Konten dari Pengguna

Kisah di Antara Halaman Buku

Evelynn Willyana

Evelynn Willyana

Evelynn Willyana, kelahiran Medan 2009. Siswi kelas XI SMA Trinitas. Menulis untuk menginspirasi

·waktu baca 8 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Evelynn Willyana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi membaca di toko buku. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi membaca di toko buku. Foto: Shutterstock

Pada sebuah kota nan hangat oleh mentari yang selalu bersinar cerah, terdapat sebuah toko buku yang terletak di penghujung jalan. Toko buku itu adalah satu-satunya tempat di tengah keramaian kota yang memiliki keheningan yang begitu menenangkan. Dalam ruangannya yang dipenuhi aroma khas kertas dan cahaya yang lembut dari lampu kecil di sepanjang rak, di sanalah Seza, gadis berusia 15 tahun itu, selalu menyambut pelanggan dengan senyum dan membantu mereka menemukan buku yang dicari. Ia adalah putri dari pemilik toko buku tersebut.

Harvey, seorang lelaki yang terpesona dengan keindahan tempat itu, melangkah masuk ke dalam toko buku kecil yang tampak sederhana, tetapi menenangkan. Kekaguman terpancar dari wajahnya saat melihat berbagai buku yang tersusun rapi di rak. Saat Seza mendekat dengan senyuman ramah, raut canggung terlihat di wajah Harvey, namun dengan cepat ia menyambut Seza dengan senyuman sopan. Saat Seza menghampiri Harvey, ia merasa tak asing dengan seragam sekolah yang digunakan Harvey. Seza berpikir bahwa lelaki itu adalah kakak kelasnya di sekolah.

“Selamat datang! Apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya Seza penuh kehangatan.

“Saya hanya melihat-lihat. Terima kasih,” jawab Harvey seraya tersenyum.

Keesokan harinya di kantin sekolah pada saat jam makan siang, Seza melihat lelaki yang ia temui kemarin. Diliputi rasa penasaran, Seza memutuskan untuk bertanya kepada temannya, “Bel, lo tau gak cowok yang berdiri di sana, yang lagi minum kopi? Gue rasa gue pernah lihat dia, deh, tapi nggak tahu itu siapa.” Abelva pun melihat ke arah yang ditunjuk Seza. “Oh, itu mah anak kelas 12. Kalo nggak salah namanya Harvey deh,” Seza mengangguk, tanda bahwa ia paham. “Emangnya lo pernah lihat dia di mana?” tanya Abelva penasaran. “Jadi, kemarin kan orang tua gue lagi ada urusan, terus gue diminta ngejaga toko buku sendirian. Nah kemarin tuh cowok datang ke toko, pas gue liat seragamnya ternyata sekolah di sini,” jelas Seza.

Setiap kali Harvey datang ke toko itu, mereka saling bertukar pandang dan terlibat dalam percakapan ringan. Mereka menemukan kesamaan dalam kegemaran membaca dan selalu menemukan topik menarik untuk dibicarakan. Terkadang mereka berjanji untuk makan bersama saat di sekolah.

Namun, di balik kedekatan yang perlahan tumbuh, terdapat perbedaan yang belum mereka sadari sepenuhnya. Keduanya memiliki impian besar tentang masa depan. Harvey sering membayangkan dirinya melanjutkan pendidikan di Inggris. Sementara itu, Seza juga menyimpan cita-cita untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri, tepatnya Amerika Serikat. Selain itu, latar belakang keluarga dan keyakinan yang mereka anut pun tidak sama.

Saat itu, perbedaan-perbedaan tersebut belum berarti apa-apa bagi mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, hal-hal itulah yang akan menguji hubungan mereka.

Hari-hari terus berlalu, dan hubungan mereka semakin erat. Tetapi ada kesedihan yang tersembunyi di balik senyum mereka, seolah ada keinginan yang terpendam yang tidak pernah terungkap di antara percakapan mereka. Tak satu pun dari mereka berani mengungkapkan perasaan yang sebenarnya.

Suatu hari saat bertemu di sekolah, Seza memberikan sebuah buku jurnal kecil pada Harvey. “Buat nulis semua impian lo, Kak,” ucapnya dengan senyum lembut. Harvey merasa tersentuh dengan pemberian itu dan berjanji dalam hati bahwa ia akan menuliskan segala impian yang selama ini ia simpan.

