Kita Tak Selalu Butuh Gelar Baru, Kadang Kita Butuh Skill Baru

saya saat ini seorang mahasiswa semester 6 jurusan pendidikan Ekonomi di universitas pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Kinanti Dyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada masa ketika kita merasa bahwa semakin tinggi pendidikan, semakin dekat pula kita dengan kehidupan yang lebih baik.
Lulus sekolah, kuliah. Setelah sarjana, mungkin lanjut magister. Setelah itu, mungkin mengambil sertifikasi atau pendidikan lainnya.
Tidak ada yang salah dengan melanjutkan pendidikan.
Namun, pernahkah kita berhenti sebentar dan bertanya:
Apakah yang kita butuhkan benar-benar gelar baru, atau sebenarnya kemampuan baru?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika dunia kerja berubah begitu cepat.
Teknologi berkembang, jenis pekerjaan berubah, cara orang berjualan berubah, bahkan cara seseorang mendapatkan penghasilan pun tidak lagi sama seperti beberapa tahun lalu.
Hari ini seseorang bisa bekerja dari kantor. Besok bisa saja bekerja dari rumah. Ada yang menjadi karyawan, freelancer, content creator, reseller, guru les, desainer, atau menjalankan usaha kecil dari kamar sendiri.
Artinya, cara kita membangun kehidupan ekonomi juga semakin beragam.
Gelar Bisa Membuka Pintu, Tapi Skill Membantu Kita Berjalan
Gelar pendidikan memang memiliki nilai.
Dalam banyak pekerjaan, pendidikan formal menjadi salah satu persyaratan untuk masuk ke bidang tertentu. Pendidikan juga memberikan pengetahuan, pola pikir, dan dasar keilmuan.
Tetapi setelah pintu terbuka, kemampuan kita tetap akan digunakan.
Misalnya seseorang memiliki gelar sarjana, tetapi kesulitan berkomunikasi ketika melakukan presentasi.
Ada juga yang memiliki latar belakang pendidikan tertentu, tetapi belum terbiasa menggunakan teknologi yang dibutuhkan dalam pekerjaannya.
Atau seseorang yang memiliki pengetahuan bisnis, tetapi belum bisa mengelola keuangan sederhana ketika benar-benar menjalankan usaha.
Di sinilah skill menjadi penting.
Pengetahuan memberi kita pemahaman. Skill membuat kita mampu menerapkannya.
Keduanya bukan sesuatu yang harus dipertentangkan.
Justru pendidikan dan keterampilan seharusnya saling melengkapi.
Skill Tidak Harus Dimulai dari Sesuatu yang Besar
Kadang kita membayangkan bahwa belajar skill baru harus mengikuti kursus mahal atau membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Padahal, tidak selalu begitu.
Belajar menggunakan Excel dengan lebih baik.
Belajar membuat presentasi yang menarik.
Belajar berbicara di depan orang.
Belajar membuat konten.
Belajar mengelola media sosial.
Belajar membaca laporan keuangan sederhana.
Belajar menggunakan aplikasi digital.
Belajar bahasa asing.
Bahkan belajar mengatur uang sendiri.
Kelihatannya sederhana.
Tetapi jika dilakukan secara konsisten, kemampuan tersebut bisa menjadi modal yang berguna dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari.
Skill kecil yang terus dikembangkan bisa menjadi aset besar ketika digunakan pada waktu yang tepat.
Jangan Sampai Kita Sibuk Mengumpulkan Sertifikat, Tapi Lupa Mengumpulkan Kemampuan
Ada fenomena yang cukup dekat dengan kehidupan anak muda.
Kita senang mengikuti webinar.
Mengikuti seminar.
Mengumpulkan sertifikat.
Mengikuti pelatihan.
Semua itu tentu bisa menjadi pengalaman yang baik.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih penting setelahnya:
"Setelah mengikuti ini, saya sekarang bisa melakukan apa yang sebelumnya belum bisa saya lakukan?"
Kalau jawabannya ada, berarti proses belajar tersebut memberikan sesuatu yang nyata.
Namun jika kita hanya menyimpan sertifikat di folder laptop tanpa pernah menggunakan kemampuan yang dipelajari, manfaat ekonominya mungkin belum terasa.
