Konten dari Pengguna

Benarkah Daddy Issue Selalu Soal Kurang Kasih Sayang Ayah?

Kirana Tita Kurnia

Kirana Tita Kurnia

Mahasiswa psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kirana Tita Kurnia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ayah dan anak di tepi pantai yang menggambarkan kedekatan emosional dalam keluarga. Sumber gambar: Pexels, foto oleh Rayyan Mohamed. Gambar digunakan sebagai ilustrasi umum, bukan representasi diagnosis psikologis tertentu.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ayah dan anak di tepi pantai yang menggambarkan kedekatan emosional dalam keluarga. Sumber gambar: Pexels, foto oleh Rayyan Mohamed. Gambar digunakan sebagai ilustrasi umum, bukan representasi diagnosis psikologis tertentu.

Istilah daddy issue sering muncul di media sosial, terutama ketika seseorang membahas hubungan, rasa takut ditinggalkan, atau kebiasaan mencari validasi dari pasangan. Istilah ini terdengar populer, bahkan kadang dipakai sebagai candaan. Namun, jika dilihat dari sudut pandang psikologi, pembahasan tentang daddy issue sebenarnya tidak sesederhana itu.

Banyak orang langsung mengaitkan daddy issue dengan anak yang kurang kasih sayang ayah. Padahal, pengalaman seseorang dengan figur ayah bisa sangat beragam. Ada yang tumbuh dengan ayah yang hadir secara fisik, tetapi tidak hadir secara emosional. Ada juga yang memiliki ayah yang keras, sulit diajak bicara, sering mengkritik, atau justru terlalu jauh sehingga anak tidak terbiasa merasa aman secara emosional.

Karena itu, daddy issue sebaiknya tidak dipahami sebagai label untuk menghakimi seseorang. Istilah ini lebih aman dilihat sebagai cara populer untuk menggambarkan luka atau pola relasi yang mungkin terbentuk dari pengalaman dengan figur ayah.

Saat Ayah Hadir, tetapi Tidak Terasa Dekat

Tidak semua anak yang tinggal bersama ayah merasa benar-benar dekat dengan ayahnya. Ada ayah yang bekerja keras untuk keluarga, tetapi jarang menunjukkan kasih sayang secara langsung. Ada yang memenuhi kebutuhan materi, tetapi tidak terbiasa bertanya tentang perasaan anaknya. Ada juga yang sebenarnya peduli, tetapi tidak tahu cara mengekspresikan kepedulian itu.

Dalam kondisi seperti ini, anak bisa tumbuh dengan perasaan bingung. Ia tahu ayahnya ada, tetapi tidak selalu merasa cukup dekat untuk bercerita. Ia tahu ayahnya bertanggung jawab, tetapi mungkin tetap merasa tidak benar-benar dipahami.

Pengalaman seperti ini bisa memengaruhi cara seseorang melihat hubungan. Saat dewasa, seseorang mungkin menjadi sangat takut ditinggalkan, sulit percaya pada orang lain, atau justru terlalu mudah bergantung pada pasangan karena ingin mendapatkan rasa aman yang dulu kurang terasa.

Daddy Issue Bukan Diagnosis Psikologis

Hal penting yang perlu dipahami adalah daddy issue bukan diagnosis resmi dalam psikologi. Istilah ini lebih banyak dipakai dalam percakapan sehari-hari dan media sosial. Karena itu, seseorang tidak bisa langsung menyebut dirinya atau orang lain memiliki daddy issue hanya karena memiliki masalah dalam hubungan.

Dalam psikologi, pengalaman dengan orang tua biasanya dipahami melalui konsep yang lebih luas, seperti pola keterikatan, pengalaman masa kecil, kebutuhan emosional, dan cara seseorang membangun hubungan dengan orang lain. Jadi, yang dilihat bukan hanya “ayahnya seperti apa”, tetapi juga bagaimana pengalaman itu membentuk cara seseorang memahami cinta, rasa aman, dan kepercayaan.

Misalnya, seseorang yang pernah merasa sering diabaikan bisa tumbuh menjadi pribadi yang sangat membutuhkan kepastian dari pasangan. Sementara itu, seseorang yang sering dikritik bisa menjadi terlalu takut salah dalam hubungan. Namun, pola-pola ini tetap tidak boleh disimpulkan secara sembarangan.

Kenapa Pengalaman dengan Ayah Bisa Berpengaruh?

Figur ayah sering menjadi salah satu sumber awal bagi anak dalam mengenal rasa aman, batasan, penghargaan, dan penerimaan. Ketika hubungan dengan ayah terasa hangat dan stabil, anak bisa lebih mudah belajar bahwa dirinya layak dicintai dan didengar.

Sebaliknya, jika hubungan dengan ayah terasa jauh, tidak konsisten, atau penuh tekanan, anak bisa membawa pengalaman itu ke dalam relasi berikutnya. Bukan berarti semua orang dengan pengalaman ayah yang kurang baik pasti memiliki masalah hubungan. Namun, pengalaman tersebut bisa menjadi salah satu faktor yang memengaruhi cara seseorang merespons kedekatan emosional.

Ada orang yang menjadi sangat mudah cemas ketika pasangan berubah sikap sedikit saja. Ada yang terus mencari perhatian karena takut tidak dianggap penting. Ada juga yang sulit menerima hubungan sehat karena sudah terbiasa dengan hubungan yang penuh ketegangan.

Pola ini bukan berarti seseorang rusak. Justru, pola tersebut bisa menjadi tanda bahwa ada pengalaman emosional yang belum benar-benar selesai dipahami.

