Konten dari Pengguna

Dari Baglog hingga Panen: Kisah Inspiratif UMKM Budidaya Jamur di Desa Pringsari

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari eudaimonia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

KKN MIT UIN Walisongo kunjungi UMKM Jamur di Dusun Sambengsari, Desa Pringsari, kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang. Dok: Medinfo KKN MIT UIN Walisongo Semarang.
zoom-in-whitePerbesar
KKN MIT UIN Walisongo kunjungi UMKM Jamur di Dusun Sambengsari, Desa Pringsari, kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang. Dok: Medinfo KKN MIT UIN Walisongo Semarang.

Dukung pengembangan pelaku usaha lokal, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang 2026 adakan kegiatan kunjungan UMKM Budidaya Jamur yang berlokasi di Dusun Sambengsari, Desa Pringsari, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang pada hari Kamis, 30 Juli 2026 (30/07/26).

Kegiatan ini menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengenal secara langsung proses budidaya jamur, mulai dari tahap produksi, perawatan, hingga strategi pemasaran yang diterapkan oleh pelaku usaha.

Zulaikha, selaku pemilik usaha budidaya jamur menyatakan bahwa usahanya telah berdiri selama kurang lebih tujuh tahun. Budidaya ini merupakan usaha keluarga yang dijalankan menggunakan modal pribadi tanpa bantuan koperasi maupun lembaga pembiayaan lainnya.

Selama kunjungan, Zulaikha menjelaskan tahapan pembuatan baglog, mulai dari pencampuran bahan baku, proses sterilisasi selama 14 jam, pendinginan selama dua hari, hingga pemberian bibit yang mampu menghasilkan sekitar 80-90 botol baglog.

Hasil Baglog per botol setelah melalui proses pemberian bibit. Dok: Medinfo KKN MIT UIN Walisongo Semarang.

Menurut Zulaikha, proses perawatan jamur yang memerlukan pengaturan suhu dan kelembapan, keberhasilan budidaya jamur sangat bergantung pada ketelitian dalam proses perawatan,

“Jamur itu harus berada di tempat yang lembap, kalau cuaca terlalu panas pertumbuhannya kurang maksimal. Sebaliknya kalau terlalu lembap juga bisa cepat membusuk, jadi kelembapannya harus benar-benar dijaga,” ucap Zulaikha.

Pada setiap baglog tidak lupa diberi penanda tanggal untuk memudahkan pemantauan masa tumbuhnya. Dalam proses budidaya, kondisi suhu dan kelembapan menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan pertumbuhan jamur.

Pada musim kemarau, penyiraman dapat dilakukan hingga tiga kali sehari untuk menjaga kelembapan kumbung. Sebaliknya, pada saat cuaca dingin penyiraman dapat dikurangi agar kelembapan tidak berlebihan karena dapat menyebabkan jamur cepat membusuk.

Zulaikha juga menjelaskan bahwa hasil panen dipasarkan langsung ke wilayah Pringapus dan Karangjati tanpa melalui pengepul.

“Kami lebih memilih menjual langsung ke pasar karena kalau lewat pengepul harganya lebih rendah. Dengan ini menjual sendiri hasil yang diperoleh lebih menguntungkan,” ungkapnya.

Rata-rata penjualan mencapai sekitar 60 bungkus per hari pada hari biasa dan meningkat menjadi sekitar 90 bungkus pada akhir pekan.

Zulaikha juga memilih untuk tidak memasok produk ke supermarket karena sistem pembayaran dilakukan setelah produk terjual dan terdapat risiko barang dikembalikan apabila tidak laku.

Baglog bekas yang sudah tidak produktif dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik sehingga limbah budidaya masih memiliki nilai ekonomi.

Kunjungan ini tidak hanya memberikan pengalaman lapangan tetapi juga menjadi inspirasi bahwa keberhasilan sebuah UMKM dibangun melalui kerja keras, ketekunan serta kemampuan beradaptasi dengan berbagai tantangan yang dihadapi.