Konten dari Pengguna

Perempuan Kepala Keluarga: Media, Patriarki, dan Perjuangan Kesetaraan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kiki Ameliaputri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber gambar: Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI (ChatGPT/DALL·E, OpenAI).
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar: Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI (ChatGPT/DALL·E, OpenAI).

Peran perempuan sebagai kepala keluarga masih sering dipinggirkan dalam berbagai narasi media yang sarat dengan pandangan patriarki. Media massa, melalui tayangan, berita, maupun iklan, sering menggambarkan sosok laki-laki sebagai pemimpin utama dalam keluarga, sementara perempuan cenderung diposisikan sebagai figur pendukung. Namun, seiring perubahan sosial dan bertambahnya perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga, perlahan-lahan muncul representasi perempuan tangguh, mandiri, dan berdaya dalam media. Representasi ini menantang narasi tradisional dengan menampilkan perempuan yang mampu menentukan arah, mengambil keputusan penting, serta menjalankan peran sebagai pemimpin keluarga tanpa bergantung pada laki-laki.

Keberanian media yang mengangkat sosok perempuan kepala keluarga membawa dampak signifikan terhadap persepsi masyarakat. Media memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik, sehingga menggambarkan perempuan yang berdaya dapat menjadi inspirasi sekaligus membuka ruang diskusi mengenai kesetaraan gender. Meski belum sepenuhnya merata, mulai bermunculan kisah-kisah perempuan kepala keluarga yang sukses membesarkan anak, menata ekonomi keluarga, dan berperan aktif dalam komunitas. Narasi ini menampilkan bahwa kepemimpinan perempuan dalam keluarga bukan lagi sekedar pilihan, melainkan kenyataan yang perlu diakui dan didukung oleh masyarakat luas.

Sayangnya, tantangan tetap muncul dari dominasi nilai patriarki yang masih kuat dalam budaya dan struktur sosial Indonesia. Banyak perempuan kepala keluarga yang masih menghadapi stigma, diskriminasi, dan keterbatasan akses terhadap sumber daya. Media, dengan kekuatan framing dan agenda setting-nya, memainkan peran penting: jika media terus menyoroti keunggulan, keuletan, dan kepemimpinan perempuan kepala keluarga, maka masyarakat akan semakin terbuka terhadap perubahan nilai-nilai tradisional yang kurang relevan dengan perkembangan zaman.

Menolak patriarki dalam narasi media tidak hanya berarti memberi ruang bagi perempuan untuk tampil sebagai kepala keluarga, tetapi juga mengajak masyarakat untuk memahami dan mendukung nyata peran mereka. Media diharapkan mampu melakukan perubahan sosial dengan membangun narasi yang adil, seimbang, dan inklusif. Dengan demikian, representasi perempuan sebagai kepala keluarga dapat memperkuat upaya menuju keluarga dan masyarakat yang setara, tangguh, serta bebas dari dominasi patriarki yang membatasi potensi perempuan.