Konten dari Pengguna

Petaka Melupakan Pelajaran Sejarah Pada Gegap Gempita STEM

Rizkindo Junior Rizaldy

Rizkindo Junior Rizaldy

Pengajar Sejarah SMA Budi Luhur

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizkindo Junior Rizaldy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) kini menjadi "anak emas" dalam ruang pendidikan Indonesia. Tren ini merupakan upaya konkret menjawab tantangan industri global yang menuntut keahlian teknis tingkat tinggi. Pendidikan dipacu untuk memenuhi kebutuhan pasar sebagai bentuk tanggung jawab mengejar ketertinggalan di kancah persaingan global (Kasjib, Indayani, & Riswandi, 2005).

Namun, ada alarm yang luput dari perhatian: penguatan STEM sering kali diikuti dengan penyempitan makna sains. Seolah-olah, demi industri, kita dihalalkan melupakan ilmu sosial, khususnya sejarah. Padahal, sejarah bukan sekadar dongeng masa lalu atau romantisasi peristiwa usang yang tak laku di bursa kerja. Sejarah memang tidak bisa menjadi "sekrup" industri, tetapi sejarah memiliki mandat lebih besar: menentukan ke mana arah dan tujuan industri nasional kita akan dibawa.

Tanpa perspektif sejarah, kita berisiko kehilangan komitmen merawat tujuan para pendiri bangsa yang telah menghancurkan belenggu kolonialisme. Sejarah adalah benteng kesadaran untuk melawan neo-kolonialisme—penjajahan gaya baru yang kerap menjebak negara dunia ketiga, termasuk Indonesia (Onghokham, 2009).

Penyempitan Makna Sains pada Penerapan STEM

Penerapan STEM di Indonesia saat ini terjebak dalam fungsionalisme sempit. Sains tidak lagi dipandang sebagai upaya manusia memahami semesta secara utuh, melainkan hanya sebagai pelayan industri (Sartika & Kau, 2025). Dampaknya terlihat nyata pada kebijakan makro; misalnya, 80% beasiswa LPDP difokuskan pada jurusan STEM demi mengejar kuantitas sarjana teknis (Safitri, 2026).

Gambar 1. LPDP Melakukan Penajaman Progam dari Generik Menjadi Fokus Bidang Prioritas (STEM & Industri Strategis) 2021-2025 Sumber: Youtube LPDP RI: Webinar Sosialisasi Beasiswa Industri, Strategis, Beasiswa, Share, dan Universitas Unggulan (26 Januari 2026)

Penentuan prioritas ini menciptakan dikotomi tajam antara jurusan yang dianggap "strategis" dan "pendukung" (LPDP, 2026). Padahal, pemaknaan sains yang hanya mencakup segelintir jurusan teknis adalah sebuah reduksi terhadap hakikat perguruan tinggi (Panjaitan, 2025).

Gambar 2. Bidang Ilmu STEM/Progam Studi: STEM & Non-STEM Utama Sumber: Youtube LPDP RI: Webinar Sosialisasi Beasiswa LPDP Tahap 2 & Progam Prioritas Tahun 2025 (17 Juli 2025)

Kondisi ini merembet hingga ke level sekolah melalui kurikulum yang mendewakan sains alam namun meminggirkan sains sosial (Kemendikdasmen, 2025). Ada kegagalan paradigma di mana pembelajaran tidak lagi berlandaskan basis pemikiran ilmiah yang kritis (PraxisHighschool, 2026). Jika dibiarkan, pendidikan kita hanya akan melahirkan "pendidikan gaya bank"—meminjam istilah Paulo Freire—di mana siswa sekadar menjadi wadah penampung data teknis namun buta secara sosio-politik (Freire, 2022).

Pembuktian Bahwa Sejarah Adalah Bagian dari Sains

Perlu ditegaskan bahwa Science atau Sains adalah sinonim dari ilmu pengetahuan; sebuah kesatuan utuh yang tidak boleh dikotak-kotakkan (Ridwan, 2021). Menurut The Liang Gie, ilmu pengetahuan adalah aktivitas penelitian sistematis untuk mencari kebenaran objektif tanpa batasan cabang ilmu (Soelaiman, 2019).

Sejarah memenuhi syarat ilmiah tersebut karena memiliki metode penelitian ketat untuk menyusun fakta secara objektif (Kuntowijoyo, 2018). Lebih dari itu, sejarah adalah instrumen kemanusiaan untuk menganalisis rangkaian fakta masa lalu sebagai pedoman masa depan (Kuntowijoyo, 2008). Ia bukan sekadar teks, melainkan proses edukatif yang menjaga kaidah moral dan etika dalam laju peradaban (Carr, 2014; Rowse, 2014).

Hegel (2014) menyebut laju sejarah sebagai perwujudan rasional menuju kebebasan sejati. Akal budi inilah yang membentuk keberpihakan sikap (Kant, 2016). Dalam konteks lokal, inilah yang disebut Ki Hadjar Dewantara sebagai Budi Pekerti—aktualisasi pikiran, perasaan, dan tindakan (Dewantara, 2009). Sejarah, dalam hal ini, berperan vital "memanusiakan manusia" di tengah mesin-mesin industri.

Kesadaran Sejarah: Senjata Membongkar Paradigma Industri

Kesadaran sejarah memungkinkan kita memahami bagaimana sistem masyarakat bergerak secara komprehensif (Ankersmit, 1987). Dengan nalar kritis, pembelajar sejarah diajak menyelami fakta secara empiris: menemukan bukti, memaknainya, dan menarik kesimpulan (Gottschalk, 2006).

Menyingkirkan sejarah dari kategori sains adalah kesalahan fatal. Tanpa sejarah, sains kehilangan laboratorium kemanusiaannya. Paradigma sains saat ini sebenarnya tidak netral; ia dipengaruhi oleh desakan sosial abad ke-21 (Kesuma & Hidayat, 2020), di mana masyarakat dipaksa masuk ke dalam sirkuit industri kapitalisme (Marcuse, 2000).

Indonesia adalah bangsa yang kaya akan lokalitas dan keragaman (Koentjaraningrat, 1984). Sangat merugi jika orientasi bangsa hanya dipusatkan pada industri semata dengan mengorbankan otentisitas lokal. Mengembalikan cara produksi yang mandiri adalah bentuk perlawanan terhadap neo-kolonialisme (O'laughlin, 2015). Kita harus waspada terhadap "pemalsuan ilmu pengetahuan" yang sebenarnya hanya dirancang untuk kepentingan industrialisasi (Hardjono, 2008).

Kesimpulan

Gegap gempita STEM yang mengabaikan sejarah bukanlah kemajuan, melainkan langkah mundur bagi peradaban. Pendidikan yang hanya mencetak tenaga kerja tanpa karakter historis adalah bentuk penyerahan diri secara sukarela kepada sistem neo-kolonialisme.

Kita tidak boleh membiarkan generasi muda hanya menjadi "sekrup" bisu dalam mesin global. Mengintegrasikan sejarah dalam STEM bukan berarti menambah hafalan, melainkan menanamkan ruh kedaulatan. Tanpa sejarah, STEM di Indonesia berisiko menjadi instrumen penindasan baru. Namun dengan sejarah, STEM akan menjadi katalisator bagi kedaulatan bangsa yang sejati di mata dunia.

Daftar Pustaka

Ankersmit, F. (1987). Refleksi Tentang Sejarah: Pendapat-Pendapat Modern Tentang Filsafat Sejarah. Jakarta: Gramedia.

Carr, E. (2014). Apa Itu Sejarah. Jakarta: Komunitas Bambu.

Dewantara, K. (2009). Menuju Manusia Merdeka. Yogyakarta: Leutika.

Freire, P. (2022). Pendidikan Kaum Tertindas. Yogyakarta: Medpress Digital.

Gottschalk, L. (2006). Mengerti Sejarah. Jakarta: UI Press.

Hardjono, S. T. (2008). Awas Bahaya Nekolim. Jakarta: Sekretariat DPP-PAKORBA.

Hegel, G. (2014). Filsafat Sejarah. Yogyakarta: Panta Rhei Books.

Kant, I. (2016). The Critique Of Pure Reason Kritik Atas Akal Budi Murni. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Kasjib, Z. A., Indayani, F., & Riswandi. (2005). Pendidikan STEM dan Ekonomi Digital: Membangun Tenaga Kerja yang Terampil untuk Masa Depan. Jurnal Kolaboratif Sains (JKS).

Kemendikdasmen, T. P. (2025). Panduan Pembelajaran STEM (Sains, Teknologi, Enjinering, Matematika) untuk Guru Pendidikan Anak Usia DIni,. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.

Kesuma, U., & Hidayat, A. W. (2020). PEMIKIRAN THOMAS S. KUHN TEORI REVOLUSI PARADIGMA. Islamadina.

Koentjaraningrat. (1984). Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Kuntowijoyo. (2008). Penjelasan Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Kuntowijoyo. (2018). Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wavcana.

LPDP. (2026). Panduan Pendaftaran Beasiswa LPDP Tahap 1 2026: STEM INDUSTRI STRATEGIS. Jakarta: Mentri Keuangan Republik Indonesia. Retrieved from LPDP.

Marcuse, H. (2000). Manusia Satu-Dimensi: Studi terhadap Ideologi Masyarakat Industri Maju. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

O'laughlin, B. (2015). MARX, Kapital, dan Antropologi: Kilang-Kilang Ketimbangan: Sebuah Pendekatan Marxis. Bandung: Ultimus.

Onghokham. (2009). Sukarno, Orang Kiri Revolusi & G30S 1965. Jakarta: Komunitas Bambu.

Panjaitan, B. R. (2025, Juli 30 ). Mengenal Bidang 'STEM' yang Jadi Prioritas LPDP Tahun 2025. Retrieved from Beutynesia.: https://www.beautynesia.id/life/mengenal-bidang-stem-yang-jadi-prioritas-lpdp-tahun-2025/b-307667

PraxisHighschool, A. (2026, Januari 19). Berbagai Tantangan Pembelajaran STEM di Sekolah. Retrieved from Praxis High School: https://praxis.sch.id/artikel.php?slug=berbagai-tantangan-pembelajaran-stem-di-sekolah

Ridwan, M. (2021). STUDI ANALISIS TENTANG MAKNA PENGETAHUAN DAN ILMU PENGETAHUAN SERTA JENIS DAN SUMBERNYA. Jurnal Geuthèë: Penelitian Multidisiplin.

Rowse, A. (2014). Apa Guna Sejarah. Jakarta: Komunitas Bambu.

Safitri, E. (2026, Januari 16). Siap-siap! 80% Beasiswa LPDP Mau Dialokasikan ke Bidang STEM. Retrieved from detikedu: https://www.detik.com/edu/beasiswa/d-8309127/siap-siap-80-beasiswa-lpdp-mau-dialokasikan-ke-bidang-stem

Sartika, E., & Kau, M. U. (2025). INOVASI PEMBELAJARAN STEM UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS, KOLABORATIF, DAN PROBLEM SOLVING DI ERA INDUSTRI 4.0. JURNAL ILMU PENDIDIKAN.

Soelaiman, D. A. (2019). FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN: Prespektif barat dan islam. Aceh: Penerbit Bandar Publishing.

Soyomukti, N. (2010). Teori-Teori Pendidikan. Yogyakarta: AR-Ruz Media.