Konten dari Pengguna

Dari Mangrove Menjadi Karya: Ecoprint sebagai Potensi Kreatif Desa Karangjaladri

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Khumaeroh Sastri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumentasi KKN 127 Desa Karangjaladri UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi KKN 127 Desa Karangjaladri UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Desa Karangjaladri, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi mangrove cukup besar. Keberadaan mangrove menjadi salah satu ciri khas yang melekat dengan kehidupan masyarakat, khususnya di Dusun Bojongsalawe. Potensi tersebut kemudian menjadi salah satu perhatian KKN Desa Karangjaladri Kelompok 127 UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto yang sedang melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. Melalui salah satu program kerja, mahasiswa KKN mencoba mengolah potensi yang ada di lingkungan sekitar menjadi sebuah karya yang memiliki nilai kreatif dan ekonomi. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pembuatan ecoprint dengan memanfaatkan daun mangrove sebagai bahan utama. Kegiatan ini menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan pemanfaatan potensi lokal melalui pendekatan yang lebih kreatif.

Ecoprint merupakan teknik mencetak bentuk dan warna alami dari tumbuhan ke permukaan kain. Teknik ini dipilih karena prosesnya cukup sederhana dan dapat dikembangkan menjadi berbagai macam produk. Dalam kegiatan yang dilakukan di Dusun Bojongsalawe, daun mangrove menjadi bahan utama yang digunakan untuk menghasilkan motif pada kain. Pemilihan daun mangrove bukan tanpa alasan karena tanaman tersebut merupakan salah satu potensi yang cukup dekat dengan masyarakat setempat. Selama ini, mangrove lebih banyak dikenal dari sisi manfaatnya bagi lingkungan dan ekosistem pesisir. Melalui kegiatan ini, KKN Desa Karangjaladri Kelompok 127 ingin memperkenalkan bahwa potensi mangrove juga dapat menjadi sumber inspirasi dalam menghasilkan karya kreatif.

Kegiatan ecoprint tersebut menyasar anggota kelompok penggiat mangrove yang ada di Dusun Bojongsalawe. Pesertanya terdiri dari ibu-ibu dan bapak-bapak yang selama ini sudah memiliki keterlibatan dalam kegiatan penggiatan dan pengelolaan mangrove. Pemilihan kelompok ini dilakukan karena mereka merupakan masyarakat yang paling dekat dengan potensi mangrove yang digunakan dalam kegiatan. Selain itu, kegiatan tersebut memang tidak hanya ditujukan untuk memberikan pengalaman membuat ecoprint kepada masyarakat. Hasil dari kegiatan diharapkan dapat terus dikembangkan oleh anggota kelompok menjadi produk yang memiliki nilai jual. Dengan memilih kelompok penggiat mangrove sebagai sasaran, keberlanjutan dari hasil kegiatan juga diharapkan dapat lebih mudah dilakukan setelah KKN Kelompok 127 selesai melaksanakan programnya.

Proses pembuatan ecoprint berlangsung dengan lancar dan mendapat respons yang baik dari para peserta. Ibu-ibu dan bapak-bapak yang mengikuti kegiatan tidak hanya menyaksikan proses yang dilakukan, tetapi juga ikut mencoba membuat motif ecoprint secara langsung. Peserta diajak untuk menyiapkan kain dan memilih daun yang akan digunakan sebagai bahan untuk menghasilkan motif. Setiap daun kemudian ditata pada kain sebelum melalui proses pencetakan. Hasil yang muncul dari setiap daun memiliki bentuk dan motif yang berbeda sehingga memberikan karakter tersendiri pada kain. Dari proses tersebut, peserta dapat melihat secara langsung bahwa bahan yang sederhana dan berada di sekitar mereka ternyata dapat diolah menjadi sebuah karya yang menarik.

