Konten dari Pengguna

Sekolah Tidak Menjamin Hidup Mudah, Tapi Pendidikan Mengajarkan Cara Bertahan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kinanti Dyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seorang mahasiswa duduk sendirian di halte atau bangku sederhana sambil membawa tas dan buku, dengan suasana sore hari. Di sekitarnya terdapat elemen kehidupan sehari-hari seperti laptop, buku kuliah, transportasi umum, dan gedung perkantoran yang terlihat dari kejauhan. Ekspresi tokoh menunjukkan lelah tetapi tetap memiliki harapan. Konsep visual menggambarkan perjalanan pendidikan sebagai proses panjang untuk membangun kemampuan bertahan dan menghadapi kehidupan, bukan sekadar mengejar ijazah.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang mahasiswa duduk sendirian di halte atau bangku sederhana sambil membawa tas dan buku, dengan suasana sore hari. Di sekitarnya terdapat elemen kehidupan sehari-hari seperti laptop, buku kuliah, transportasi umum, dan gedung perkantoran yang terlihat dari kejauhan. Ekspresi tokoh menunjukkan lelah tetapi tetap memiliki harapan. Konsep visual menggambarkan perjalanan pendidikan sebagai proses panjang untuk membangun kemampuan bertahan dan menghadapi kehidupan, bukan sekadar mengejar ijazah.

Kita sering mendengar kalimat, “Sekolah yang tinggi supaya masa depan lebih baik.” Sejak kecil, banyak dari kita tumbuh dengan pemikiran bahwa pendidikan adalah tiket untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus, penghasilan yang layak, dan kehidupan yang lebih nyaman. Tidak salah memang. Pendidikan memiliki nilai ekonomi karena dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan seseorang untuk masuk ke dunia kerja. Namun, ada satu hal yang sering terlupakan: pendidikan tidak pernah menjanjikan hidup yang mudah.

Ada mahasiswa yang sudah bertahun-tahun kuliah tetapi masih bingung setelah lulus mau bekerja di mana. Ada orang yang sudah memiliki gelar tetapi tetap harus mengirim banyak lamaran pekerjaan. Ada juga seseorang yang mungkin tidak melanjutkan pendidikan tinggi, tetapi mampu membangun usaha dan menciptakan penghasilan dari keterampilan yang dimilikinya. Dari situ kita belajar bahwa pendidikan bukanlah mesin otomatis yang memasukkan ijazah lalu mengeluarkan kesuksesan.

Kalau dilihat dari kehidupan sehari-hari, pendidikan sebenarnya lebih mirip seperti investasi jangka panjang. Ketika seseorang mengeluarkan uang untuk membeli makanan, manfaatnya dapat dirasakan hari itu juga. Ketika membeli pakaian, hasilnya juga langsung terlihat. Berbeda dengan pendidikan. Uang kuliah, buku, transportasi, waktu belajar, bahkan tenaga dan pikiran yang dikeluarkan hari ini belum tentu memberikan hasil besok pagi. Hasilnya mungkin baru terasa beberapa tahun kemudian melalui keterampilan, pola pikir, pengalaman, jaringan, dan kesempatan yang muncul.

Masalahnya, kita hidup di zaman yang terbiasa dengan sesuatu yang serba cepat. Kita ingin belajar cepat, mendapat pekerjaan cepat, mendapatkan penghasilan cepat, bahkan ingin melihat hasil dari usaha dalam waktu singkat. Akibatnya, ketika pendidikan belum memberikan hasil yang terlihat, kita mudah merasa bahwa semua yang dilakukan sia-sia.

Padahal, tidak semua hasil pendidikan berbentuk angka di rekening.

Ketika seseorang belajar mengatur waktu karena harus membagi kuliah, pekerjaan, organisasi, dan kehidupan pribadi, sebenarnya ia sedang belajar mengelola sumber daya. Ketika seorang mahasiswa belajar membuat presentasi, berbicara di depan kelas, menyelesaikan tugas kelompok, dan menghadapi kritik dosen, sebenarnya ia sedang membangun keterampilan yang suatu hari dapat digunakan dalam dunia kerja. Bahkan ketika seseorang gagal dalam sebuah ujian, ia sedang belajar menghadapi konsekuensi dan memperbaiki kesalahan.

