yang digunakan untuk menyatakan orang yang lucu namun bodoh.

Di era yang serba digital ini, bahasa daerah yang menjadi bahasa gaul dipopulerkan oleh masyarakat melalui media sosial oleh konten kreator maupun anak muda.
Berdasarkan data yang dikutip dari RRI.co.id (2025), Indonesia menjadi negara dengan penghasil konten kreator terbanyak se-Asia dengan total mencapai 17 juta orang.
Sedangkan data pengguna media sosial yang dikutip dari RRI.co.id (2024) didominasi oleh anak muda dengan rentan usia 18—34 tahun, yaitu sebanyak 54,1%.
Oleh karena itu, penggunaan media sosial dapat memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan bahasa gaul. Termasuk bahasa daerah yang dipopulerkan menjadi bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari oleh masyarakat umum di luar daerah.
Bahasa daerah yang dipopulerkan menjadi bahasa gaul beralih fungsi dari alat komunikasi masyarakat lokal menjadi simbol pergaulan. Hal ini disebabkan oleh bahasa gaul di media sosial yang terus berkembang dan terus digunakan oleh masyarakat dalam percakapan sehari-hari. Bahasa gaul digunakan dalam percakapan sehari-hari oleh masyarakat untuk mengakrabkan dirinya dengan orang lain. Bahasa gaul memiliki sifat yang lebih santai dibanding dengan bahasa Indonesia resmi atau baku. Oleh karena itu, bahasa daerah yang dipopulerkan dan menjadi bahasa gaul mudah diterima oleh masyarakat karena akan dianggap lebih maju, terbuka, santai, dan unik.
Selain dampak positif yang telah diuraikan, fenomena bahasa daerah yang menjadi bahasa gaul juga dapat berdampak negatif. Bagi bahasa daerah itu sendiri, bahasa gaul dapat menurunkan peran bahasa daerah yang semestinya dipelajari secara utuh sebagai budaya lokal, menjadi hanya digunakan sebagai tren. Penggunaannya juga barangkali tidak sesuai dengan konteks budaya aslinya, sehingga dapat menggeser makna aslinya. Misalnya kata “baper” berasal dari bahasa Jawa yang artinya “bawa perasaan” memiliki konteks seseorang yang sedang menunjukkan emosi. Tetapi, saat ini kata “baper” memiliki konotasi negatif karena bermakna memiliki perasaan yang sangat sensitif atau mudah tersinggung.
Berdasarkan dampak positif bahasa daerah yang dipopulerkan menjadi bahasa daerah, dapat disimpulkan bahwa bahasa daerah dapat tetap hidup dan eksis di masyarakat luas. Bahasa gaul dapat menjadi alternatif bagi pelestarian bahasa daerah yang merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Namun, berdasarkan dampak negatifnya, masyarakat perlu menyikapinya dengan bijak. Perlu diingat bahwa bahasa daerah memiliki tingkatan tertentu dan nilai sopan santun yang dijaga secara turun temurun. Masyarakat tidak dilarang untuk mengikuti tren yang terus meningkat, termasuk bahasa gaul. Tetapi, masyarakat juga perlu menghargai bahasa daerah dengan semestinya, bukan hanya menjadi bahasa tren.
