Mengapa Peran Siswa di Koperasi Sekolah Masih Minim?

Saya adalah mahasiswa universitas pamulang pendidikan ekonomi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari KINTAN MAHARANI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Koperasi sekolah sering disebut sebagai laboratorium nyata bagi siswa untuk belajar ekonomi. Namun, realitanya tidak semua siswa benar-benar terlibat aktif di dalamnya. Di banyak sekolah di Indonesia, koperasi justru berjalan seadanya, bahkan cenderung sepi partisipasi dari siswa itu sendiri.
Padahal, keberadaan koperasi sekolah memiliki tujuan yang cukup penting. Tidak hanya sebagai tempat berjualan alat tulis atau kebutuhan siswa, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran praktik ekonomi. Di sinilah siswa seharusnya belajar tentang pengelolaan usaha, tanggung jawab, hingga kerja sama.
Lalu, mengapa peran siswa di koperasi sekolah masih minim?
Salah satu penyebabnya adalah kurangnya keterlibatan siswa dalam pengelolaan koperasi. Di beberapa sekolah, koperasi justru lebih banyak dikelola oleh guru atau pihak tertentu. Akibatnya, siswa hanya menjadi konsumen, bukan pelaku. Hal ini tentu bertolak belakang dengan tujuan awal koperasi sebagai wadah pembelajaran.
Selain itu, kurangnya sosialisasi juga menjadi faktor penting. Tidak semua siswa memahami fungsi dan manfaat koperasi sekolah. Bagi sebagian siswa, koperasi hanya dianggap sebagai “toko biasa” di lingkungan sekolah. Tanpa pemahaman yang jelas, sulit untuk menumbuhkan minat dan rasa memiliki terhadap koperasi tersebut.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah kurangnya inovasi. Koperasi sekolah sering kali tidak berkembang dan hanya menjual barang yang itu-itu saja. Di tengah perkembangan zaman, siswa cenderung tertarik pada hal-hal yang lebih kreatif dan modern. Jika koperasi tidak mampu mengikuti perkembangan tersebut, wajar jika minat siswa menjadi rendah.
Di sisi lain, kesibukan akademik juga memengaruhi tingkat partisipasi siswa. Banyak siswa yang lebih fokus pada tugas sekolah dan kegiatan lainnya, sehingga tidak memiliki waktu atau minat untuk terlibat dalam koperasi. Tanpa adanya dorongan atau sistem yang menarik, koperasi sekolah menjadi kurang diminati.
Meski begitu, kondisi ini bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Koperasi sekolah justru memiliki potensi besar untuk menjadi wadah pembelajaran yang menarik jika dikelola dengan baik. Memberikan peran langsung kepada siswa, menghadirkan inovasi, serta mengaitkan kegiatan koperasi dengan pembelajaran di kelas dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan partisipasi.
Pada akhirnya, koperasi sekolah bukan hanya tentang jual beli, tetapi tentang pengalaman belajar. Jika siswa dilibatkan secara aktif, koperasi bisa menjadi tempat yang menyenangkan sekaligus bermanfaat dalam membentuk jiwa wirausaha sejak dini.
