Konten dari Pengguna

Dari Kotoran Sapi Jadi Api Biru, Cara Mahasiswa KKN Kenalkan Biogas Sederhana

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fawaz Shandy Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi warga Dusun Teluk Lombok, Desa Sangkima, Kecamatan Sangatta Selatan, Kutai Timur, kotoran sapi selama ini hanya berakhir di dua tempat: dibuang begitu saja, atau paling tidak jadi pupuk kandang. Tidak ada yang menyangka limbah itu bisa menyalakan api.

Namun pada akhir Juli lalu, warga menyaksikan sendiri bagaimana kotoran sapi dan daun kangkung yang difermentasikan dalam sebuah biodigester mini berhasil menghasilkan gas, dan gas itu terbakar menjadi nyala api berwarna biru — bukan dari tabung LPG, melainkan dari limbah yang selama ini dianggap tidak berguna.

Momen itu menjadi puncak dari program Ecogas Teluk Lombok, sebuah kegiatan edukasi dan praktik pemanfaatan limbah organik menjadi biogas yang digagas oleh mahasiswa KKN Bina Desa Kelompok 7 Universitas Mulawarman yang bekerja sama dengan Pertamina EP Sangatta Field.

Program ini digagas oleh Fawaz Shandy Aulia, seorang mahasiswa Universitas Mulawarman, yang ingin memperkenalkan pemanfaatan limbah organik sebagai sumber energi alternatif yang bisa diterapkan dalam skala rumah tangga, dengan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar warga.

Biodigester mini yang digunakan dalam program Ecogas Teluk Lombok, dirakit dari galon bekas dan ban dalam sebagai penampung gas sederhana. (Dok. KKN Bina Desa Kelompok 7 Universitas Mulawarman)

Uji coba dimulai pada 22 Juli 2026. Bahan yang digunakan sederhana saja: kotoran sapi, daun kangkung, dan air. Kotoran sapi berperan penting dalam proses ini karena secara alami mengandung mikroorganisme yang membantu menguraikan bahan organik, sementara daun kangkung difermentasikan bersamanya sebagai tambahan bahan organik.

Sebelum dimasukkan ke biodigester, daun kangkung terlebih dahulu dilayukan dan dicacah hingga sekitar 4 sentimeter, lalu dicampur dengan kotoran sapi dan air dengan perbandingan 1:3:2 hingga membentuk campuran menyerupai lumpur atau slurry. Campuran inilah yang kemudian difermentasi secara anaerob, yaitu diuraikan tanpa kehadiran oksigen, di dalam biodigester.

Mahasiswa KKN mencampur kotoran sapi, daun kangkung, dan air hingga membentuk slurry sebelum dimasukkan ke dalam biodigester. (Dok. KKN Bina Desa Kelompok 7 Universitas Mulawarman)

Sembilan hari kemudian, gas yang terbentuk mulai dialirkan lewat selang dan katup sederhana menuju titik pembakaran. Fawaz menjelaskan, pada beberapa hari pertama gas yang keluar belum bisa langsung digunakan.

Untuk biogas ini, pada hari pertama sampai ketiga gas awal perlu dibuang terlebih dahulu karena masih banyak mengandung karbon dioksida,” ujar Fawaz.

Setelah komposisinya matang, barulah gas yang didominasi metana ini bisa dibakar dan menghasilkan nyala api biru. Puncaknya terjadi pada 31 Juli 2026, saat kegiatan sosialisasi dan praktik bersama warga digelar. Bagi sebagian warga, momen ini menjadi pengalaman baru yang membuka mata bahwa limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata bisa jadi sumber energi.

Nyala api biru dari uji coba biogas Ecogas Teluk Lombok, menandakan gas metana hasil fermentasi telah siap digunakan sebagai bahan bakar. (Dok. KKN Bina Desa Kelompok 7 Universitas Mulawarman)

Mahasiswa KKN tidak berhenti pada demonstrasi. Warga juga diajak mencoba langsung, mulai dari mempersiapkan bahan, mencacah daun kangkung, mencampur slurry, hingga memahami cara kerja sistem penyaluran gas dari biodigester.

Saya baru tahu kotoran sapi bisa jadi gas. Selama ini cuma dibuang atau jadi pupuk saja,” kata Pak Mahmud, salah satu warga yang mengikuti kegiatan.

Kesan serupa disampaikan Ibu Maria, Sekretaris RT 21. Menurutnya, pemanfaatan limbah menjadi biogas menarik karena bahan bakunya mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

Saya senang diajari langsung. Pertama lihat di Bontang, dan baru kali ini ada di Teluk Lombok. Apalagi bahan bakunya ada terus,” ujar Ibu Maria.

Mahasiswa KKN memberikan sosialisasi program Ecogas Teluk Lombok kepada warga Dusun Teluk Lombok. (Dok. KKN Bina Desa Kelompok 7 Universitas Mulawarman)

Bagi Fawaz, program Ecogas Teluk Lombok tidak dimaksudkan berhenti sebagai kegiatan demonstrasi selama KKN saja. Ia berharap warga bisa melanjutkan dan mengembangkan sendiri teknologi ini setelah mahasiswa KKN selesai bertugas.

Harapannya masyarakat bisa melanjutkan dan mengembangkan teknologi ini secara mandiri. Jadi bukan hanya melihat saat demonstrasi, tetapi benar-benar bisa diterapkan di rumah,” jelas Fawaz.

Selain menghasilkan gas untuk bahan bakar, proses fermentasi ini juga menyisakan digestate yang berpotensi diolah menjadi pupuk organik. Artinya, satu biodigester sederhana bisa memberi dua manfaat sekaligus: energi alternatif dan pengelolaan limbah organik yang selama ini menumpuk begitu saja di lingkungan warga.

Dari kotoran sapi, daun kangkung, dan sebuah biodigester mini, Ecogas Teluk Lombok membuktikan bahwa inovasi energi tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit — kadang, ia justru lahir dari sesuatu yang sehari-hari dianggap sebagai limbah.

Mahasiswa KKN Bina Desa Kelompok 7 Universitas Mulawarman bersama warga dan anak-anak Dusun Teluk Lombok usai kegiatan sosialisasi Ecogas Teluk Lombok. (Dok. KKN Bina Desa Kelompok 7 Universitas Mulawarman)