Konten dari Pengguna

Dua Wanita Di Balik Kaca

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kinanti Dyah Palupi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kyle dalam pantulan cermin https://images.pexels.com/photos/32207316/pexels-photo-32207316.jpeg
zoom-in-whitePerbesar
Kyle dalam pantulan cermin https://images.pexels.com/photos/32207316/pexels-photo-32207316.jpeg

Kamar itu selalu senyap selepas pukul dua dini hari. Hanya ada suara detak jam dinding yang monoton dan helaan napas Kyle yang berat. Di sudut ruangan, berdiri sebuah cermin besar dengan bingkai kayu yang mulai merapuh. Cermin yang bertahun-tahun menjadi saksi bisu bagaimana Kyle tumbuh, runtuh, dan mencoba utuh kembali.

Kyle berjalan mendekat, menyeret kakinya yang terasa lelah oleh beban hari itu. Di depannya, di dalam pantulan kaca yang jernih, berdiri seorang wanita.

Wanita di dalam cermin itu memeiliki mata yang sama sembabnya, rambut yang sama berantakannya, dan bahu yang sama turunnya. Namaun bagi Kyle, wanita di dalam kaca itu sering kali terasa seperti orang asing yang menghakiminya.

“Kau tampak menyedihkan hari ini,” bisik Kyle, menyentuh permukaan kaca yang dingin.

Wanita di dalam cermin tidak menjawab, namun tatapannya seolah menguliti semua rahasia yang Kyle sembunyikan dari dunia luar. Di depan orang lain, Kyle adalah tawa yang renyah, pundak yang siap bersandar, dan manusia yang "baik-baik saja". Namun di depan cermin ini, topeng itu leleh tak bersisa.

Kyle menatap lekat-lekat garis-garis halus di bawah matanya. "Kenapa kau selalu menuntut banyak hal dariku? Kenapa kau tak pernah puas?" tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang bergetar. Rasa bersalah dan benci pada diri sendiri yang selama ini ia pendam mendadak menyeruak. Ia benci betapa rapuhnya ia di dalam cermin itu.

Namun, semakin Kyle menatap, semakin ia menyadari sesuatu. Wanita di dalam cermin tidak sedang menghakiminya dengan kejam. Tatapan itu bukan tatapan benci, melainkan tatapan lelah yang meminta pertolongan. Wanita di balik kaca itu adalah bagian dari dirinya yang selama ini ia abaikan, ia paksa untuk kuat, dan ia hukum setiap kali melakukan kesalahan.

“Maaf,” lirih Kyle. Air matanya akhirnya luruh, membasahi pipi. “Maaf karena aku sering membencimu. Maaf karena aku selalu memaksamu menjadi sempurna.”

Ajaibnya, saat Kyle mulai menangis dan menerima kerapuhannya, wanita di dalam cermin seolah melunak. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang sarat akan pengertian. Senyuman yang seolah berkata, Tidak apa-apa. Kita sudah berjuang sejauh ini.

Kyle menyandarkan dahinya ke permukaan cermin yang dingin. Bagai menyatukan dua jiwa yang sempat berselisih. Rasa dingin dari kaca itu perlahan menghangat, berpadu dengan napasnya yang mulai teratur.

Malam itu, Kyle tidak lagi melihat cermin sebagai musuh yang menampilkan kekurangannya. Cermin itu adalah rumah. Tempat ia pulang untuk memeluk dirinya sendiri yang paling jujur, sebelum besok kembali menghadapi dunia dengan senyuman yang baru.