Pemanfaatan daun mangrove sebagai bahan ecoprint juga menjadi bagian penting dari kegiatan ini karena ingin menunjukkan hubungan antara karya yang dihasilkan dengan identitas daerah. Mangrove merupakan salah satu ciri khas Desa Karangjaladri, terutama di Dusun Bojongsalawe. Karena itu, motif yang dihasilkan dari daun mangrove dapat memberikan karakter yang berbeda dibandingkan ecoprint yang menggunakan tumbuhan dari daerah lain. Kain yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga membawa cerita mengenai potensi alam yang ada di desa. Masyarakat dapat melihat bahwa sesuatu yang tumbuh dan ditemukan di lingkungan mereka dapat menjadi bagian dari sebuah karya. Hal tersebut diharapkan dapat menumbuhkan rasa bahwa potensi lokal juga memiliki nilai yang bisa dikembangkan.

Selain sebagai kegiatan kreatif, ecoprint juga diarahkan untuk membuka peluang pengembangan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau UMKM bagi masyarakat. Anggota kelompok penggiat mangrove nantinya diharapkan dapat mengembangkan hasil ecoprint menjadi berbagai produk yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kelompok. Kain yang dihasilkan dapat digunakan untuk membuat produk fesyen, kerajinan, maupun kebutuhan lainnya. Motif dari daun mangrove dapat menjadi identitas tersendiri yang membedakan produk tersebut dari produk ecoprint lainnya. Jika dikembangkan secara konsisten, produk tersebut berpotensi menjadi salah satu produk khas dari Dusun Bojongsalawe. Dengan demikian, kegiatan ecoprint tidak hanya memberikan keterampilan baru, tetapi juga membuka kemungkinan bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi ekonomi dari lingkungan sekitar.

Menariknya, kegiatan ecoprint ini juga memiliki keterkaitan dengan program kerja mahasiswa KKN dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) yang turut berkolaborasi dalam kegiatan tersebut. Mahasiswa KKN ISBI memiliki program kerja untuk menciptakan sebuah tari khas Desa Karangjaladri. Dalam proses penciptaan tari tersebut, mereka ingin menghadirkan unsur yang benar-benar menggambarkan identitas desa. Identitas tersebut tidak hanya ditampilkan melalui gerakan tari, tetapi juga melalui kostum yang digunakan oleh para penari. Karena itu, muncul gagasan untuk memanfaatkan kain hasil ecoprint sebagai salah satu bagian dari kostum tari. Kolaborasi ini kemudian membuat hasil kegiatan ecoprint memiliki tujuan lain yang berkaitan dengan pengembangan seni dan budaya desa.

Penggunaan kain ecoprint sebagai bagian dari kostum tari diharapkan dapat memberikan ciri khas tersendiri pada karya tari yang sedang diciptakan. Motif yang berasal dari daun mangrove secara tidak langsung membawa unsur lingkungan Desa Karangjaladri ke dalam sebuah pertunjukan seni. Hal tersebut membuat hubungan antara alam dan budaya menjadi lebih terlihat. Tari yang diciptakan oleh mahasiswa ISBI tidak hanya menjadi sebuah karya seni, tetapi juga dapat membawa cerita tentang daerah tempat tari tersebut lahir. Begitu juga dengan kain ecoprint yang tidak hanya menjadi kain bermotif, tetapi dapat memiliki fungsi dan cerita ketika digunakan sebagai kostum. Kolaborasi ini menjadi salah satu bentuk bagaimana satu potensi lokal dapat dikembangkan melalui bidang yang berbeda.

Bagi KKN Desa Karangjaladri Kelompok 127 UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, kolaborasi tersebut juga memberikan pengalaman bahwa program kerja dapat dikembangkan dengan melibatkan pihak lain yang memiliki tujuan serupa. Kegiatan ecoprint yang awalnya berfokus pada pemanfaatan mangrove kemudian dapat terhubung dengan program seni dan budaya yang dilakukan oleh mahasiswa ISBI. Sementara itu, kelompok penggiat mangrove mendapatkan pengalaman baru dalam mengolah salah satu potensi yang berada di sekitar mereka. Masing-masing pihak membawa peran yang berbeda, tetapi dapat saling melengkapi dalam menghasilkan sebuah karya. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan potensi desa tidak harus dilakukan melalui satu bidang saja. Lingkungan, kreativitas, ekonomi, dan budaya dapat berjalan bersama ketika terdapat ruang untuk berkolaborasi.