Pada suatu malam yang sunyi, Harvey duduk di balkon rumahnya, menatap langit yang berbintang. Perlahan, ia membuka halaman pertama dan mulai menuliskan segala impian dan keinginannya untuk melangkah ke dunia luar yang ia bayangkan.

Sementara itu, Seza duduk di meja belajarnya. Di tangannya, tergenggam beberapa foto dirinya bersama Harvey. Pandangannya kosong, larut dalam lamunan. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan kehadiran ibunya yang sedari tadi memperhatikannya. Sontak Seza langsung menyimpan foto-foto yang sedari tadi ia pandangi.

“Siapa itu Sez?” tanya wanita itu. “Temen, ma,” jawab Seza dengan gugup.

“Jadi itu yang setiap sore selalu mampir ke toko?” Pertanyaan itu sontak membuat Seza terdiam.

“Jauhi lelaki itu, Seza. Kamu harus belajar.” ucap wanita itu dengan tegas.

Seza terpaku mendengar itu. Wanita itu diam sebelum pergi, menatap mata Seza yang mulai berkaca-kaca. Gadis itu menggigit bibir bawahnya menahan tangis. Sejak kecil Seza terbiasa hidup dengan berbagai tuntutan. Baginya, nilai sempurna dan prestasi selalu menjadi prioritas. Tak heran jika ibunya tidak pernah menyukai kedekatannya dengan laki-laki.

Suatu malam, toko buku itu mengadakan pesta kecil untuk merayakan ulang tahun ke lima sejak pertama kali berdiri. Harvey hadir dengan membawa buket bunga dan senyuman hangat di wajahnya. Malam itu mereka tertawa bersama, berbagi cerita, dan menikmati kebersamaan yang terasa begitu berharga. Di tengah-tengah keceriaan itu, mata mereka bertemu dalam pandangan yang berbicara tanpa kata. Ada getaran yang terasa di antara mereka, seperti gelombang yang berbisik di lautan. Mereka merasa ada sesuatu yang ingin mereka ungkapkan.

Keesokan harinya, Seza menulis surat panjang untuk Harvey, menceritakan tentang keinginannya yang selama ini ia simpan. Ia menuliskan betapa berharganya hubungan mereka, sekaligus keinginannya untuk mengejar kebebasan dan masa depan yang ia dambakan.

Harvey menerima surat itu dengan perasaan bercampur aduk. Ia membaca surat itu berulang kali, mencerna setiap kata yang ditulis Seza. Ia merasa bahagia untuk Seza, namun juga merasa akan kehilangan kehadirannya.

Pada suatu malam yang gelap, mereka berjanji untuk bertemu di taman kompleks dekat rumah Seza. Dengan suasana yang canggung, mereka saling bertatap mata satu sama lain.

“Kak!”

“Sez..”

Keduanya tersenyum kikuk setelah menyapa secara bersamaan.

Lo duluan aja, Sez,” ujar Harvey pelan. “Sebenernya… gue,” ucap Seza gugup.“Gue suka sama lo kak…” tutur Seza.

Pernyataan itu berhasil membuat Harvey terdiam. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.

“Sez…” lirih Harvey dengan mata berkaca-kaca.

Lo gak suka gue ya kak?” tanya Seza dengan suara bergetar.

Harvey menggeleng pelan.

Gue juga suka sama lo kok Sez, tapi…”

Mata Seza membesar. Namun sebelum senyumnya sempat berkembang, Harvey kembali berbicara.

"Tapi gue nggak tahu hubungan ini bisa dibawa ke mana."

Seza terdiam.

“Sebentar lagi gue lulus… dan gue bakal lanjut kuliah di Inggris. Dan kita juga tahu... ada banyak hal yang bikin semuanya nggak gampang.”

Pernyataan itu membuat Seza hampir menangis. Harvey yang menyadari hal itu sontak membawa Seza ke dalam dekapannya.

Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam dalam pelukan yang hangat.

“Udah... jangan nangis, gimana kalo kita quality time selama dua minggu terakhir, sebelum gue pergi. Ke pantai, nonton bioskop, atau kemana pun yang lo mau.” Ujar Harvey yang dijawab dengan anggukan oleh Seza.

