Dampak Buruk Insomnia bagi Tubuh
Tulisan dari Kintan Ara Laksita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidur yang cukup adalah hal yang dibutuhkan oleh setiap makhluk hidup. Saat tidur manusia melakukan proses penting berupa pemulihan anggota tubuh dengan tujuan untuk memperkuat ingatan. Banyak orang yang mengatakan setelah tidur manusia bisa menyimpan informasi di dalam otak lebih baik. Hal tersebut dapat dibuktikan ketika selesai belajar lalu tidur akan lebih baik karena otak akan menyaring informasi yang penting dan membuang informasi yang tidak penting. Setelah tidur tubuh akan terasa lebih fresh sehingga dapat melakukan aktivitas dengan baik. Hal itu menunjukan bahwa tidur sangat bermanfaat bagi tubuh, namun banyak orang yang tidak menyadarinya. Tidur yang baik ketika memenuhi dua faktor penting yaitu kualitas dan kuantitas. Kualitas tidur merupakan kondisi dimana seseorang akan merasa segar dan bugar ketika bangun tidur, sedangkan kuantitas tidur merupakan waktu normal yang dibutuhkan seseorang untuk tidur. Dengan demikian, tidur merupakan kebutuhan dasar setiap makhluk hidup untuk melangsungkan kehidupannya.
Sebagian orang tidak bisa merasakan tidur yang cukup karena mempunyai gangguan tidur atau biasa disebut insomnia. Insomnia adalah gangguan tidur yang menyebabkan penderita sulit untuk tidur yang berdampak buruk bagi tubuhnya, yaitu menggangu pertumbuhan fisik, emosional, kognitif, dan sosial pada orang dewasa. Perubahan jumlah dan kualitas pola tidur akan menyebabkan ketidaknyamanan yang akan berdampak pada gangguan pola tidur. Fakta tersebut menunjukkan besarnya kemungkinan berdampak pada masalah akademis, emosional, kesehatan, dan perilaku pada orang dewasa. Hal itu dapat dicegah atau diperbaiki secara signifikan melalui intervensi, yaitu memperbaiki kualitas dan kuantitas tidur. Sebenarnya orang yang menderita insomnia dapat dikenali ciri – cirinya. Ciri – ciri dari penderita insomnia yaitu : suka tidur di siang hari tetapi susah tidur di malam hari, mudah merasa lelah, , mengalami depresi, mudah emosi, sering overthinking, dan lain – lain.
Menurut International Classification of Sleep Disorder yaitu dissomnia dan parasomnia (MA Nurdin 2018). Dissomnia merupakan kondisi gangguan primer yang dilatar belakangi faktor psikis yang berdampak pada gangguan jumlah, kualitas, atau waktu tidur seseorang, hal ini berhubungan dengan faktor emosional seseorang. Parasomnia merupakan peristiwa tidak normal yang terjadi saat tidur. Dalam beberapa kasus, insomnia dapat menjadi penyakit yang kronis. Hal ini biasa disebut sebagai gangguan penyesuaian tidur karena paling banyak terjadi dalam konteks situasional depresi yang akut, seperti dalam hal pekerjaan baru atau menjelang seseorang akan ujian karena merasa cemas. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Annahri di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin menunjukkan bahwa ada hubungan antara perilaku merokok dengan angka kejadian insomnia seperti halnya dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Yocki. Menurut onsetnya, insomnia diklasifikasikan menjadi 3 macam yaitu transient insomnia (insomnia sekilas) yaitu orang yang memiliki waktu tidur secara normal tetapi mengalami kesulitan tidur karena stress, short term insomnia (insomnia jangka pendek) seperti seseorang yang panik akan menghadapi situasi tertentu seperti ujian dan long term insomnia (insomnia jangka panjang) yaitu terjadi secara terus – terusan. Menurut penyebabnya, insomnia dibedakan menjadi 2, yang pertama yaitu insomnia primer dikarenakan hal yang dilakukan sebelum tidur bukan karena penyakit dan yang kedua adalah insomnia sekunder karena masalah kejiwaan dan juga masalah medis yang berhubungan dengan penyakit.
Menurut beberapa penelitian, insomnia kronis sering muncul disebabkan oleh bertambahnya umur seseorang. Insomnia juga bisa disebabkan faktor dalam dan luar. Faktor dalam yaitu hormonal, obat-obatan yang dikonsumsi, dan kejiwaan. Faktor luar dipengaruhi oleh situasi dan juga kondisi. Banyak bahan – bahan yang sering kita gunakan yang dampaknya menimbulkan kesulitan untuk tidur. Misalnya bahan yang mengandung nikotin yaitu tembakau, obat pengurus badan yang mengandung amfetamin, kopi dan juga teh yang berfungsi sebagai perangsang susunan syaraf pusat.
