Seporsi Mie Ayam dan Alasan untuk Tetap Bertahan Hidup Hari Ini

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Kinanti Dyah Palupi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu berada di titik di mana semuanya terasa begitu melelahkan? Merasa asing di tengah keramaian, hingga rasanya ingin menyerah saja pada keadaan?
Rasa hampa dan lelah yang mendalam itulah yang digambarkan secara jujur dalam novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna. Lewat kisah seorang pria bernama Ale yang berjuang di tengah depresi berat, kita seolah diajak melihat cermin tentang betapa pekatnya rasa sepi ketika seseorang merasa tak lagi punya tempat di dunia.
Lelah dengan segala tekanan, niat untuk mengakhiri hidup dalam kurun waktu 24 jam pun muncul. Namun, takdir rupanya punya cara yang teramat unik untuk menunda hal itu. Semua berawal dari petunjuk sepele di botol obat yang menyuruh untuk makan terlebih dahulu. Keputusan untuk menikmati makanan favorit untuk terakhir kali membawa langkah kaki pergi mencari seporsi mie ayam langganan.
Siapa sangka, warung mie ayam itu justru tutup karena penjualnya telah meninggal dunia. Kegagalan kecil ini malah memicu perjalanan tak terduga di jalanan, bertemu dengan orang-orang biasa, dari pedagang hingga masyarakat pinggiran. Lewat obrolan sederhana dan kehangatan dari orang-orang tak dikenal itulah, rasa dimanusiakan yang sempat hilang perlahan-lahan datang kembali.
Cerita ini membuat kita sadar bahwa alasan untuk tetap bertahan hidup sebenarnya tidak perlu selalu muluk-muluk. Kita sering kali menuntut diri sendiri untuk punya pencapaian besar, karier cemerlang, atau impian megah agar merasa "layak" untuk terus melangkah. Padahal, hidup tidak selamanya harus seberat itu.
Kisah dari semangkuk mie ayam ini mengingatkan bahwa harapan sering kali bersembunyi di hal-hal paling sederhana di sekitar kita. Kadang kala, alasan untuk bertahan satu hari lagi cukup sesederhana ingin menyantap makanan favorit besok siang, menikmati mangkuk mie hangat saat hujan turun, atau sekadar memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk bernapas lega.
Interaksi singkat dengan orang-orang sederhana di jalanan membuktikan satu hal: di balik kerasnya dunia dan riuhnya kota, kepedulian kecil antarmanusia itu masih ada dan sanggup menghangatkan hati yang sedang patah.
Untuk siapa pun yang hari ini sedang merasa lelah, kehilangan arah, atau merasa melangkah sendirian: tidak apa-apa untuk berhenti sejenak. Cerita ini hadir sebagai pengingat pelan bahwa selalu ada alasan kecil untuk melanjutkan hari—dan terkadang, alasan sederhana itu sudah lebih dari cukup.
