Konten dari Pengguna

Kiprah UMKM Konveksi Sebagai Penggerak Utama Perekonomian Lokal Di Desa Tampung

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari KKN 94 UINSA Desa Tampung, Rembang, Pasuruan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Konveksi telah menjadi salah satu identitas sekaligus keunggulan UMKM di Desa Tampung, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, menunjukkan kapasitasnya sebagai salah satu sentra ekonomi kreatif berbasis masyarakat.

Foto 1 : Konveksi Desa Tampung, Rembang, Pasuruan.
zoom-in-whitePerbesar
Foto 1 : Konveksi Desa Tampung, Rembang, Pasuruan.

Di tengah pesatnya perkembangan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Desa Tampung, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, menunjukkan kapasitasnya sebagai salah satu sentra ekonomi kreatif berbasis masyarakat. Salah satu sektor yang menjadi keunggulan desa ini adalah industri konveksi yang tumbuh dari skala rumah tangga hingga mampu memenuhi permintaan pasar dari berbagai daerah.

Kondisi tersebut tidak hanya mencerminkan tingginya produktivitas masyarakat, tetapi juga menunjukkan bahwa UMKM berbasis konveksi memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan warga.

Konveksi telah menjadi salah satu identitas sekaligus keunggulan UMKM di Desa Tampung, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan. Usaha ini mulai berkembang sejak tahun 1995 melalui H. Jabir sebagai pelopor, kemudian mengalami perkembangan yang pesat pada periode 2013–2018 hingga kini terdapat sedikitnya tujuh konveksi yang aktif beroperasi.

Sebagian besar merupakan usaha berskala menengah hingga besar yang menerapkan sistem maklon, yaitu memproduksi pakaian berdasarkan pesanan pelanggan tanpa memasarkan merek sendiri. Bahkan seluruh proses produksi, mulai dari pembuatan desain hingga penjahitan, dilakukan secara mandiri dengan menggunakan mesin milik sendiri. Banyaknya konveksi yang tersebar, terutama di Dusun Krajan dan Dusun Tampung Selatan, menjadikan sektor ini sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat desa.

Beragam produk dihasilkan oleh pelaku usaha konveksi, mulai dari busana muslim seperti baju takwa, abaya dan pakaian tidur perempuan. Pemasaran produk masih mengandalkan jaringan relasi, pelanggan tetap, melalui rekomendasi dari teman, mitra usaha, maupun pelanggan yang telah bekerja sama dalam jangka waktu lama, sementara pemanfaatan pemasaran digital belum dilakukan secara optimal karena keterbatasan waktu, modal, dan keahlian dalam menggunakan media digital. Kisah Pemilik Konveksi Desa Tampung

Foto 2 : Konveksi Pak Hasym, Dsn. Krajan, Tampung, Rembang, Pasuruan.

Pak Hasyim merupakan salah satu pelaku usaha konveksi di Desa Tampung. Perjalanan panjangnya di industri konveksi dimulai sejak beliau menjadi buruh jahit selama kurang lebih 10 tahun, hingga akhirnya pada empat tahun terakhir ia memberanikan diri mendirikan usaha produksi baju taqwa secara mandiri, berawal dari memanfaatkan limbah kain garment, lalu berkembang hingga memiliki puluhan mesin dan mampu memproduksi sekitar 2.000 potong pakaian setiap minggunya.

Keuletan Pak Hasyim terlihat dari kemampuannya bertahan di tengah guncangan pandemi COVID-19 dengan cepat beralih memproduksi masker secara massal, serta tetap tangguh menghadapi lonjakan harga bahan baku dengan strategi pengelolaan stok yang ketat. Produknya tidak hanya memenuhi pasar lokal, tetapi telah menembus pesanan antar pulau dan berbagai pondok pesantren. Pak Hasyim berkomitmen dalam memberdayakan masyarakat sekitar, dengan menggaji 30 hingga 60 tenaga kerja lokal yang mayoritas adalah ibu rumah tangga dan pelajar setempat dengan menggunakan sistem kerja fleksibel.

Foto 3 : Konveksi Pak Khoiri, Dsn. Tampung Selatan, Tampung, Rembang, Pasuruan.

Salah satu perintis usaha konveksi di desa Tampung lainnya yaitu Pak Khoiri yang memulai perjalanan usahanya pada tahun 2012, berawal dari keterampilan menjahit yang ditekuni sejak lulus SMP dan pengalamannya bekerja di konveksi lain, sebelum akhirnya memberanikan diri membuka usaha sendiri dengan fokus pada produksi pakaian muslim. Pak Khoiri mengandalkan sistem pemasaran melalui bos maklon atau jual jasa, tanpa terlibat dalam penjualan daring. Kapasitas produksi usahanya menghasilkan 100 hingga 300 produk, khusus pada puncak musim menjelang Ramadan, target produksinya bisa naik drastis hingga 500 baju per minggu.

