Konten dari Pengguna

Ferienjob Jerman: Program Magang Berujung Eksploitasi Mahasiswa Indonesia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Khusna Safira Tafrikhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi mayoritas mahasiswa, bekerja atau magang di luar negeri sering dianggap sebagai kesempatan langka. Selain bisa mendapatkan pengalaman internasional, program semacam ini juga menjanjikan penghasilan, kemandirian, dan nilai tambah bagi masa depan akademik maupun karier. Tidak heran jika tawaran kerja sementara di negara maju seperti Jerman menarik minat besar mahasiswa Indonesia. Namun, pengalaman sejumlah mahasiswa menunjukkan bahwa tidak semua program luar negeri berjalan sesuai dengan gambaran ideal tersebut. Salah satu program tersebut adalah Ferienjob di Jerman, yang pada periode Oktober–Desember 2023 diikuti oleh sekitar 1.047 mahasiswa dari 33 universitas di Indonesia. Program ini diperkenalkan sebagai kerja sementara selama libur semester dengan janji upah yang cukup tinggi dan pengakuan akademik melalui konversi hingga 20 SKS.

image by https://www.freepik.com/free-photo/medium-shot-carpenter-working-with-wooden-plank-workshop_5699120.htm#fromView=search&page=1&position=1&uuid=a2b9c824-2d25-4d97-9cef-7ab3ebf538b7&query=Mahasiswa+kerja+di+pabrik
zoom-in-whitePerbesar
image by https://www.freepik.com/free-photo/medium-shot-carpenter-working-with-wooden-plank-workshop_5699120.htm#fromView=search&page=1&position=1&uuid=a2b9c824-2d25-4d97-9cef-7ab3ebf538b7&query=Mahasiswa+kerja+di+pabrik

Namun, pengalaman sejumlah mahasiswa menunjukkan bahwa pelaksanaan program tersebut tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan awal. Untuk memahami hal ini, penting melihat kondisi di negara tujuan. Jerman saat ini menghadapi kekurangan tenaga kerja akibat penuaan penduduk dan berkurangnya jumlah usia produktif. Diperkirakan, Jerman membutuhkan 288.000 hingga 400.000 pekerja migran setiap tahun agar perekonomian tetap berjalan stabil. Dalam situasi tersebut, mahasiswa, termasuk mahasiswa asing, menjadi salah satu kelompok yang mengisi kebutuhan kerja jangka pendek, terutama di sektor pekerjaan fisik.

Secara aturan, Ferienjob adalah program kerja sementara, bukan magang akademik. Program ini hanya boleh dilakukan saat libur semester resmi dengan durasi maksimal 90 hari dan tidak berkaitan dengan kegiatan perkuliahan. Jenis pekerjaan yang ditawarkan umumnya meliputi pekerjaan logistik, pergudangan, restoran, atau sektor layanan lain yang membutuhkan tenaga fisik. Meski sah secara hukum di Jerman, program ini menjadi persoalan ketika dipromosikan sebagai bagian dari kegiatan akademik.

Sejak awal, mahasiswa harus menanggung berbagai biaya, mulai dari pendaftaran, pengurusan dokumen, visa, asuransi, hingga tiket pesawat. Total biaya yang dikeluarkan mencapai puluhan juta rupiah. Bagi mahasiswa yang kesulitan membayar, disediakan skema dana talangan dengan nilai rata-rata 350 euro, bahkan dalam beberapa kasus mencapai 50 juta Rupiah. Harapannya, biaya tersebut dapat ditutup dari penghasilan selama bekerja di Jerman.

Ilustrasi Bendera Jerman dan Indonesia (dokumentasi pribadi)

Setibanya di lokasi, tidak semua mahasiswa langsung mendapatkan pekerjaan. Sebagian harus menunggu beberapa hari hingga satu bulan, tanpa kepastian pendapatan. Saat mulai bekerja, mahasiswa ditempatkan pada pekerjaan fisik berat dengan jam kerja panjang. Upah yang diterima juga dipotong untuk biaya akomodasi sekitar 17–20 euro per hari, serta sejumlah biaya tambahan lainnya. Kondisi tempat tinggal yang disediakan umumnya sederhana dan dihuni bersama banyak orang.

Tantangan lain muncul dari keterbatasan bahasa. Banyak mahasiswa kesulitan memahami kontrak kerja yang ditulis dalam bahasa Jerman serta aturan ketenagakerjaan setempat. Hal ini membuat mereka sulit menyampaikan keluhan atau mencari bantuan ketika menghadapi masalah di tempat kerja. Akses terhadap layanan kesehatan pun terbatas karena mahasiswa hanya memiliki asuransi perjalanan, bukan asuransi kesehatan kerja.

Pengalaman para peserta Ferienjob ini menunjukkan bahwa program kerja luar negeri memerlukan informasi yang jelas, transparansi, dan pendampingan yang memadai. Mahasiswa perlu memahami secara utuh perbedaan antara magang akademik dan kerja sementara, termasuk risiko yang mungkin dihadapi. Di sisi lain, kerja sama internasional di bidang pendidikan perlu dijalankan dengan prinsip kehati-hatian agar tujuan memperkaya pengalaman belajar tidak justru menimbulkan beban baru bagi mahasiswa.