Konten dari Pengguna

Mengelola Kinerja Tim Kecil Tanpa Rasa Canggung dan Drama

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kina Adistia Fraulina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Keberhasilan Kinerja Tim Kecil. Sumber: Unsplash/Vitaly Gariev
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Keberhasilan Kinerja Tim Kecil. Sumber: Unsplash/Vitaly Gariev

Jujur saja, siapa yang tidak merasa canggung saat harus menilai kinerja atau menegur teman sendiri dalam satu kelompok? Di satu sisi, kita ingin tugas selesai dengan hasil yang memuaskan. Namun di sisi lain, ada perasaan tidak enak, takut dikira sok tahu, takut dibilang mencari-cari kesalahan, atau takut merusak pertemanan yang sudah terjalin. Dilema semacam ini hampir selalu mampir, baik saat kita mengerjakan tugas kuliah maupun saat menghadapi proyek tim di dunia kerja.

Padahal, jika ditarik ke dalam konsep manajemen kinerja, proses saling memberi masukan sebenarnya jauh dari kesan menghakimi. Manajemen kinerja itu ibarat kompas yang menuntun arah kerja tim agar tetap sehat, transparan, dan tidak jalan di tempat. Aktivitas ini bukan sekadar formalitas ngisi lembar penilaian di ujung tenggat waktu, melainkan bentuk komunikasi jujur agar setiap orang di dalam tim punya ruang untuk bertumbuh tanpa menyimpan unek-unek.

Pengalaman seru ini saya rasakan langsung saat berkolaborasi dengan Astuti Kelian dan Siham Ikbar Aushaf. Dalam dinamika kerja kami, kedua rekan ini menunjukkan bagaimana proses evaluasi dan umpan balik (feedback) bisa mengalir begitu natural tanpa memicu ketegangan.

Astuti Kelian punya kebiasaan yang sangat hidup dalam menghidupkan diskusi. Ia selalu sigap melempar ide-ide segar dan memberikan masukan yang membangun. Setiap kali kami berkumpul, Astuti tidak pelit gagasan untuk menyumbangkan ide-ide baru yang memperkaya sudut pandang tugas kami dan membuat arah tugas menarik. Menariknya lagi, saat ada draf atau bagian tugas yang perlu dibenahi, ia menyampaikannya secara spesifik dan pas pada waktunya. Gaya komunikasi Astuti yang fokus pada solusi nyata ini benar-benar mencerminkan prinsip umpan balik yang efektif, di mana masukan yang jelas justru memantik kreativitas sekaligus menjaga kualitas hasil kerja.

Di sisi lain, Siham Ikbar Aushaf hadir sebagai penyeimbang yang menjaga komunikasi dua arah tetap hidup. Kehadirannya seperti penjelas yang memastikan seluruh rencana kelompok tetap terarah dan berjalan sesuai jalur. Ia telaten memantau progres tugas, menandai bagian-bagian yang masih longgar, lalu mengajak kami berdiskusi dengan santai tanpa kesan menggurui. Lewat keterbukaan dan gaya bicaranya yang hangat, Siham berhasil menciptakan ruang aman bagi kami untuk berpendapat tanpa takut salah paham.

Jika disandingkan dengan pendekatan Competency by Objective (CBO), kolaborasi kami bertiga menciptakan harmoni yang pas. CBO mengingatkan kita bahwa kesuksesan sebuah tim tidak melulu diukur dari lembar hasil akhir yang selesai tepat waktu, melainkan dari proses, cara bersikap, dan bagaimana setiap orang mengasah kompetensinya di sepanjang jalan. Kehadiran Astuti yang kaya inspirasi serta Siham yang jeli mengevaluasi menyadarkan saya bahwa menilai rekan sejawat bukanlah ajang mencari celah, melainkan bentuk kepedulian profesional agar kita sama-sama naik kelas.

Pada akhirnya, merawat kinerja dalam tim kecil tidak butuh formula yang kaku. Kuncinya sederhana saja: keterbukaan, rasa saling percaya, dan niat tulus untuk saling menguatkan. Ketika evaluasi dibungkus dengan semangat bertumbuh bersama, kerja kelompok bukan lagi momok yang mencairkan keakraban, melainkan tempat paling seru untuk belajar memaknai arti kerja sama.