Dialog Budaya: Merawat Tradisi di Tengah Arus Perantauan

Berlian Kinanti Sarang Sriti, mahasiswa Ilmu Komunikasi dari Universitas Sebelas Maret. Mahasiswa yang memiliki minat publikasi dalam media, seperti film, podcast, dan berbagai konten di platform media sosial.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Berlian Kinanti Sarang Sriti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai bagian dari rangkaian pameran seni Biennale Jogja 18, agenda mingguan bernama Baku Pandang menghadirkan sesi Dialog Budaya, sebagai ruang diskusi yang membahas pelestarian tradisi tanah asal dan dinamika masyarakat desa-kota. Acara ini berlangsung pada Sabtu, 8 November 2025, di Plataran Djoko Pekik, Bantul, Yogyakarta, dihadiri oleh warga sekitar serta para tamu yang memenuhi venue. Sesi tersebut menghadirkan Mahfud Ikhwan dan Laboratorium Sedusun, diwakili oleh Ida Mandalawangi dan ESTE, sebagai narasumber yang membuka percakapan mengenai perubahan sosial dan jejak tradisi.
Acara Baku Pandang dibuat sejalan dengan tema Biennale Jogja 18, yaitu Kawruh: Tanah Lelaku, yang mengajak kita memahami tanah asal dan cara menjalani hidup dari sana. Sebagai pembuka, acara ini menghadirkan solo performance oleh Regina Gandes Mutiary berjudul "Di antara Ruas dan Nafas". Penampilan monolog tersebut merespons karya arsitektural interaktif milik Novi Kristinawati bertajuk "Ruang dalam Ruas", yang juga dipamerkan di Biennale Jogja 18.
"Sebenarnya pertunjukan ini merupakan respon dari salah satu karya yang di display di area Plataran Djoko Pekik, yaitu karyanya Mbak Novi. Dimana dia menggunakan media bambu sebagai bentuk instalasi arsitektural di dalam pohon karena bambu punya sifat yang cukup kuat dan lentur," jelas Regina.
Dialog Budaya dimulai sekitar pukul 15.30 WIB dengan cuaca yang agak mendung dan sempat sedikit hujan, membuat solo performance sebelumnya memang harus benar-benar menata waktu karena panggungnya bersifat outdoor. Sedangkan, Dialog Budaya dilaksanakan di tempat yang memiliki atap sehingga tidak terlalu terganggu dengan keadaan cuaca yang mendung, justru memberikan suasana sejuk bagi penonton. Dialog ini membahas tentang tradisi-tradisi desa, baik yang terlihat maupun tidak terlihat, mempunyai potensi besar dan sumber daya yang kaya, serta yang menjadi sorotan adalah maraknya keinginan masyarakat untuk meninggalkan desa dan merantau ke kota.
Kadang wong ora iso ndelok geger e dewe saking cedak e - Ida Mandalawangi.
Laboratorium Sedusun adalah sebuah kelompok kecil yang menjadi penggerak dalam misi melestarikan tradisi tanah asalnya, yaitu sebuah desa yang berlokasi di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ida Mandalawangi juga sempat menyoroti harga pangan di kota, sebuah produk yang semestinya bisa menjadi sumber pendapatan di desa, melihat dari segi kualitas lebih baik dan kemampuan produksi yang jika diolah, dapat berlimpah hasilnya. Hal seperti ini terjadi karena kebiasaan orang tidak sadar akan potensinya sendiri yang sebenarnya dekat dengan kehidupannya, tetapi terus mencari potensi di tempat atau orang lain. Keadaan semacam itu dimisalkan Ida dengan kalimat; kadang wong ora iso ndelok geger e dewe saking cedak e, artinya orang tidak bisa melihat punggungnya sendiri karena terlalu dekat.
"Kita rasa bahwa teman-teman muda juga tidak berusaha untuk menghidupi dusun itu sendiri, maksudnya dengan membuat cara-cara yang setidaknya itu sedikit demi sedikit bisa dijadikan sebagai tempat yang menghidupi secara finansial maupun kebutuhan yang lainnya, " ujar Ida Mandalawangi.
Menurut Ida, dengan adanya Laboratorium Sedusun ini, tujuannya adalah melestarikan apa yang ada di desanya, paling tidak mereka mempunyai arsip dan catatan-catatan atas apa yang ada dan sesuatu hal yang terjadi di tempatnya sendiri. Aksi ini memang dampaknya masih di dalam lingkup yang sempit, tetapi dengan kehadiran mereka di ruang-ruang diskusi seperti ini, sekiranya dapat menjadi contoh bagi desa-desa lainnya. Sekaligus menghilangkan pandangan bahwa desa itu bukan merupakan suatu tempat yang tertinggal dan pergi merantau adalah sebuah opsi yang lebih baik untuk mendapatkan hidup sejahtera.
Adapun beberapa langkah dasar dan utama yang dibagikan oleh Ida Mandalawangi bagi teman-teman muda yang ingin memulai gerakan pelestarian tradisi ini. Pertama, adalah dengan menyadari bahwa desa itu memang bisa dijadikan tempat untuk hidup, selanjutnya adalah mengenali potensi dari desa itu sendiri sehingga nantinya kita dapat mencari sudut pandang dan cara yang cocok untuk mengembangkan sumber daya desa. Cara ini memang merespons salah satu permasalahan anak muda yang dengan cepat menyimpulkan bahwa sumber daya desa tidak dapat dijadikan sebagai sumber penghasilan yang menjamin karena mereka bahkan tidak melihat kebelakang seberapa besar potensi yang ada.
Laboratorium Sedusun juga memamerkan sebuah karya seni berjudul "Ruwat Rawat Ritus", yang menyajikan susunan bahan bahan pangan dan sesajen dengan maknanya masing-masing. Proyek Ruwat Rawat Ritus ini menggambarkan keseharian dari warga Gunung Kidul, kehidupan di dusun yang biasanya terdapat proses-proses yang masih menggunakan sesajen.
"Jadi ini keseharian yang masih dilakuan oleh masyarakat di dusun kita, bahwa keseharian kita tidak lepas dari pohon-pohon dan juga sentong atau pesucen yang merupakan tempat penyimpanan benih dan hasil panen," tegas Ida.
Di akhir sesi Dialog Budaya, Mahfud Ikhwan atau yang kerap dipanggil Cak Mahfud, membacakan sedikit bagian dari bukunya yang berjudul Menumis Itu Gampang, Menulis Tidak. Dirinya merupakan lulusan Sastra Indonesia, Universitas Gadjah Mada, yang aktif menulis novel dan esai, serta turut berpartisipasi dalam Dialog Budaya dengan memaparkan tentang perubahan sosial dan budaya manusia dengan tanah asal.
Melalui Dialog Budaya ini, dasar yang perlu dilakukan bagi teman-teman muda adalah menyadari potensi desa dan menemukan sudut pandang yang bisa diterapkan di lingkungannya masing-masing. Dengan begitu diharapkan teman-teman muda bisa memulai untuk berpartisipasi dalam mendukung desa atau tempat asalnya.
