Konten dari Pengguna

Fenomena BookTok: Narasi, Komunitas Virtual dan Budaya Pencitraan Literasi Gen-Z

Kiranti Bening

Kiranti Bening

Mahasiswi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta yang tertarik dengan buku dan kesetaraan perempuan.

·waktu baca 9 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kiranti Bening tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membaca dalam Era TikTok: Ketika Buku Menjadi Konten

Ilustrasi Booktokers (sumber: https://istockphoto.com/id/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Booktokers (sumber: https://istockphoto.com/id/)

Di tengah derasnya perkembangan digital dan budaya populer, media sosial saat ini berfungsi lebih dari sekadar tempat berinteraksi. Ia juga menjadi lahan untuk pembentukan identitas, nilai-nilai, serta adopsi kebiasaan baru dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu fenomena menarik yang muncul dari ranah digital adalah tren BookTok, sebuah komunitas virtual di TikTok yang berfokus pada aktivitas membaca dan berbagi konten berkaitan dengan buku. Fenomena ini tumbuh pesat, terutama generasi Z, yang mulai melihat membaca sebagai bagian dari gaya hidup dan ekspresi diri di dunia maya.

BookTok mampu menciptakan sebuah platform interaktif yang memungkinkan penggunanya tidak hanya membahas konten buku, tetapi juga menampilkan cara mereka membaca, menyusun buku dengan estetis, dan memberikan rekomendasi bacaan secara kreatif dan visual. Tren ini secara langsung mempengaruhi dunia literasi. Banyak buku, bahkan yang sudah lama dirilis, kembali memperoleh popularitas setelah viral di BookTok. Toko buku seringkali menambahkan label “viral di TikTok” sebagai bagian dari strategi pemasaran mereka. Dalam hal ini, BookTok memberikan angin segar bagi minat baca yang selama ini sering dianggap rendah, khususnya di kalangan anak muda di Indonesia.

Namun, di balik meningkatnya angka baca yang ditampilkan di media digital, terdapat pertanyaan-pertanyaan krusial: apakah BookTok benar-benar menggambarkan peningkatan yang signifikan dalam minat baca? Atau justru lebih menekankan aspek visual dan pencitraan? Apakah membaca dilakukan sebagai aktivitas intelektual atau telah menjadi tren budaya yang lebih menekankan pada tampilan? Fenomena ini menarik untuk dianalisis lebih mendalam, baik dari sudut pandang komunikasi dan media, maupun dari segi sosiologi budaya, karena mencerminkan cara masyarakat, khususnya generasi muda, berinteraksi dengan pengetahuan dan membentuk identitas di era digital.

Selain itu, BookTok juga menunjukkan bagaimana komunitas virtual terbentuk secara natural di media sosial. Di dalamnya terdapat interaksi sosial, pembentukan norma, bahkan replikasi nilai-nilai tertentu tentang "buku yang seharusnya dibaca" atau "buku yang menarik untuk ditampilkan. " Fenomena ini mencerminkan pergeseran cara pandang generasi muda terhadap aktivitas membaca—dari kegiatan sunyi menjadi bagian dari diskusi sosial yang lebih terbuka dan terkadang bersifat performatif.

Dengan mengamati bagaimana BookTok tumbuh di tengah masyarakat Indonesia yang beragam dan masih menghadapi tantangan dalam literasi, fenomena ini tidak bisa dipisahkan dari analisis sosial. Selain itu, budaya digital seringkali menciptakan dualitas antara esensi dan tampilan, serta antara konten dan kemasan. Oleh karena itu, penting untuk memahami BookTok tidak hanya sebagai tren sementara, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika sosial dan budaya yang lebih luas.

Di Balik Estetika BookTok

Fenomena BookTok yang berkembang di platform TikTok bukan hanya sekadar trend digital biasa. Ini adalah representasi dari budaya populer modern yang lahir dari interaksi manusia dengan teknologi dan media sosial. Dari sudut pandang sosiologi budaya, budaya populer tidak hanya membahas apa yang disukai banyak orang, tetapi juga cara nilai, identitas, dan hubungan sosial dibentuk dan dibangun dalam konteks tersebut. BookTok menawarkan metode baru untuk mengakses, mendiskusikan, dan bahkan memberikan makna pada aktivitas membaca buku.

Dahulu, membaca dipandang sebagai kegiatan yang hening, pribadi, dan individual, tetapi sekarang menjadi aktivitas sosial yang dapat dibagikan dan dinikmati oleh banyak orang. Generasi Z, yang paling aktif di dunia digital, menjadikan BookTok sebagai platform untuk mengekspresikan diri dan berinteraksi. Di sini, komunitas virtual muncul, yaitu kelompok yang terbentuk bukan karena tempat fisik, tetapi berdasarkan minat dan algoritma yang menyatukan mereka dalam satu lingkaran konten.