Inilah sisi ekonomi pendidikan yang sering tidak terlihat.

Pendidikan bukan hanya tentang berapa besar biaya yang dikeluarkan dan berapa besar gaji yang akan diperoleh setelah lulus. Pendidikan juga menghasilkan human capital atau modal manusia, yaitu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan kemampuan yang melekat pada diri seseorang. Modal tersebut dapat digunakan untuk menghadapi berbagai perubahan dalam kehidupan.

Dunia kerja sendiri terus berubah. Pekerjaan yang populer beberapa tahun lalu belum tentu memiliki bentuk yang sama di masa depan. Teknologi berkembang, kebutuhan perusahaan berubah, dan persaingan semakin luas. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan untuk belajar kembali menjadi sangat penting.

Mungkin inilah alasan mengapa pendidikan seharusnya tidak hanya mengajarkan seseorang cara mendapatkan pekerjaan, tetapi juga cara tetap memiliki nilai ketika pekerjaan dan keadaan berubah.

Bayangkan seorang pekerja yang hanya mengandalkan satu keterampilan. Ketika teknologi baru membuat keterampilan tersebut tidak lagi banyak digunakan, ia akan menghadapi tantangan besar. Berbeda dengan seseorang yang terbiasa belajar, mencari informasi, memecahkan masalah, berkomunikasi, dan beradaptasi. Ketika situasi berubah, ia memiliki bekal untuk mempelajari sesuatu yang baru.

Jadi, nilai pendidikan tidak selalu terlihat dari pekerjaan pertama setelah lulus.

Kadang-kadang nilai itu muncul ketika kita mampu mengatakan, “Saya belum tahu caranya, tetapi saya bisa belajar.”

Kalimat sederhana tersebut sebenarnya sangat penting dalam kehidupan ekonomi. Karena kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada orang yang lulus tepat waktu, ada yang terlambat. Ada yang langsung mendapatkan pekerjaan, ada yang harus menunggu berbulan-bulan. Ada yang bekerja sesuai jurusan, ada pula yang akhirnya menemukan jalan yang sama sekali berbeda.

Perjalanan setiap orang memang tidak sama.

Karena itu, jangan mengukur keberhasilan pendidikan hanya dari siapa yang paling cepat mendapatkan pekerjaan atau siapa yang memiliki penghasilan paling besar. Pendidikan memang dapat membuka peluang ekonomi, tetapi peluang tersebut tetap dipengaruhi oleh banyak hal, seperti kondisi keluarga, lingkungan, akses terhadap pekerjaan, keterampilan, pengalaman, jaringan, dan kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Yang lebih penting adalah apa yang kita lakukan dengan kesempatan pendidikan yang kita miliki.

Bagi mahasiswa yang sedang merasa kuliah tidak menghasilkan apa-apa, mungkin ada baiknya berhenti sejenak dan melihat kembali proses yang sudah dilewati. Mungkin kita belum mendapatkan pekerjaan impian. Mungkin kita belum menghasilkan banyak uang. Mungkin kita masih bergantung kepada orang tua. Tetapi selama proses tersebut membuat kita menjadi lebih mampu berpikir, bekerja, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan mengambil keputusan, sebenarnya ada modal yang sedang dibangun.

Tidak semua investasi langsung menghasilkan keuntungan. Ada investasi yang pertama-tama membentuk kemampuan kita untuk menghasilkan keuntungan.

Pendidikan adalah salah satunya.

Pada akhirnya, pendidikan bukan jaminan bahwa hidup seseorang akan bebas dari masalah. Justru pendidikan seharusnya membuat seseorang lebih siap ketika masalah datang. Karena hidup tidak selalu tentang siapa yang memiliki jalan paling mudah, tetapi siapa yang mampu terus belajar ketika jalan yang dilewati berubah.

Maka, mungkin tujuan pendidikan bukan sekadar membuat kita menjadi orang yang “berhasil”.

Lebih dari itu, pendidikan seharusnya membuat kita menjadi orang yang mampu bertahan, beradaptasi, dan terus berkembang ketika kehidupan tidak berjalan sesuai rencana.

Dan mungkin, itulah investasi pendidikan yang paling mahal sekaligus paling berharga: bukan sekadar mendapatkan ijazah, tetapi membangun kemampuan dalam diri untuk menghadapi kehidupan.