Mahasiswa KKN94 UINSA Gelar Pelatihan Pemberdayaan UMKM Berbasis Komoditas Lokal

Mahasiswa KKN UINSA Kelompok 94 di Desa Tampung, Rembang, Pasuruan
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari KKN 94 UINSA Desa Tampung, Rembang, Pasuruan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 94 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) mengadakan program kerja bertajuk "Pemberdayaan UMKM Berbasis Komoditas Lokal" pada Minggu (19/7/2026) di Balai Desa Tampung, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa KKN 94 UINSA bersama 15 anggota PKK Desa Tampung. Acara berlangsung mulai pukul 08.30 hingga 11.00 WIB dengan tujuan meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah potensi lokal menjadi produk yang memiliki nilai jual.
Kegiatan ini dimulai dengan pembukaan oleh (MC), dilanjutkan dengan pembacaan doa dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Setelah itu dilanjutkan dengan beberapa Sambutan sambutan. Sambutan yang pertama disampaikan oleh Ibu Miyah selaku ketua PKK Desa Tampung dan sambutan yang kedua disampaikan oleh Harriiz selaku ketua KKN 94 UINSA. Dalam sambutannya, Bu Miyah menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh peserta karena pelaksanaan kegiatan harus dilaksanakan pada hari Minggu. Karena sebelumnya ia telah mengusulkan agar kegiatan dilaksanakan pada hari Jumat pukul 14.00 WIB. Namun, karena mahasiswa KKN masih memerlukan waktu untuk mempersiapkan kegiatan secara maksimal, sehingga jadwal akhirnya dipindahkan.
"Saya mohon maaf kepada ibu-ibu semua karena kegiatan ini akhirnya dilaksanakan pada hari Minggu. Sebenarnya saya sudah menyarankan agar pelatihan dilaksanakan hari Jumat pukul dua siang, tetapi mahasiswa KKN masih membutuhkan waktu untuk mempersiapkan semuanya agar pelaksanaannya lebih optimal. Akibatnya, ibu-ibu harus meluangkan waktu di hari libur, padahal beberapa minggu terakhir kegiatan PKK juga cukup padat," ujar Ibu Miyah.
Selain menyampaikan informasi mengenai agenda PKK yang akan datang, Ibu Miyah juga mengapresiasi program kerja yang dibawa mahasiswa KKN. Menurutnya, pelatihan tersebut memberikan wawasan baru mengenai pemanfaatan daun kelor. "Walaupun sebelumnya kami pernah membuat olahan daun kelor menjadi puding, melalui pelatihan ini kami mendapatkan pengetahuan baru bahwa daun kelor juga dapat diolah menjadi teh herbal, sabun, bahkan dikembangkan menjadi produk UMKM yang memiliki nilai jual. Mudah-mudahan ilmu yang diberikan hari ini bisa bermanfaat dan benar-benar diterapkan oleh masyarakat Desa Tampung," tambahnya.
Sementara itu, Ketua KKN 94 UINSA dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada anggota PKK Desa Tampung yang telah meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan tersebut. "Kami mengucapkan terima kasih kepada ibu-ibu PKK yang telah berkenan hadir pada kegiatan ini. Kami juga memohon maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan pelatihan. Harapan kami, melalui program ini masyarakat dapat memanfaatkan potensi lokal, terutama daun kelor, menjadi produk yang memiliki nilai tambah ekonomi sehingga dapat membuka peluang usaha dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Tampung," ungkap Harriiz selaku Ketua KKN 94 UINSA.
Memasuki sesi inti, materi pertama disampaikan oleh Tim Produksi dari Mahasiswa KKN 94 UINSA mengenai pemanfaatan daun kelor sebagai teh herbal dan sabun. Peserta diperkenalkan pada manfaat daun kelor, proses pengolahan, hingga peluang pengembangannya sebagai produk UMKM yang memiliki daya saing. Dalam penyampaian materi mengenai pemanfaatan daun kelor, Tim Produksi KKN 94 UINSA menjelaskan bahwa tanaman kelor memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
"Selama ini daun kelor lebih banyak dimanfaatkan sebagai sayuran. Padahal, jika diolah dengan baik, daun kelor dapat menjadi berbagai produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi, seperti teh herbal dan sabun. Harapan kami, pelatihan ini dapat menjadi langkah awal bagi ibu-ibu PKK untuk mengembangkan produk unggulan berbasis komoditas lokal Desa Tampung," jelas Tim Produksi KKN 94 UINSA.
Setelah penyampaian materi, peserta diajak mengikuti demonstrasi pembuatan teh herbal dan sabun berbahan dasar daun kelor selama kurang lebih 35 menit. Dalam sesi ini, peserta dapat melihat secara langsung setiap tahapan pembuatan produk sekaligus berdiskusi dengan mahasiswa mengenai proses produksi.
