Mahasiswa KKN FSTeM UB: Transformasi Limbah Pertanian untuk Ketahanan Pangan

Mahasiswa aktif angkatan 2024 Fakultas Sains, Teknologi dan Matematika Universitas Brawijaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Annis Auliya Ur Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kabupaten Malang - Kelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Fakultas Sains, Teknologi dan Matematika Universitas Brawijaya (KKN FSTeM UB) berhasil menuntaskan program Teknologi Tepat Guna berjudul "Memanfaatkan Limbah yang Dihasilkan oleh Pertanian Masyarakat Sekitar untuk Upaya Meningkatkan Ketahanan Pangan" di Desa Kemiri. Sebagai wilayah agraris dengan mayoritas warga berprofesi petani, desa ini menghasilkan limbah sekam padi dalam jumlah besar setiap musim panen, namun pemanfaatannya selama ini hanya sebatas pakan ternak sehingga nilai ekonominya belum maksimal. Kondisi inilah yang mendorong mahasiswa merancang program pengolahan limbah menjadi pupuk organik dan media tanam yang lebih bermanfaat bagi kesejahteraan desa.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN melakukan observasi awal dan menemukan bahwa limbah pertanian di desa ini dapat diolah menjadi pupuk organik, kompos, hingga media tanam alternatif yang mampu mendukung produktivitas pertanian warga. Selain mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembakaran limbah, pengolahan ini juga dapat menekan biaya produksi karena warga tidak perlu lagi bergantung pada pupuk kimia. Program ini dirancang dengan pendekatan partisipatif, melibatkan warga secara langsung mulai dari tahap edukasi hingga praktik lapangan. Sebelum materi disampaikan, tim KKN melakukan lima kali uji coba untuk menemukan komposisi dan metode pengolahan yang paling efektif, efisien, dan mudah ditiru oleh warga dengan peralatan sederhana.

Program pengolahan limbah pertanian ini sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan. Sejalan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, karena kemampuan warga memproduksi pupuk organik secara mandiri membuka peluang usaha baru sekaligus menekan biaya produksi pertanian yang selama ini bergantung pada pupuk kimia. Efisiensi biaya ini berpotensi meningkatkan pendapatan bersih keluarga tani dan menumbuhkan aktivitas ekonomi produktif berbasis pengolahan limbah di tingkat desa.
Dari sisi SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, program ini mendorong warga untuk tidak lagi memandang limbah pertanian sebagai barang sisa yang tak bernilai. Melalui pengolahan menjadi kompos dan media tanam alternatif, siklus produksi pertanian di desa bergeser ke pola yang lebih efisien dan minim limbah, sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular yang memanfaatkan kembali sumber daya yang sebelumnya terbuang.
Program ini juga berkontribusi pada SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, sebab kebiasaan membakar limbah pertanian yang selama ini lazim dilakukan warga turut menyumbang emisi karbon dan pencemaran udara. Dengan beralih ke metode pengomposan, mahasiswa KKN membantu mengurangi praktik pembakaran limbah sekaligus menekan dampak lingkungan yang ditimbulkannya di lingkup desa.
Setelah formula pengolahan limbah dianggap matang, mahasiswa KKN mengadakan kegiatan penyampaian materi yang dihadiri oleh warga dan perangkat desa. Dalam sesi ini, tim menjelaskan secara sistematis jenis-jenis limbah pertanian yang dapat diolah, manfaatnya bagi lingkungan dan ekonomi, serta langkah-langkah pembuatan pupuk organik dan kompos secara mandiri. Materi disampaikan dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami, disertai sesi tanya jawab interaktif yang menunjukkan antusiasme warga karena topik yang diangkat berkaitan langsung dengan aktivitas pertanian sehari-hari.
Program ini dilanjutkan dengan demonstrasi praktik langsung di hadapan warga, di mana mahasiswa memperagakan tahap demi tahap proses pembuatan pupuk kompos, mulai dari pemilahan limbah, pencacahan, pencampuran dekomposer, hingga penumpukan dan penyiraman yang tepat. Warga tidak hanya menyaksikan, tetapi juga diajak mencoba langsung di bawah bimbingan mahasiswa agar mereka merasa percaya diri untuk mempraktikkannya secara mandiri. Sebagai bentuk keberlanjutan, mahasiswa juga membagikan bibit tanaman yang dapat ditanam menggunakan media tanam hasil olahan limbah pertanian, sehingga warga dapat segera menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh di pekarangan rumah masing-masing.
Melalui rangkaian kegiatan uji coba, edukasi, demonstrasi, hingga pembagian bibit, program ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan limbah pertanian secara berkelanjutan. Mahasiswa KKN berharap ilmu dan keterampilan yang telah dibagikan tidak berhenti sebagai kegiatan perayaan saja, melainkan terus dipraktikkan secara mandiri. Dukungan perangkat desa kunci agar program ini dapat berjalan secara berkelanjutan. Program ini menjadi bukti nyata antara dunia akademik dan masyarakat dalam menjawab persoalan lingkungan sekaligus ketahanan pangan di tingkat desa, melalui pendekatan berbasis riset, edukasi, dan aksi langsung yang aplikatif dan berdampak jangka panjang.