Insomnia dianggap remeh oleh banyak orang karena dampaknya dirasakan oleh penderita tidak dalam jangka pendek, namun dirasakan dalam jangka panjang. Dampak insomnia sangat besar bagi kesehatan tubuh seseorang. Diperkirakan orang yang memiliki gangguan tidur akan memiliki gangguan pada mentalnya. Hal tersebut terbukti jika seseorang mengalami depresi akan memiliki gangguan pada jam tidurnya. Menurut (Aurora,2018) bahwa orang yang mengalami insomnia akan kurang tidurnya, dan hal tersebut akan berdampak pada reaksi emosional dalam dirinya. William Dent melakukan penelitian karena ia tertarik untuk mengetahui efek dari kekurangan tidur pada seseorang. Hasil penelitiannya membuktikan jika orang yang kurang jam tidurnya mengalami kesulitan fokus pada hal – hal di sekitarnya. Selain itu, apa yang dibicarakan tidak nyambung hingga melantur dan setelah diteruskan mengalami halusinasi yang sangat parah dan mengalami cemas yang berlebihan. Kekurangan tidur akibat insomnia memberi kontribusi pada timbulnya suatu penyakit, termasuk penyakit jantung dan diabetes dikarenakan kurangnya daya tahan tubuh. Tidur malam yang buruk dapat menurunkan kemampuan dalam memenuhi tugas harian serta kurang bisa menikmati aktivitas hidup. Ketika seseorang merasa lesu dan pusing setiap bangun tidur itu menunjukkan bahwa tidur yang dilakukannya kurang berkualitas.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa insomnia sangat berdampak buruk bagi tubuh seseorang. Namun, ada beberapa hal bisa dilakukan untuk mencegah insomnia dengan cara tidak makan atau minum yang terlalu banyak mendekati jam tidur karena jika makan atau minum yang terlalu banyak akan menimbulkan ketidaknyamanan tubuh. Hal lain yang bisa dilakukan dengan cara tidak mengonsumsi alkohol dan juga nikotin mendekati jam tidur karena dua zat tersebut bisa menyebabkan seseorang sulit untuk tidur. Pengobatan untuk penderita yang sudah mengalami insomnia bisa dengan cara mengatur kembali pola tidur agar normal kembali. Jika belum berhasil dapat dikatakan jika penderita mengalami i insomnia yang kronis. Penderita insomnia kronis memerlukan adanya penanganan dari dokter dan biasanya penanganan yang diberikan adalah terapi relaksasi. Relaksasi ini merupakan metode fisiologis melawan ketegangan (teknik progresif) dan kecemasan. Ketegangan yang dilawan berdasarkan dari kontraksi otot. Saat otot – otot mengalami relaks maka seseorang akan mudah untuk tertidur. Semakin cepat seseorang dalam keadaan relaks maka akan lebih cepat untuk tidur, sehingga akan mudah untuk tertidur dan tidak mengalami insomnia.
Setelah membaca pemaparan yang saya sampaikan, terlihat jelas bahwa dampak dari insomnia sangat berbahaya bagi tubuh. Walaupun beberapa orang memiliki alasan tersendiri mengapa memiliki kebiasaan untuk tidur malam. Namun, sebaiknya jika kita menghindarinya. Hal itu dikarenakan istirahat yang cukup sangat dibutuhkan agar tubuh dan pikiran dapat bekerja dengan maksimal dalam melakukan aktivitas.
Referensi :
Fenny1, Supriatmo2. (2016). HUBUNGAN KUALITAS DAN KUANTITAS TIDUR DENGAN PRESTASI BELAJAR PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN. Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia. Vol.5 (No. 3), Halaman 140-142. Dikutip pada 16 Desember 2020. URL : https://jurnal.ugm.ac.id/jpki/article/view/25373/16243
Muhammad Akbar Nurdin. (2018). Kualitas Hidup Penderita Insomnia pada Mahasiswa. JURNAL MKMI. Vol. 14 (No. 2), Halaman 128-136. Dikutip pada 16 Desember 2020. URL : https://media.neliti.com/media/publications/261142-none-194beeec.pdf
P Probosiwi. (2017). Klasifikasi insomnia. repository.unimus. Dikutip pada 16 Desember 2020. URL : http://repository.unimus.ac.id/271/3/BAB%20II.pdf
Fitria Anggun Ariantini1, Sugeng Hariyad2. (2012). GANGGUAN INSOMNIA PADA MAHASISWA YANG MENYUSUN SKRIPSI. Jurnal Psikologi Ilmiah. Vol.4 (No.3), Halaman 2-5.Dikutip pada 16 Desember 2020.URL : https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/INTUISI/article/view/13341
Setiyo Purwanto. (2008). MENGATASI INSOMNIA DENGAN TERAPI RELAKSASI. Jurnal Kesehatan. Vol.1 (No.2), Halaman 141-145. Dikutip pada 16 Desember 2020. URL : https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/1465/jurnal%20kes%20vol%201%20no%202%20g%20141-147.pdf?sequence=1&isAllowed=y
dr. Tjin Willy. 2018. Insomnia. Dikutip pada 16 Desember 2020 URL : https://www.alodokter.com/insomnia
RSP Gunadarma. 2016. Insomnia. Makalah. Dikutip pada 16 Desember 2020 URL : http://eprints.ums.ac.id/42202/3/BAB%20I%20dipta%20fix.pdf
SAPHIRAAYU. 2013. Insomnia. Makalah. Dikutip pada 16 Desember 2020 URL : http://eprints.undip.ac.id/44158/3/SAPHIRA_AYU_G2A009085_BAB_II.pdf