Karena pada akhirnya, nilai sebuah pembelajaran bukan hanya terletak pada bukti bahwa kita pernah mengikuti prosesnya, tetapi juga pada kemampuan yang benar-benar kita bawa setelah proses tersebut selesai.
Dunia Kerja Tidak Berhenti Menunggu Kita Siap
Masalahnya, perubahan tidak selalu menunggu kita siap.
Teknologi terus berkembang.
Perusahaan mencari kemampuan yang berbeda.
Cara konsumen berbelanja berubah.
Pekerjaan yang dulu dilakukan secara manual mulai menggunakan teknologi.
Bahkan seseorang yang sudah bekerja pun tetap perlu belajar.
Bukan karena dirinya tidak cukup pintar.
Tetapi karena dunia di sekitarnya terus bergerak.
Itulah mengapa pendidikan sebenarnya tidak berhenti ketika seseorang mendapatkan ijazah.
Belajar bisa terjadi ketika bekerja.
Ketika mencoba usaha.
Ketika menghadapi pelanggan.
Ketika gagal melakukan sesuatu.
Ketika harus menggunakan aplikasi baru.
Ketika mencari cara untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Kehidupan sehari-hari sebenarnya penuh dengan proses pendidikan.
Skill Adalah Tentang Memperbanyak Pilihan
Bayangkan kita memiliki satu kemampuan.
Kita hanya bisa melakukan satu jenis pekerjaan.
Kemudian keadaan berubah.
Pekerjaan tersebut tidak lagi tersedia.
Tentu situasinya akan terasa sulit.
Sekarang bayangkan kita memiliki beberapa kemampuan lain.
Kita bisa berkomunikasi dengan baik, memahami teknologi, menjual produk, mengelola administrasi, atau memiliki kemampuan lain yang relevan.
Bukan berarti kita otomatis akan sukses.
Tetapi kita mempunyai lebih banyak kemungkinan untuk mencoba.
Dan dalam kehidupan ekonomi yang tidak selalu bisa diprediksi, memiliki pilihan adalah sesuatu yang berharga.
Karena kemampuan tidak hanya digunakan untuk mendapatkan pekerjaan.
Kemampuan juga bisa digunakan untuk menciptakan peluang.
Jadi, Haruskah Kita Berhenti Mengejar Gelar?
Tentu tidak.
Melanjutkan pendidikan tetap menjadi pilihan yang penting dan dapat memberikan banyak manfaat.
Masalahnya bukan pada gelar.
Masalahnya adalah ketika kita menganggap gelar sebagai satu-satunya bentuk investasi untuk masa depan.
Padahal, investasi terhadap diri sendiri memiliki banyak bentuk.
Ada yang memilih melanjutkan pendidikan.
Ada yang mengikuti pelatihan.
Ada yang belajar secara mandiri.
Ada yang mendapatkan pengalaman melalui pekerjaan.
Ada yang membangun usaha.
Ada yang mempelajari teknologi baru.
Tidak ada satu jalan yang berlaku sama untuk semua orang.
Yang penting adalah memahami kebutuhan kita sendiri.
Apa yang ingin kita capai?
Kemampuan apa yang dibutuhkan untuk mencapainya?
Dan yang paling penting:
Apa yang bisa mulai kita pelajari hari ini?
Karena Masa Depan Tidak Hanya Membutuhkan Orang Berpendidikan
Masa depan membutuhkan orang yang mau terus belajar.
Orang yang bisa beradaptasi.
Orang yang mampu menggunakan pengetahuan.
Orang yang tidak takut mempelajari sesuatu yang baru.
Dan orang yang mampu mengubah kemampuan tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Jadi, kalau suatu hari kita merasa tertinggal, mungkin kita tidak selalu membutuhkan gelar baru.
Mungkin kita hanya perlu membuka laptop, mengambil buku, mengikuti pelatihan, bertanya kepada orang yang lebih berpengalaman, atau mulai mencoba sesuatu yang selama ini kita tunda.
Karena pendidikan bukan hanya tentang seberapa tinggi kita belajar, tetapi seberapa jauh kita mampu menggunakan apa yang kita pelajari.
Dan mungkin, investasi terbaik untuk masa depan bukan selalu menambah satu baris gelar di belakang nama.
Kadang, investasi terbaik adalah menambah satu kemampuan baru yang membuat kita lebih siap menghadapi kehidupan.