Antusiasme ibu-ibu PKK terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama demonstrasi berlangsung. Materi kedua dilanjutkan oleh Tim Packaging Mahasiswa KKN 94 UINSA mengenai pembuatan desain kemasan dengan memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI), ChatGPT, dan Canva. Peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya desain kemasan sebagai identitas produk sekaligus strategi untuk meningkatkan daya tarik konsumen. Selain itu, peserta juga dikenalkan cara memanfaatkan teknologi AI untuk mencari ide desain serta mengembangkan hasilnya melalui aplikasi Canva.
Pada sesi pembuatan desain kemasan, Tim Packaging KKN 94 UINSA memperkenalkan pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI), ChatGPT, dan Canva sebagai media yang dapat membantu pelaku UMKM dalam membuat desain produk. "Saat ini membuat desain kemasan tidak harus menggunakan aplikasi yang rumit. Dengan memanfaatkan Chat GPT untuk mencari ide dan Canva untuk mengembangkan desain, pelaku UMKM dapat menghasilkan kemasan yang lebih menarik, informatif, dan sesuai dengan produknya.
Kemasan yang baik juga menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan minat beli konsumen," ujar Tim Packaging KKN 94 UINSA. Setelah materi selesai, mahasiswa kembali mengadakan demonstrasi selama 35 menit mengenai proses pembuatan desain kemasan menggunakan ChatGPT dan Canva. Melalui praktik tersebut, peserta dapat melihat secara langsung bagaimana membuat konsep desain, memilih warna, menentukan jenis huruf, hingga menghasilkan desain kemasan yang menarik dan siap digunakan pada produk UMKM.
Pada sesi terakhir, peserta mendapatkan materi mengenai strategi pemasaran praktis bagi usaha mikro yang disampaikan oleh Ibu Dian Hafida Fitranti Almaniq, S.E., M.E., selaku Penata Layanan Operasional Bidang UMKM Kabupaten Pasuruan. Sebelum penyampaian materi dimulai, peserta terlebih dahulu mengerjakan pre-test untuk mengetahui pemahaman awal mengenai pemasaran produk. Pada sesi terakhir, Ibu Dian Hafida Fitranti Almaniq, S.E., M.E., selaku Penata Layanan Operasional Bidang UMKM Kabupaten Pasuruan, menekankan bahwa kualitas produk harus diimbangi dengan strategi pemasaran yang tepat agar mampu bersaing di pasar. "Produk yang bagus saja belum tentu bisa laku apabila masyarakat belum mengenalnya.
Oleh karena itu, pelaku UMKM harus mampu menentukan target pasar, membangun identitas produk, memberikan pelayanan yang baik, serta memanfaatkan media digital sebagai sarana promosi agar produk semakin dikenal dan memiliki daya saing," jelas Dian Hafida Fitranti Almaniq.
Beliau juga mengajak peserta untuk terus berani mencoba dan mengembangkan usaha yang dimiliki. "Jangan takut memulai usaha dari skala kecil. Yang terpenting adalah terus belajar, menjaga kualitas produk, dan konsisten melakukan pemasaran. Dengan begitu, peluang usaha akan semakin berkembang dan mampu memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga," tambahnya.
Setelah materi selesai, peserta kembali mengerjakan post-test sebagai bentuk evaluasi untuk mengukur peningkatan pemahaman setelah mengikuti pelatihan. Sebagai bentuk apresiasi atas ilmu dan pengalaman yang telah dibagikan, mahasiswa KKN 94 UINSA menyerahkan cinderamata kepada Ibu Dian Hafida Fitranti Almaniq sebagai narasumber pada sesi pemasaran. Penyerahan cinderamata berlangsung dengan penuh rasa hormat dan diakhiri dengan ucapan terima kasih dari seluruh peserta.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup oleh pembawa acara dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama antara mahasiswa KKN 94 UINSA, narasumber, serta ibu-ibu PKK Desa Tampung sebagai bentuk dokumentasi sekaligus kenang-kenangan atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Melalui program kerja ini, mahasiswa KKN 94 UINSA berharap masyarakat Desa Tampung semakin terdorong untuk mengembangkan potensi komoditas lokal, khususnya daun kelor, menjadi produk yang memiliki nilai tambah serta mampu meningkatkan perekonomian masyarakat melalui pengembangan usaha mikro yang lebih inovatif dan berdaya saing.
Author: 1. Zulfi Al Hanif Ramadhani 2. Alfiatus Sa’adah
Mahasiswa KKN 94 UINSA