Dengan merujuk pada gagasan komunitas imajiner yang diajukan oleh Benedict Anderson, kita bisa memahami bagaimana individu yang belum pernah bertemu bisa merasakan keanggotaan dalam satu komunitas—dalam hal ini, komunitas pembaca. Mereka menciptakan nilai-nilai bersama, seperti preferensi buku yang dianggap "layak baca", estetika dalam menyusun rak buku, hingga cara membuat konten TikTok yang mencerminkan "selera komunitas". Semua ini menunjukkan bahwa BookTok memiliki dinamika sosial yang nyata meskipun berlangsung secara virtual.

Melalui lensa Pierre Bourdieu, fenomena ini dapat dianalisis menggunakan istilah modal budaya dan habitus. Modal budaya mengacu pada pengetahuan, preferensi, dan keahlian yang dimiliki individu dan dihargai dalam konteks sosial tertentu. Membaca buku—terutama yang sedang populer atau dianggap “berkelas”—dapat berfungsi sebagai bentuk modal budaya yang ditunjukkan di media sosial. Semakin banyak seseorang membaca dan memberikan ulasan tentang buku-buku yang sedang tren (seperti karya Taylor Jenkins Reid, Ali Hazelwood, atau penulis lokal yang sedang naik daun), semakin tinggi nilai sosial yang bisa diperoleh dalam komunitas BookTok. Di sisi lain, habitus, yang merupakan pola berpikir dan perilaku yang terbentuk oleh pengalaman sosial seseorang, juga terlihat dari bagaimana individu memilih buku, merespons bacaan, hingga menampilkan diri sebagai bagian dari "pembaca keren" di dunia maya.

Sementara itu, Erving Goffman, dengan teori dramaturginya, menunjukkan bagaimana individu dalam interaksi sosial selalu berperan seperti aktor yang tampil di panggung depan untuk memperlihatkan sisi terbaik dari dirinya. Dalam konteks ini, BookTok menjadi panggung ideal. Banyak pengguna tidak hanya berbagi pendapat tentang buku, tetapi juga menunjukkan diri mereka membaca di lokasi yang estetis, melakukan "book haul", atau merapikan rak buku dengan warna menarik agar lebih memikat. Aktivitas ini dapat dipandang sebagai bentuk pencitraan sosial—bukan hanya karena cinta terhadap buku, tetapi juga untuk mengekspresikan identitas tertentu kepada penonton mereka.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana makna praktik membaca telah berubah. Membaca tidak lagi terbatas pada menambah pengetahuan pribadi, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun identitas, mendapatkan pengakuan sosial, dan menunjukkan selera budaya. Ini tidak selalu negatif, karena BookTok juga berhasil membangkitkan kembali minat baca di kalangan remaja, yang sebelumnya dianggap menurun. Akan tetapi, penting untuk diingat bahwa aktivitas ini berlangsung dalam konteks algoritma media sosial yang mementingkan performa, visual, dan keterlibatan audiens.

Di sisi yang berbeda, BookTok juga menciptakan hierarki budaya baru, di mana beberapa buku dianggap lebih "pantas" untuk dibaca karena desain sampulnya, ketenaran, atau daya tarik emosional yang dimilikinya. Hal ini dapat menimbulkan tekanan sosial yang halus di kalangan remaja untuk membaca karya-karya yang sedang populer agar bisa diterima atau dianggap "valid" dalam komunitas tersebut. Oleh karena itu, walaupun BookTok tampak inklusif dan menyenangkan, ia juga memuat dinamika sosial yang rumit, seperti dorongan sosial, citra, dan eksklusi budaya.

Dengan demikian, BookTok tidak semata-mata berkaitan dengan buku. Ia mencerminkan bagaimana masyarakat—terutama generasi Z—berinteraksi dengan identitas, kehidupan sosial, dan budaya digital. Ia memberikan kesempatan baru untuk literasi, tetapi juga menantang kita untuk memahami makna membaca sebagai aktivitas sosial. Melalui sudut pandang sosiologi, kita dapat mengamati bahwa BookTok merupakan bagian dari perubahan sosial yang menghubungkan budaya populer, identitas pribadi, dan dinamika komunitas di dunia digital saat ini.

Peluang dan Tantangan Literasi Digital dalam Pendidikan

Fenomena BookTok yang muncul dan berkembang di platform media sosial, terutama TikTok, memberikan refleksi menarik ketika dikaitkan dengan sektor pendidikan. Di satu sisi, kehadiran tren ini membawa harapan baru bagi dunia literasi yang sebelumnya dianggap tidak aktif, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa. BookTok menunjukkan bahwa kegiatan membaca kini tidak lagi dianggap sebagai aktivitas yang kuno atau membosankan, melainkan telah berubah menjadi sebuah kegiatan yang tren, menarik, dan bahkan dianggap keren oleh generasi muda.

Dari perspektif pendidikan, fenomena ini bisa dilihat sebagai kesempatan untuk memperkuat kembali budaya literasi di institusi pendidikan, baik di sekolah maupun di universitas. Banyak guru dan dosen yang merasa kesulitan dalam menumbuhkan minat baca di kalangan siswa dan mahasiswa kini dapat memikirkan cara yang lebih relevan dengan konteks digital kehidupan mereka. Sebagai contoh, mereka bisa mendorong siswa untuk merekomendasikan buku melalui video pendek, membuat konten yang merefleksikan bacaan, atau mengadakan diskusi interaktif seperti yang dilakukan di BookTok. Cara ini tidak hanya membuat membaca menjadi lebih menyenangkan, tetapi juga dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, serta kreativitas siswa.

