Sosialisasi Pemanfaatan TOGA Menjadi Minuman Herbal Ala Rumah Tangga

Mahasiswa S1 Administrasi Bisnis, Universitas Brawijaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ayda Hita Kirana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
SIDODADI, LAWANG – Sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam program Mahasiswa Membangun Desa (MMD) 2026 yang diselenggarakan oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Universitas Brawijaya menggelar kegiatan sosialisasi pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan pengenalan QR Code bertajuk TOGAKU+ (TOGA Experience: Dari Kebun Menuju Gaya Hidup Sehat) di Desa Sidodadi, Kabupaten Lawang, Minggu (19/7/2026). Kegiatan ini menyasar ibu-ibu Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) RW 2 sebagai penggerak utama pemanfaatan TOGA di tingkat rumah tangga.
Kegiatan ini hadir sebagai jawaban atas persoalan pengelolaan lahan TOGA di Desa Sidodadi. Sesuai arahan pemerintah desa, setiap RW di Sidodadi sejatinya sudah memiliki lahan TOGA masing-masing. Namun dalam praktiknya, pengelolaan lahan tersebut masih minim. Tanaman ditanam, tapi jarang dimanfaatkan secara maksimal karena warga belum banyak mengetahui cara mengolahnya menjadi produk yang bisa dikonsumsi sehari-hari.
Sebagai solusi, mahasiswa memasang QR Code pada setiap tanaman di kebun TOGA RW 2. Ketika dipindai, kode tersebut mengarahkan warga ke buku saku digital yang memuat informasi nama tanaman dan khasiat kesehatannya. Langkah ini diharapkan menjawab kendala pengelolaan yang selama ini dihadapi, sekaligus memaksimalkan potensi lahan TOGA yang sebenarnya sudah tersedia di setiap RW.
Kedatangan mahasiswa disambut hangat oleh ibu-ibu PKK RW 2. Antusiasme warga terlihat sejak sesi sosialisasi dimulai, ditandai dengan banyaknya pertanyaan aktif seputar jenis tanaman, cara perawatan, hingga takaran bahan dalam pembuatan minuman herbal.
"Kami ingin masyarakat tidak hanya tahu bahwa tanaman ini ada, tapi juga paham cara mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk kesehatan keluarga sehari-hari," ujar Ayda, koordinator kegiatan.
Sebagai bentuk implementasi langsung, para peserta diajak mengikuti demonstrasi pembuatan minuman herbal berbahan dasar kumis kucing, jahe, pandan, dan madu. Resep ini dipilih karena bahannya mudah ditemukan, prosesnya sederhana, dan dapat langsung diterapkan di rumah masing-masing tanpa memerlukan alat khusus.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penyuluhan singkat mengenai manfaat TOGA dan cara kerja QR Code, dilanjutkan sesi diskusi dan tanya jawab untuk menampung pengalaman serta kendala yang selama ini dihadapi ibu-ibu PKK dalam merawat tanaman obat. Kegiatan ditutup dengan pembagian minuman herbal yang telah dikemas dalam botol kecil agar bisa dikonsumsi kembali di rumah.
Antusiasme warga semakin terasa saat sesi pencicipan minuman herbal tersebut. Sejumlah ibu PKK mengaku terkejut karena rasa minuman tidak terlalu pahit seperti yang mereka bayangkan sebelumnya, melainkan cenderung ringan dan enak di lidah berkat perpaduan pandan dan madu. Tidak sedikit peserta yang kemudian membawa pulang minuman tersebut untuk dikonsumsi kembali di rumah.
"Selama ini kami menanam TOGA tapi kurang tahu cara mengolahnya. Ternyata rasanya enak, tidak pahit seperti dugaan kami. Dengan adanya QR Code ini, kami juga jadi mudah melihat mengenai khasiat tanaman dengan mudah," ujar salah satu peserta, warga PKK RW 2 Desa Sidodadi.
Ibu Leli, Ketua Tim Penggerak PKK RW 2 Desa Sidodadi, turut mengapresiasi inisiatif mahasiswa tersebut. Menurutnya, program ini sejalan dengan upaya PKK dalam mendorong pola hidup sehat berbasis potensi lokal, sekaligus memberikan variasi baru dalam mengolah hasil kebun TOGA yang sebelumnya jarang dimanfaatkan secara maksimal.
Melalui TOGAKU+, mahasiswa berharap masyarakat Desa Sidodadi dapat lebih optimal memanfaatkan dan melestarikan tanaman obat keluarga sebagai bagian dari budaya hidup sehat yang berkelanjutan, sekaligus menjadikan media edukasi.