Hari-hari berikutnya menjadi kenangan yang tak akan mereka lupakan. Mereka berjalan di tepi pantai saat senja, menonton film bersama, dan menghabiskan waktu berjam-jam di toko buku tempat kisah mereka bermula.

Setiap detik terasa berharga karena mereka tahu waktu terus berjalan menuju perpisahan.

Hari kelulusan pun tiba. Seza datang menemui Harvey dengan membawa buket bunga dan paper bag yang berisi foto-foto kenangan mereka. Harvey menggenggam tangan Seza dengan lembut, memberikan senyuman penuh makna.

“Mau anter gue ke bandara nggak? Nanti sore,” tanyanya.

“Hari ini banget berangkatnya, Kak?” tanya Seza dengan wajah murung.

Harvey mengangguk.

“Jam enam sore. Nanti gue jemput lo,” ujar Harvey.

Sore itu, langit mulai berubah jingga saat mereka tiba di bandara. Langkah mereka terasa lebih lambat dari biasanya, seolah keduanya berharap waktu berhenti sejenak.

Harvey menatap Seza dan menggenggam tangannya erat.

Gue harus pergi, Sez.”

Seza mengangguk, meski hatinya terasa berat.

Gue ngerti, Kak. Pergilah dan kejar mimpi lo. Gue bakal doain lo dari sini.”

Tanpa perlu banyak kata, mereka saling berpelukan.

Pelukan itu hangat, tapi terasa menyakitkan karena keduanya tahu bahwa perpisahan ini tak bisa dihindari.

Sebelum berpisah, mereka mengambil sebuah foto bersama.

“Kalo udah sampe jangan lupa kabarin gue ya, Kak!” pinta Seza dan dibalas dengan anggukan oleh Harvey.

Panggilan keberangkatan terdengar dari pengeras suara.

Gue harus pergi sekarang Sez,” ucap Harvey.

Harvey mulai berjalan menuju boarding gate, sementara Seza memandang sosok itu dengan rasa kehilangan yang mendalam.

Bulan demi bulan berlalu.

Meski terpisah jarak dan waktu, mereka tetap menjaga kedekatan hubungan dengan bertukar kabar melalui pesan, telepon, dan panggilan video.

Harvey menjaga jurnalnya dengan rapi. Setiap halaman dipenuhi cerita tentang kehidupan barunya, dan perasaan yang tak pernah benar-benar hilang.

Hingga suatu sore, sebuah paket tiba di depan rumah Seza.

Dengan rasa penasaran, ia membukanya.

Di dalamnya terdapat jurnal kecil yang dulu pernah ia berikan kepada Harvey.

Perlahan, ia membuka halaman demi halaman yang telah dipenuhi tulisan tangan lelaki itu.

Tentang impian.

Tentang perjalanan.

Tentang kerinduan.

Dan tentang dirinya.

Di halaman terakhir, terselip sebuah surat.

Harvey menuliskan bahwa di antara segala hal yang ia alami, ada satu yang tak pernah terlupakan: pertemuan mereka. "Terima kasih karena pernah menjadi bagian terindah dari perjalanan hidupku."

Seza tersenyum, membalas surat Harvey dalam hatinya.

Meskipun jarak memisahkan mereka, mereka telah menemukan kebahagiaan dalam membiarkan satu sama lain mengejar impian masing-masing. Di dalam jurnal itu Seza menuliskan satu kalimat, “Kisah kita adalah bukti bahwa cinta tak selalu berupa pertemuan, tetapi juga tentang memberi kebebasan kepada orang yang kita cintai untuk mengejar apa yang mereka inginkan.”

Mereka mungkin berpisah, namun kisah mereka tetap hidup, melekat dalam setiap halaman jurnal yang mereka miliki. Sesekali, mereka mungkin hanya kenangan yang muncul di balik jarak dan waktu, namun keberanian dan kehangatan yang mereka bagikan selalu hadir di hati mereka masing-masing.

Toko buku kecil itu pada akhirnya tetap berdiri, menyimpan banyak kisah di setiap halaman buku yang tersusun rapi. Dan di sana, dalam keheningan yang lembut, cerita hubungan hangat Seza dan Harvey tetap menjadi salah satu kisah paling indah yang pernah terjadi di antara buku-buku yang mereka cintai.

-Selesai-