Meningkatkan Kewaspadaan Remaja Desa Bocek di Media Sosial oleh Tim UM 2021

Kuliah Kerja Nyata oleh Mahasiswa Universitas Negeri Malang 2021 yang bertempat di Desa Bocek, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.
Tulisan dari KKN UM 2021 Bocek Malang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seiring dengan perkembangan teknologi, banyak aspek kehidupan manusia telah meningkat kualitasnya dan penggunaan teknologi pun menjadi semakin mudah dilaksanakan. Salah satu aspek kehidupan yang mengalami peningkatan adalah komunikasi antar individu. Dahulu banyak orang yang berkomunikasi langsung dengan bertatap muka atau melalui media surat yang membutuhkan waktu lama dalam proses penyampaian surat kepada penerima yang dituju. Namun saat ini dengan perkembangan teknologi, komunikasi bisa dapat dilakukan dengan mudah dengan berbagai cara dan tanpa perlu bertatap muka atau menunggu lama seperti bertelepon, mengirimkan short message (SMS) melalui ponsel, atau yang paling banyak digunakan adalah menggunakan media sosial melalui internet. Media sosial adalah sebuah media online yang digunakan oleh banyak orang untuk berkomunikasi secara mudah tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Dengan berbagai kemudahannya, media sosial bisa digunakan oleh banyak orang dan tak terkecuali bagi anak-anak dan remaja.
Bahaya Media Sosial bagi Remaja dan Anak-Anak
Selain memberikan kemudahan dalam berkomunikasi, media sosial juga memberikan banyak efek yang cukup merugikan bagi penggunanya terutama remaja dan anak-anak. Dilansir dari kumparan, beberapa efek merugikan media sosial untuk remaja dan anak-anak adalah sebagai berikut:
Kegelisahan. Banyak remaja dan anak-anak yang merasa bahwa mereka perlu menampilkan hal-hal terbaik yang mereka miliki di sosial media. Bila hal ini dirasa tidak dicapai oleh remaja maupun anak-anak, banyak diantaranya yang menjadi gelisah karena memikirkan hal tersebut.
Kurang tidur. Tidak sedikit dari pengguna media sosial yang cenderung terbangun di tengah malam atau merelakan sebagian besar dari jam tidur mereka untuk menggunakan media sosial, tak terkecuali juga remaja dan anak-anak yang masih memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
Cyberbullying. Perilaku melecehkan, menghina, menghujat, dan hal-hal negatif lainnya bisa juga terjadi melalui perantara media sosial, bahkan cenderung memiliki intensitas yang lebih tinggi. Hal ini dapat menyebabkan kecemasan hingga depresi bagi korbannya.
Iri hati. Seperti yang sudah disampaikan di atas, banyak orang yang ingin menampilkan hal-hal terbaik yang mereka miliki di media sosial. Hal tersebut berkemungkinan besar menimbulkan rasa iri hati bagi pengguna lain yang melihatnya. Bila dibiarkan terus-menerus maka akan menimbulkan hal-hal buruk lainnya seperti benci hingga dendam.
Kurang mampu berkomunikasi secara langsung. Walau media sosial pada awalnya dimanfaatkan untuk memudahkan komunikasi, namun remaja atau anak-anak yang masih dalam masa tumbuh kembang bisa saja menurun kemampuan berkomunikasinya dikarenakan terlalu banyak menggunakan media sosial sebagai media komunikasi dan jarang melakukan komunikasi secara langsung pada orang-orang terdekat. Hal ini dapat menimbulkan masalah pada remaja atau anak-anak itu sendiri.
Remaja dan Anak-Anak di Desa Bocek
Desa Bocek memiliki banyak sekali penduduk yang mendiami wilayahnya. Berdasarkan data administrasi desa pada tahun 2009 , sebanyak 8.000 jiwa penduduk tercatat sebagai Warga Desa Bocek dengan 1.776 jiwa berada di rentang usia 5 sampai 19 tahun. Dengan banyaknya warga desa yang masih termasuk dalam lingkup usia remaja dan anak-anak, tidak menutup kemungkinan bahwa banyak diantaranya yang terancam mendapatkan efek berbahaya dari sosial media. Berbekal ilmu yang sudah didapatkan dari perkuliahan sebelumnya, salah satu Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Negeri Malang yakni Irma Fatkhiatin dan dibimbing oleh Bapak Andika Bagus Nur Rahma Putra, S.Pd, M.Pd selaku Dosen Pendamping Lapangan, berinisiatif untuk memberikan sosialisasi terkait bagaimana cara agar tidak terjebak dalam efek negatif dari media sosial.
Sosialisasi dilaksanakan pada selama dua hari di dua tempat yang berbeda. Hari pertama dilaksanakan pada Senin (22/11) di sekolah MI Nasyrul Ulum yang memiliki sejumlah 400 siswa dengan rentang usia 5 tahun sampai 12 tahun dan hari kedua dilaksanakan pada Selasa (23/11) di sekolah MTs Al-Maarif yang memiliki 130 siswa dengan rentang usia 12 tahun hingga 15 tahun. Sosialisasi dilaksanakan di lingkungan sekolah dengan harapan bahwa remaja dan anak-anak lebih mampu memfokuskan diri terhadap pendidikannya tanpa terganggu dengan adanya media sosial hingga menyebabkan efek-efek yang berbahaya atau buruk.
Persiapan dan Pelaksanaan Sosialisasi
Sosialisasi dilaksanakan dalam bentuk poster yang ditempel di majalah dinding miliki sekolah. Poster berukuran A3 dan dibuat menggunakan website Canva. Pembuatan poster memakan waktu selama tiga hari yakni pada Rabu (17/11) untuk penyusunan informasi dalam poster, Kamis (18/11) untuk penyusunan desain poster, dan Jumat (19/11) untuk pencetakan poster. Pada pelaksanaannya, Irma Fatkhiatin selaku mahasiswa yang bertanggung jawab dalam kegiatan sosialisasi meminta izin kepada pihak sekolah untuk menempelkan poster di tempat yang sesuai. Setelah mendapat persetujuan, poster ditempel dan bisa diakses secara langsung oleh siswa di sekolah tersebut. Semoga dengan adanya poster bijak bersosial media ini, banyak remaja dan anak-anak di Desa Bocek yang menyadari pentingnya bijak dalam bermedia sosial.
