Konten dari Pengguna

Sihir Otak atau Realitas? di Balik Pengalaman Tak Logis [Seri 3/3]

Khusnul Adim

Khusnul Adim

Mahasiswa Teknik elektro Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Khusnul Adim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Ilusrasi dibuat menggunakan AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilusrasi dibuat menggunakan AI

déjà vu, déjà rêvé, hingga "firasat" mendalam yang tak logis sering kali dengan cepat dilabeli sebagai fenomena mistis, kegaiban, atau pertanda supranatural. Namun, jika kita membedahnya melalui kacamata neurosains dan fisika kuantum modern, batas antara apa yang kita sebut "sihir" dan mekanisme realitas ternyata jauh lebih tipis—sekaligus lebih menakjubkan—daripada yang kita bayangkan.

Pernahkah kamu berada di sebuah tempat yang baru pertama kali kamu kunjungi, namun mendadak diselimuti perasaan kuat bahwa kamu pernah berdiri di titik yang sama persis? Atau mungkin, kamu pernah merasakan intuisi yang sangat spesifik mengenai sebuah peristiwa, lalu beberapa saat kemudian hal tersebut benar-benar terjadi di depan matamu? Serta apakah kamu seringkali merasa seperti sudah pernah di momen yang sama persis dengan yang kamu alami saat ini? Tapi kamu tidak dapat memastikan kapan dan apakah momen tersebut benar-benar pernah terjadi.

Otak Sebagai Mesin Prediksi (Predictive engine)

Secara konvensional, banyak orang menganggap otak manusia bekerja seperti kamera video yang merekam dunia luar secara objektif. Namun, temuan neurosains modern membantah anggapan tersebut.

Dalam bukunya Being You: A New Science of Consciousness, neurosaintis Anil Seth (2021) menjelaskan bahwa otak manusia pada dasarnya adalah sebuah "mesin prediksi" (predictive engine). Otak berada di dalam tempurung kepala yang gelap dan kedap, sehingga ia tidak pernah menyentuh dunia luar secara langsung. Ia hanya menerima sinyal-sinyal listrik terbatas dari indra, lalu secara aktif mengonstruksi atau "meramal" apa yang sedang terjadi di luar sana.

Lantas, dari mana datangnya sensasi aneh seperti déjà vu? Ketika terjadi penundaan mikroskopis dalam pengiriman sinyal saraf di lobus temporal—walau hanya dalam hitungan milidetik—mekanisme prediksi otak mengalami mismatch. Otak secara keliru memproses pengalaman masa kini melalui jalur memori masa lalu, sehingga menciptakan ilusi bahwa peristiwa yang baru saja terjadi seolah-olah sudah pernah kita alami sebelumnya. Dalam sudut pandang ini, apa yang terasa seperti "firasat" sering kali merupakan hasil kalkulasi subliminal otak yang memproses ribuan pola data tanpa kita sadari.

Getaran Kuantum di Celah Sel Saraf

Pertanyaannya, apakah seluruh pengalaman tak logis tersebut murni merupakan kekeliruan sinyal biologis semata? Atau ada lapisan realitas lain yang ikut berperan?

Di titik inilah fisika kuantum memberikan sudut pandang yang lebih mendalam. Dalam riset monumental mengenai kesadaran manusia, Stuart Hameroff dan fisikawan pemenang Nobel Roger Penrose (2014) mengajukan teori Orchestrated Objective Reduction (Orch-OR). Mereka berargumen bahwa proses kesadaran manusia tidak sekadar impuls listrik antar-neuron biasa, melainkan berakar dari getaran kuantum di dalam mikrotubulus—struktur protein mikroskopis di dalam sel otak.

Jika teori ini ditarik lebih jauh, otak manusia pada dasarnya berfungsi sebagai filter atau pemancar yang sangat selektif. Indra biologis kita dirancang hanya untuk menangkap kurang dari 1% spektrum elektromagnetik di alam semesta demi menjaga manusia agar tidak mengalami kelebihan beban informasi (information overload). Namun, dalam kondisi mental tertentu—seperti saat meditasi mendalam, mimpi, atau ketika filter persepsi otak sedikit melonggar—kesadaran kita mungkin secara tidak sadar mampu berinteraksi dengan jalinan informasi kuantum di tingkat subatomik.

Menyambung Benang Merah Realitas

Jika pada Seri 1 (Tabir Gaib VS Realitas) kita mengeksplorasi potensi entitas di celah kuantum dan pada Seri 2 (Menembus Batas Tak Kasat Mata) kita menelusuri kemungkinan dimensi paralel (multiverse), maka Seri 3 ini menjadi simpul penutupnya. Fenomena tak logis yang kita rasakan bukanlah bukti bahwa dunia ini magis dalam artian "mistis" kaku, tetapi bukti betapa luas spektrum realitas yang belum sepenuhnya terjangkau oleh instrumen pengukuran manusia pada saat ini.

Memahami mekanisme otak dan fisika kuantum tidak lantas meruntuhkan rasa kagum kita terhadap kehidupan. Justru sebaliknya, pengetahuan ini memperlihatkan betapa megahnya jalinan antara otak, kesadaran, dan alam semesta. Apa yang dahulu dianggap sebagai "sihir" sering kali hanyalah sains yang belum menemukan alat ukurnya secara utuh. Dengan tetap berpijak pada rasionalitas dan metode ilmiah, kita bisa terus menjelajahi batas-batas pengetahuan tanpa pernah kehilangan rasa takjub terhadap misteri keberadaan kita.

"Any sufficiently advanced technology is indistinguishable from magic."

— Arthur C. Clarke

Referensi:

Brown, A. S. (2003). A Review of the Déjà Vu Experience. Psychological Bulletin, 129(3), 394–413.

Hameroff, S., & Penrose, R. (2014). Consciousness in the universe: A review of the 'Orch OR' theory. Physics of Life Reviews, 11(1), 39–78.

Seth, A. (2021). Being You: A New Science of Consciousness. Dutton.