Kegiatan tersebut juga menjadi salah satu cara untuk melihat potensi mangrove dari sudut pandang yang lebih luas. Mangrove memang memiliki fungsi penting bagi lingkungan, tetapi keberadaannya juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat untuk menciptakan berbagai karya. Pemanfaatannya sebagai bahan ecoprint memberikan alternatif kegiatan yang dapat dilakukan tanpa menghilangkan nilai utama mangrove sebagai bagian dari ekosistem. Justru melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk semakin mengenal potensi yang ada di lingkungan mereka sendiri. Harapannya, semakin banyak masyarakat yang melihat bahwa menjaga mangrove juga dapat berjalan beriringan dengan mengembangkan kreativitas. Dengan begitu, mangrove tidak hanya dipandang sebagai bagian dari lingkungan, tetapi juga sebagai salah satu identitas yang dapat diperkenalkan melalui karya masyarakat.

Ke depan, hasil kegiatan ecoprint diharapkan tidak hanya berhenti sebagai salah satu program kerja KKN Kelompok 127 UIN Saizu Purwokerto. Keterampilan yang telah diperoleh anggota kelompok penggiat mangrove diharapkan dapat terus dicoba dan dikembangkan secara mandiri. Jika dikelola dengan baik, ecoprint mangrove dapat menjadi salah satu produk UMKM yang memiliki ciri khas dari Dusun Bojongsalawe. Produk tersebut juga berpotensi menjadi bagian dari upaya memperkenalkan Desa Karangjaladri kepada masyarakat yang lebih luas. Tentunya untuk sampai pada tahap tersebut diperlukan proses yang bertahap, mulai dari pengembangan motif, pemilihan produk, hingga pemasaran. Namun, kegiatan yang dilakukan bersama KKN Kelompok 127 dapat menjadi langkah awal untuk membuka peluang tersebut.

Di sisi lain, kolaborasi dengan mahasiswa ISBI diharapkan dapat memberikan warna baru dalam pengembangan identitas budaya Desa Karangjaladri. Tari khas desa yang sedang diciptakan dapat menjadi salah satu bentuk pengenalan budaya lokal kepada masyarakat. Penggunaan kain ecoprint mangrove sebagai bagian dari kostum juga diharapkan dapat membuat tari tersebut memiliki identitas yang lebih kuat dan berkaitan langsung dengan karakter desa. Dengan adanya hubungan antara motif kain, mangrove, dan tari, masyarakat dapat memiliki sebuah karya yang lahir dari potensi mereka sendiri. Hal tersebut menjadi harapan agar karya yang dihasilkan tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan KKN, tetapi dapat terus digunakan dan dikembangkan oleh masyarakat. Pada akhirnya, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah kecil dalam memperkenalkan potensi Desa Karangjaladri melalui karya yang dibuat bersama.

Pada akhirnya, ecoprint mangrove bukan hanya tentang mencetak bentuk daun ke atas selembar kain. Di dalamnya terdapat proses untuk mengenalkan potensi lokal, mengembangkan kreativitas masyarakat, membuka peluang UMKM, sekaligus memperkuat identitas budaya Desa Karangjaladri. Kegiatan yang dilakukan oleh KKN Desa Karangjaladri Kelompok 127 UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto bersama kelompok penggiat mangrove menjadi awal untuk mengolah potensi yang selama ini dekat dengan kehidupan masyarakat. Kolaborasi dengan mahasiswa ISBI kemudian memperluas manfaatnya melalui pemanfaatan kain ecoprint sebagai bagian dari kostum tari khas desa. Dari satu daun mangrove, lahir sebuah motif yang kemudian dapat memiliki cerita, fungsi, dan nilai ekonomi. Harapannya, karya tersebut dapat terus berkembang setelah mahasiswa KKN kembali ke kampus dan masyarakat dapat menjadi pihak yang melanjutkan prosesnya. Sebab, ketika potensi alam, kreativitas masyarakat, dan kebudayaan dapat berjalan bersama, sebuah karya tidak hanya menjadi hasil kegiatan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari identitas Desa Karangjaladri.