Namun, di sisi lain, fenomena ini juga menghadirkan tantangan baru yang perlu diperhatikan dalam dunia pendidikan. BookTok, yang sangat fokus pada visualisasi dan cepat dalam menyebarkan konten, berpotensi mendorong budaya membaca yang lebih mendahulukan penampilan daripada pemahaman. Banyak pengguna yang memilih membaca buku hanya untuk mengikuti tren atau membuat konten yang stylish, tanpa benar-benar peduli pada isi atau nilai dari bacaan tersebut. Hal ini tentu saja berisiko menciptakan literasi yang dangkal, di mana membaca hanya dianggap sebagai alat untuk memperbaiki citra, bukan sebagai proses intelektual yang mendalam.

Lebih lanjut, BookTok juga berpotensi memperkuat budaya seleksi yang bias. Buku-buku yang sering dibahas adalah yang memiliki genre populer, seperti romansa atau fiksi remaja, yang memiliki sampul menarik dan mudah diterima secara emosional. Sementara itu, buku-buku dengan tema yang lebih berat, non-fiksi, atau yang tidak terkesan "estetik" justru cenderung terabaikan. Dalam hal ini, dunia pendidikan perlu hadir untuk menyeimbangkan antara tren dengan konten. Penting bagi tenaga pendidik untuk tetap mendorong siswa menjelajahi berbagai jenis bacaan dan tidak hanya terfokus pada apa yang sedang viral.

Refleksi penting lain adalah bagaimana BookTok memperlihatkan potensi besar generasi Z untuk berpartisipasi dalam budaya literasi, asal pendekatannya sesuai dengan dunia mereka. Ini merupakan perhatian penting bagi lembaga pendidikan: menciptakan budaya baca tidak lagi terkait dengan paksaan atau penekanan terhadap aturan, tetapi tentang menyediakan ruang yang relevan, inklusif, dan menghargai ekspresi individual. Membaca bukan hanya merupakan kewajiban akademik, melainkan juga bagian dari pencarian identitas dan ekspresi sosial.

Dengan memahami dinamika yang dihadirkan BookTok, dunia pendidikan dapat mengambil sikap yang bijaksana: bukan menolak budaya digital, tetapi menyambutnya dan mengarahkannya agar bisa benar-benar memperkuat karakter siswa. Literasi di era digital tidak bisa lagi dibatasi hanya pada teks cetak, melainkan harus mampu hidup dan berinteraksi dalam dunia visual, komunitas maya, serta interaksi sosial yang terus berkembang.

Tren Hari Ini, Kebiasaan Besok

Ilustrasi Komunitas Sosial (sumber: https://istockphoto.com/id/)

Fenomena BookTok di TikTok memperlihatkan bagaimana kebiasaan membaca telah bertransformasi menjadi bagian dari budaya populer digital. Komunitas virtual ini bukan hanya menyajikan rekomendasi buku, tetapi juga menjadi ruang sosial untuk membangun identitas, berbagi emosi, dan menciptakan koneksi antar individu melalui media yang penuh estetika dan ekspresi. Dari kacamata sosiologi, BookTok mencerminkan dinamika budaya generasi Z yang hidup dalam dunia cepat, visual, dan terkoneksi secara digital.

Meski demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa dalam fenomena ini juga terdapat praktik pencitraan dan efek FOMO (fear of missing out) yang cukup kuat. Banyak orang membeli buku hanya karena sedang viral, atau merasa “perlu” membaca agar tidak tertinggal dari tren. Namun, alih-alih memandang hal ini secara pesimis, kita justru bisa melihat sisi positifnya. Sekalipun niat awalnya dilandasi keinginan tampil keren atau ikut tren, keinginan untuk membeli buku—sekecil apa pun—adalah langkah awal menuju kebiasaan membaca yang lebih baik.

Dalam banyak kasus, ketertarikan awal pada buku karena alasan visual atau sosial justru menjadi gerbang masuk menuju keterlibatan literasi yang lebih dalam. Seseorang mungkin membaca karena estetika sampulnya, tapi dari situ tumbuh minat terhadap isi cerita, lalu berlanjut mencari bacaan lain yang sejenis. Proses ini tidak selalu ideal, tapi tetap berharga.

Dunia pendidikan dapat memanfaatkan momentum ini untuk membangun budaya literasi yang lebih kontekstual, dengan tidak hanya berfokus pada isi, tetapi juga pada cara menyampaikan dan merespon minat baca generasi saat ini. BookTok telah membuktikan bahwa literasi bisa tumbuh dalam berbagai bentuk, termasuk yang lahir dari budaya digital. Tantangannya sekarang adalah bagaimana menjadikan tren ini bukan hanya gaya hidup sesaat, tapi kebiasaan jangka panjang yang memperkuat karakter dan pemahaman generasi muda.