Konten dari Pengguna

Kartini Tidak Lahir Sekali: Perempuan Hari Ini Juga Berhak Bersuara

Khumaeroh Sastri

Khumaeroh Sastri

Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto yang memiliki minat pada dunia jurnalistik dan penulisan opini sosial.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Khumaeroh Sastri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Perempuan yang Merepresentasikan Keberanian dan Suara Perempuan dalam Memperjuangkan Kesetaraan. Sumber : Generated by Gemini 3 Flash Image-AI Gnerated 2026
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Perempuan yang Merepresentasikan Keberanian dan Suara Perempuan dalam Memperjuangkan Kesetaraan. Sumber : Generated by Gemini 3 Flash Image-AI Gnerated 2026

Setiap tahun, nama Kartini kembali diingat. Sosoknya dipuji sebagai perempuan hebat yang berani melawan batasan zamannya. Banyak orang mengagumi pemikirannya, bahkan menjadikannya simbol perempuan ideal. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: apakah kita benar-benar siap menerima perempuan seperti Kartini di masa sekarang?

Raden Ajeng Kartini bukan hanya perempuan yang cerdas, tetapi juga berani bersuara. Ia mempertanyakan aturan, menolak ketidakadilan, dan tidak takut menyampaikan pikirannya. Pada masanya, sikap itu bukan hal yang mudah. Bahkan hari ini pun, keberanian seperti itu masih sering dianggap berlebihan.

Banyak perempuan di Indonesia tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan berani. Mereka menyuarakan pendapat, menolak direndahkan, dan memperjuangkan haknya. Dalam banyak hal, mereka adalah Kartini-Kartini masa kini. Namun sayangnya, tidak semua orang siap menerima mereka.

Perempuan yang vokal sering kali dicap terlalu keras, terlalu emosional, atau tidak tahu diri. Bukan karena apa yang mereka katakan salah, tetapi karena mereka berani mengatakannya. Seolah-olah perempuan hanya boleh hebat selama mereka tetap diam dan tidak mengganggu kenyamanan orang lain.

Di sinilah ironi itu muncul. Kita memuji Kartini sebagai simbol keberanian, tetapi justru merasa tidak nyaman ketika melihat keberanian yang sama pada perempuan hari ini. Kita mengagungkan sejarahnya, tetapi belum sepenuhnya menerima realitas yang ia perjuangkan.

Lebih dari itu, ruang aman bagi perempuan untuk bersuara masih sangat terbatas. Banyak perempuan harus berpikir dua kali sebelum berbicara, takut akan penilaian, cibiran, bahkan serangan personal. Di ruang digital maupun dunia nyata, keberanian sering kali dibalas dengan pembungkaman.

Tidak sedikit perempuan yang akhirnya memilih diam, bukan karena mereka tidak punya pendapat, tetapi karena lelah menghadapi respons yang merendahkan. Ketika suara mereka terus dipatahkan, rasa aman perlahan hilang. Padahal, ruang aman adalah hal mendasar yang seharusnya dimiliki setiap individu, tanpa terkecuali.

Ironisnya, yang sering diserang bukan hanya argumen perempuan, tetapi juga pribadinya. Cara bicara, penampilan, bahkan kehidupan pribadi dijadikan bahan untuk menjatuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada isi suara mereka, melainkan pada keberanian mereka untuk bersuara.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka semangat Kartini hanya akan berhenti sebagai cerita masa lalu. Kita akan terus mengenangnya sebagai pahlawan, tetapi gagal meneruskan perjuangannya. Padahal, esensi dari perjuangan itu adalah keberanian untuk berpikir dan bersuara secara bebas.

Seharusnya, jika kita benar-benar menghargai Kartini, kita tidak hanya memujinya dalam kata-kata. Kita juga harus menciptakan lingkungan yang mendukung perempuan untuk tumbuh dan berbicara. Memberikan ruang aman, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menghargai keberanian mereka sebagai sesuatu yang wajar.

Perempuan tidak meminta untuk diistimewakan. Mereka hanya ingin didengar tanpa harus takut dibungkam. Mereka ingin menjadi kuat tanpa harus dicap berlebihan, dan ingin bersuara tanpa kehilangan rasa aman dalam prosesnya.

Jadi, jika hari ini masih ada yang merasa terganggu dengan perempuan yang lantang, mungkin yang perlu dipertanyakan bukanlah suara perempuan itu. Melainkan, mengapa keberanian perempuan masih dianggap sebagai ancaman.

Karena pada akhirnya, Kartini tidak pernah benar-benar hilang. Ia hidup dalam setiap perempuan yang berani berpikir, bersuara, dan melawan ketidakadilan. Pertanyaannya, apakah kita siap menerimanya?