Di tengah segala keterbatasan, Pak Khoiri tetap bercita-cita mengelola sendiri jalur pemasaran, desain, dan keuangan agar tidak terus bergantung pada penyalur, sebuah langkah strategis yang diharapkan mampu membawa konveksi miliknya kembali bersaing dan semakin dikenal di era digital. Tantangan yang Dihadapi Pelaku UMKM

Terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi para pemilik Konveksi, salah satunya tantangan yang paling dirasakan adalah persaingan dengan produk pabrikan dan produk yang dijual secara online. Saat ini banyak masyarakat lebih memilih membeli pakaian melalui marketplace karena harganya lebih murah dan pilihannya lebih beragam.

Sementara itu, pemasaran yang dilakukan oleh pelaku UMKM masih banyak mengandalkan cara-cara konvensional, seperti melalui reseller, pelanggan tetap, atau rekomendasi dari mulut ke mulut. Kondisi ini membuat jangkauan pemasaran menjadi lebih terbatas. Selain itu, penggunaan teknologi digital untuk promosi dan penjualan juga belum maksimal sehingga peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas belum bisa dimanfaatkan secara optimal.

Selain persaingan pasar, naik turunnya harga bahan baku juga menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha konveksi. Harga kain, benang, hingga bahan pendukung lainnya sering mengalami perubahan yang berdampak langsung pada biaya produksi. Ketika harga bahan baku naik, keuntungan yang diperoleh menjadi lebih kecil karena harga jual produk tidak selalu bisa dinaikkan.

Keterbatasan modal juga membuat pelaku usaha harus lebih berhati-hati dalam membeli stok bahan maupun menambah peralatan produksi yang lebih modern. Tidak hanya itu, regenerasi tenaga kerja juga menjadi perhatian penting. Saat ini semakin sedikit anak muda yang tertarik untuk belajar dan bekerja di bidang konveksi, padahal keterampilan menjahit sangat dibutuhkan untuk menjaga kualitas dan kelancaran produksi.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan tersebut, Pak Khoiri dan Pak Hasyim tetap berupaya mempertahankan usahanya dengan mengandalkan pengalaman, ketekunan, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dengan dukungan teknologi dan peningkatan keterampilan sumber daya manusia, usaha konveksi lokal memiliki peluang yang besar untuk terus berkembang di masa mendatang. Peluang Pengembangan UMKM

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, usaha konveksi di Desa Tampung sebenarnya masih memiliki peluang yang cukup besar untuk berkembang. Salah satu peluang yang bisa dimanfaatkan adalah penggunaan media sosial dan marketplace sebagai sarana promosi dan penjualan. Saat ini banyak orang mencari dan membeli produk melalui internet, sehingga media seperti Facebook, Instagram, TikTok, maupun marketplace dapat menjadi cara yang efektif untuk memperkenalkan produk kepada lebih banyak calon pembeli.

Dengan memanfaatkan pemasaran digital, produk konveksi yang sebelumnya hanya dikenal di sekitar desa atau daerah tertentu bisa dipasarkan ke berbagai wilayah lain. Selain itu, pelaku usaha juga dapat terus melakukan inovasi pada desain produk agar lebih menarik dan sesuai dengan selera pasar. Produk yang memiliki model menarik, kualitas yang baik, dan ciri khas tersendiri tentu akan lebih mudah bersaing dengan produk lain yang sudah beredar di pasaran.

Pengembangan usaha juga dapat didukung melalui pelatihan kewirausahaan yang membantu pelaku UMKM menambah pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola usaha. Pelatihan seperti pengelolaan keuangan, strategi pemasaran, hingga penggunaan teknologi digital dapat membantu usaha menjadi lebih berkembang. Dukungan dari pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat juga memiliki peran yang sangat penting.

Pemerintah dapat memberikan pelatihan maupun bantuan usaha, sedangkan perguruan tinggi dapat memberikan pendampingan dan berbagi pengetahuan kepada pelaku UMKM. Masyarakat juga dapat mendukung dengan membeli dan mempromosikan produk lokal. Jika seluruh potensi tersebut dimanfaatkan dengan baik, Desa Tampung berpeluang dikenal sebagai salah satu sentra konveksi yang menghasilkan produk berkualitas. Hal ini tentu tidak hanya memberikan manfaat bagi pelaku usaha, tetapi juga dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitarnya.

Konveksi sebagai salah satu penggerak perekonomian di Desa Tampung, selain membuka banyak lapangan pekerjaan, usaha ini juga membuat Desa Tampung semakin dikenal sebagai salah satu sentra konveksi di Kabupaten Pasuruan. Diharapkan Konveksi di Desa Tampung, semakin meningkatkan kualitas produknya, dan dapat memperluas pemasaran hingga dikenal di pasar nasional. Sehingga, diperlukan pula dukungan dari pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak. Semangat dan kerja keras para pemilik Konveksi Desa Tampung menjadi bukti bahwa potensi desa mampu berkembang dan memberikan manfaat bagi banyak orang.

Author :

1. Alfiatus Sa'adah

2. Khadijah Fatikhah Rizkiyah

3. Sofi Maharani

Mahasiswa KKN 94 UINSA