Rencana Bisnis Tanpa Perencanaan SDM Hanyalah Target di Atas Kertas

Mahasiswa Aktif Universitas Pamulang Program Studi Manajemen S1.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Bintang Putra Haryanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah perusahaan menargetkan pertumbuhan penjualan 30 persen tahun depan. Strategi pemasaran sudah rapi, anggaran sudah disetujui, dan lokasi cabang baru sudah dipilih. Lalu seseorang bertanya, “Siapa yang akan mengerjakan semua ini?” Ruang rapat mendadak hening. Saya berpendapat bahwa analisis permintaan SDM harus menjadi bagian utama dari setiap rencana bisnis, bukan urusan administrasi yang dikerjakan setelah target ditetapkan.
Analisis permintaan SDM adalah proses memperkirakan jumlah, jenis, kompetensi, dan waktu kebutuhan tenaga kerja organisasi di masa depan. Intinya sederhana: berapa orang yang dibutuhkan, dengan keahlian apa, kapan, dan di bagian mana. Dengan kata lain, analisis ini menerjemahkan target bisnis menjadi kebutuhan tenaga kerja yang konkret. Pertanyaan itu terlalu penting untuk baru dijawab setelah strategi selesai disusun.
Target Bisnis Selalu Berujung pada Kebutuhan Orang
Setiap target bisnis pada akhirnya diterjemahkan menjadi pekerjaan, dan pekerjaan dikerjakan oleh manusia. Peningkatan produksi 30 persen atau pembukaan cabang baru tidak mungkin dijalankan dengan jumlah karyawan yang sama. Perusahaan akan membutuhkan lebih banyak tenaga operasional, supervisor, staf pemasaran, hingga personel administrasi. Tanpa proyeksi, perusahaan berisiko kekurangan orang justru ketika bisnisnya sedang tumbuh.
Arah strategi juga menentukan jenis orang yang dibutuhkan. Perusahaan yang masuk ke pasar digital memerlukan ahli pemasaran digital, analis data, dan tenaga teknologi informasi. Ekspansi ke cabang fisik lebih menuntut tenaga lapangan, staf operasional, dan manajer cabang. Meleset dalam membaca kebutuhan kompetensi berarti perusahaan merekrut orang yang salah untuk strategi yang benar. Karena itu, analisis permintaan SDM harus memperhitungkan pertumbuhan bisnis, perkembangan teknologi, dan perubahan pasar.
Terakhir, ada soal waktu dan biaya. Seleksi, orientasi, dan pelatihan memakan waktu, sehingga merekrut ketika proyek sudah berjalan hampir pasti terlambat. Jika cabang baru dijadwalkan buka awal tahun, perencanaan rekrutmen dan pelatihan harus dimulai jauh sebelumnya. Keterlambatan itu menunda layanan, menurunkan kualitas kerja, dan membebani karyawan lama.
Penambahan orang juga berarti tambahan gaji, pelatihan, dan tunjangan. Oleh karena itu, tim SDM perlu memahami batas anggaran dan memilih strategi yang tepat, baik melalui karyawan tetap, tenaga kontrak, kerja fleksibel, maupun pengembangan karyawan yang sudah ada.
SDM Bukan Pelengkap, Melainkan Penentu
Masalahnya, banyak organisasi masih memperlakukan SDM sebagai pelengkap. Target ditetapkan lebih dulu, lalu tim SDM diminta “mencari orangnya”. Padahal, ketersediaan orang yang tepat sering kali menentukan apakah sebuah target realistis atau tidak. Dalam arti ini, SDM bukan hanya penerima strategi, melainkan juga batas dan penentu strategi itu sendiri. Target ekspansi yang tidak didukung tenaga kerja berkompetensi hanyalah angka yang indah di presentasi.
Hubungan antara rencana bisnis dan analisis permintaan SDM sebenarnya berjalan dua arah. Rencana bisnis menentukan kebutuhan tenaga kerja, tetapi hasil analisis permintaan SDM juga menjadi masukan bagi manajemen untuk menilai apakah target tersebut realistis, terlalu ambisius, atau perlu disesuaikan dengan ketersediaan dan kompetensi karyawan. Dengan demikian, SDM bukan hanya mengikuti rencana bisnis, melainkan ikut memastikan rencana itu dapat dijalankan.
Kesenjangan keterampilan bukan ancaman hipotesis. Survei McKinsey Global Survey (2020) menunjukkan bahwa 87 persen eksekutif dan manajer responden menyatakan organisasi mereka sudah mengalami kesenjangan keterampilan atau memperkirakannya muncul dalam lima tahun ke depan. Artinya, mengandalkan target bisnis tanpa menyiapkan kompetensi pelaksananya adalah taruhan yang kalah sebelum dimulai.
Bayangkan hotel yang akan membuka cabang baru. Manajemen sibuk dengan renovasi gedung dan target okupansi, tetapi belum menghitung jumlah staf front office, housekeeping, dan food and beverage, apalagi melatih mereka melayani tamu. Tamu tetap datang, tetapi antrean panjang, kamar terlambat dibersihkan, dan ulasan buruk bermunculan. Ekspansi yang seharusnya menjadi peluang berubah menjadi kerusakan reputasi. Modal besar dan teknologi canggih tidak menolong tanpa orang yang tepat, dengan kompetensi yang tepat, pada waktu yang tepat.
Menjawab Keberatan
Sebagian orang akan berkata bahwa perencanaan SDM terlalu mahal dan lambat. Memang, ia menuntut waktu, biaya, dan koordinasi lintas divisi. Namun, biaya itu kecil dibandingkan kerugian akibat keterlambatan operasional, turunnya kualitas layanan, atau gagalnya ekspansi.
Keberatan lain: tidak semua perusahaan punya data tenaga kerja lengkap atau kemampuan meramal secara akurat. Itu benar, tetapi ketiadaan data sempurna bukan alasan menunda. Perusahaan bisa mulai dari proyeksi sederhana berdasarkan target bisnis, beban kerja, dan kapasitas tim saat ini, lalu menyempurnakannya seiring waktu.
Keberatan ketiga: bisnis berubah begitu cepat sehingga proyeksi cepat usang. Justru karena itu, analisis permintaan SDM harus ditinjau ulang setiap kali rencana bisnis berubah. Perusahaan yang tumbuh mungkin perlu menambah tenaga kerja, sedangkan yang melambat perlu menata struktur dan memanfaatkan karyawan secara lebih efisien. Bagi UMKM yang tidak punya tim SDM khusus, pemiliknya tetap bisa melakukannya dengan pertanyaan yang sama, hanya dalam skala lebih kecil.
Mulai dari Satu Langkah Sederhana
Langkah pertamanya tidak rumit. Libatkan tim SDM sejak target bisnis dirumuskan, bukan setelah selesai. Untuk setiap target, tuliskan tiga hal: berapa orang yang dibutuhkan, kompetensi apa yang harus ada, dan kapan mereka harus siap. Bandingkan dengan kondisi tenaga kerja saat ini, lalu tentukan cara menutup selisihnya.
Rencana bisnis memberi arah dan skala, sedangkan analisis permintaan SDM mengubahnya menjadi kebutuhan yang nyata. Bisnis yang kuat tidak hanya dibangun oleh strategi yang baik, tetapi juga oleh manusia yang siap menjalankannya. Sebelum menetapkan target berikutnya, tanyakan lebih dulu: siapa yang akan mengerjakannya?