Dalam Hubungan, Luka Lama Bisa Muncul Lagi

Kadang, seseorang baru menyadari luka masa lalunya ketika mulai menjalin hubungan dekat. Hal-hal kecil bisa terasa sangat sensitif. Pesan yang lama dibalas bisa membuatnya panik. Perubahan nada bicara pasangan bisa membuatnya merasa ditolak. Konflik kecil bisa terasa seperti ancaman besar.

Bagi orang lain, reaksi itu mungkin terlihat berlebihan. Namun, bagi orang yang mengalaminya, perasaan tersebut terasa nyata. Ia mungkin tidak hanya merespons kejadian saat ini, tetapi juga membawa rasa takut lama yang pernah terbentuk dari pengalaman sebelumnya.

Inilah mengapa hubungan romantis sering menjadi tempat munculnya pola lama. Bukan karena seseorang ingin membuat hubungan menjadi rumit, tetapi karena hubungan dekat sering menyentuh bagian diri yang paling rentan.

Psikodiagnostik Membantu Memahami Pola, Bukan Memberi Label

Dalam psikodiagnostik, kondisi seseorang tidak bisa dipahami hanya dari satu istilah seperti daddy issue. Psikolog perlu melihat pengalaman individu secara lebih utuh, mulai dari riwayat keluarga, pola emosi, cara berpikir, relasi sosial, sampai dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Wawancara, observasi, dan alat tes psikologi dapat membantu memahami pola tertentu, tetapi hasilnya tetap harus dibaca secara hati-hati oleh profesional. Tujuannya bukan untuk memberi label, melainkan memahami apa yang sebenarnya terjadi pada diri seseorang.

Misalnya, seseorang yang sulit percaya pada pasangan belum tentu hanya memiliki masalah dengan figur ayah. Bisa saja ada pengalaman pengkhianatan, pola asuh yang tidak konsisten, trauma relasi, atau masalah kepercayaan diri. Karena itu, membaca kondisi psikologis seseorang harus dilakukan secara menyeluruh.

Jangan Menjadikan Daddy Issue sebagai Ejekan

Masalahnya, istilah daddy issue sering dipakai untuk mengejek, terutama kepada perempuan. Seseorang yang terlihat mudah cemburu, sangat butuh perhatian, atau sulit lepas dari hubungan yang tidak sehat sering langsung diberi label daddy issue. Padahal, cara seperti ini bisa menyederhanakan pengalaman emosional seseorang yang mungkin jauh lebih kompleks.

Menggunakan istilah psikologi populer untuk bercanda memang terlihat ringan, tetapi bisa membuat orang merasa malu terhadap pengalaman hidupnya sendiri. Padahal, tidak ada orang yang bisa memilih sepenuhnya bagaimana pola relasi keluarganya saat kecil.

Yang lebih penting bukan menertawakan luka seseorang, melainkan memahami bahwa setiap orang bisa membawa pengalaman masa lalu ke dalam hubungan masa kini. Kesadaran ini membantu seseorang lebih berhati-hati dalam menilai diri sendiri maupun orang lain.

Mengenali Pola agar Tidak Terus Terulang

Jika seseorang merasa selalu terjebak dalam pola hubungan yang sama, seperti takut ditinggalkan, mudah bergantung, atau terus mencari validasi, langkah pertama bukan langsung menyalahkan diri sendiri. Langkah pertama adalah mengenali pola tersebut.

Pertanyaan sederhana bisa membantu. Apakah rasa takut ini muncul karena kejadian saat ini, atau karena pengalaman lama yang terasa mirip? Apakah hubungan ini benar-benar tidak aman, atau diri sendiri sedang sulit percaya karena pernah merasa tidak aman sebelumnya? Apakah kebutuhan untuk terus diyakinkan muncul karena pasangan tidak konsisten, atau karena diri sendiri belum merasa cukup berharga?

Pertanyaan seperti ini tidak selalu mudah dijawab sendiri. Jika pola tersebut sudah mengganggu hubungan, kepercayaan diri, atau keseharian, berkonsultasi dengan psikolog bisa menjadi langkah yang lebih aman.

Memahami Bukan Berarti Menyalahkan Ayah

Membahas daddy issue bukan berarti semua kesalahan harus diarahkan kepada ayah. Relasi keluarga sering kali rumit. Banyak ayah juga tumbuh dari lingkungan yang tidak terbiasa menunjukkan emosi, sehingga mereka tidak selalu tahu cara membangun kedekatan yang hangat dengan anak.

Namun, memahami latar belakang bukan berarti mengabaikan dampaknya. Seseorang tetap boleh mengakui bahwa ada bagian dirinya yang terluka, meskipun orang tuanya mungkin tidak berniat menyakiti.

Pada akhirnya, memahami pengalaman dengan ayah bukan untuk mencari siapa yang paling salah. Tujuannya adalah mengenali pola yang terbentuk, memahami kebutuhan emosional diri, dan belajar membangun hubungan yang lebih sehat.

Karena luka dari relasi masa lalu tidak harus terus menentukan cara seseorang mencintai dan dicintai. Dengan kesadaran, dukungan, dan proses yang tepat, seseorang tetap bisa belajar merasa aman tanpa harus terus mencari validasi dari hubungan yang melelahkan.

Referensi

American Psychological Association. (2013). Understanding psychological testing and assessment. https://www.apa.org/topics/testing-assessment-measurement/understanding

American Psychological Association. (2020). Guidelines for psychological assessment and evaluation. https://www.apa.org/about/policy/guidelines-psychological-assessment-evaluation.pdf

Bowlby, J. (1988). A secure base: Parent-child attachment and healthy human development. Basic Books.

Gillath, O., Karantzas, G. C., & Fraley, R. C. (2016). Adult attachment: A concise introduction to theory and research. Academic Press.

World Health Organization. (2022). Mental health: Strengthening our response. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/mental-health-strengthening-our-response

Oleh Kirana Tita Kurnia, Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog