Konten dari Pengguna

Harga Turun Kok Bisa Bahaya? Memahami Deflasi di Tengah Ancaman Inflasi 2026

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari KINTAN MAHARANI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Hasil Ai
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Hasil Ai

Ketika mendengar harga barang turun, hal pertama yang muncul di pikiran mungkin adalah rasa senang. Harga makanan lebih murah, kebutuhan sehari-hari lebih terjangkau, dan uang yang dibawa pulang seolah bisa membeli lebih banyak barang. Namun, dalam ilmu ekonomi, harga yang terus-menerus turun tidak selalu menjadi kabar baik. Kondisi tersebut dikenal sebagai deflasi dan dalam situasi tertentu justru dapat menjadi tanda adanya masalah dalam perekonomian.

Sebaliknya, inflasi sering dianggap sebagai musuh karena membuat harga barang dan jasa meningkat. Ketika inflasi terjadi terlalu tinggi, daya beli masyarakat dapat menurun karena pendapatan tidak mampu mengikuti kenaikan harga. Namun, bukan berarti deflasi selalu lebih baik daripada inflasi. Bank Indonesia menjelaskan bahwa ketika harga terus turun, masyarakat dan pelaku usaha dapat memilih untuk menunda pembelian maupun investasi karena berharap harga akan semakin murah. Jika terjadi terus-menerus, kondisi ini dapat melemahkan aktivitas ekonomi.

Lalu, bagaimana kondisi Indonesia pada 2026? Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Agustus 2026 Indonesia mengalami inflasi sebesar 3,19 persen secara tahunan. Sementara itu, secara bulanan terjadi inflasi sebesar 0,21 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa secara umum harga barang dan jasa masih mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Menariknya, perjalanan harga sepanjang 2026 tidak selalu bergerak naik. Pada Juli 2026, misalnya, Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan. Namun, secara tahunan Indonesia tetap mengalami inflasi sebesar 2,88 persen. Artinya, deflasi dalam satu bulan tidak otomatis berarti Indonesia sedang mengalami deflasi secara keseluruhan.

Perbedaan inilah yang sering membuat masyarakat keliru memahami inflasi dan deflasi. Inflasi berarti terjadi kenaikan harga secara umum dan terus-menerus, sedangkan deflasi merupakan penurunan harga secara umum dan terus-menerus. Jadi, ketika harga cabai atau telur turun dalam satu periode, hal tersebut belum tentu bisa langsung disebut sebagai deflasi.

Deflasi menjadi persoalan ketika penurunan harga terjadi karena permintaan masyarakat melemah. Bayangkan seorang pedagang biasanya dapat menjual 100 produk dalam sehari, tetapi karena masyarakat mengurangi belanja, hanya 50 produk yang terjual. Agar barang tidak menumpuk, pedagang kemudian menurunkan harga. Jika kondisi ini terjadi pada banyak sektor, perusahaan dapat mengurangi produksi, menekan biaya, bahkan mengurangi jumlah pekerja.

Masalahnya kemudian bisa menjadi seperti lingkaran. Masyarakat mengurangi belanja karena menganggap harga akan semakin turun. Penjualan perusahaan ikut menurun. Produksi dikurangi dan pendapatan pekerja dapat terdampak. Ketika pendapatan melemah, masyarakat semakin mengurangi konsumsi. Pada akhirnya, aktivitas ekonomi semakin melambat. Bank Indonesia juga menjelaskan bahwa masyarakat dan pelaku usaha dapat menunda konsumsi maupun investasi ketika mengharapkan harga terus turun.

Namun, bukan berarti setiap deflasi harus ditakuti. Penurunan harga yang disebabkan oleh faktor tertentu, seperti meningkatnya pasokan barang atau turunnya harga komoditas, bisa saja justru menguntungkan masyarakat. BPS sendiri mencatat bahwa beberapa komoditas dapat memberikan andil deflasi pada periode tertentu, misalnya daging ayam, cabai, dan telur.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah harga naik atau turun. Yang lebih penting adalah mengapa harga tersebut berubah dan bagaimana dampaknya terhadap daya beli masyarakat, produksi, investasi, serta lapangan kerja.

Inflasi yang terlalu tinggi memang dapat menggerus daya beli. Tetapi deflasi yang berlangsung terus-menerus juga dapat melemahkan aktivitas ekonomi. Keduanya memiliki risiko masing-masing jika terjadi secara berlebihan.

Pada akhirnya, ekonomi yang sehat bukan berarti harga harus selalu turun atau selalu naik. Yang dibutuhkan adalah kestabilan harga sehingga masyarakat tetap mampu memenuhi kebutuhan, pelaku usaha dapat menjalankan bisnis, dan kegiatan ekonomi dapat terus bergerak. Jadi, lain kali ketika melihat harga barang turun, jangan buru-buru menganggap semuanya sedang baik-baik saja. Bisa jadi itu kabar baik bagi dompet kita, tetapi belum tentu bagi perekonomian secara keseluruhan.