Cetak Daun, Cetak Gagasan: Anak SD Belajar Ekonomi Kreatif Melalui Kain Ecoprint

Mahasiswa FISIP UNIVERSITAS BRAWIJAYA
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari FBD 42 SIDOASRI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kabupaten Malang – Lantai kelas 6 SDN 05 Tambaksari pagi itu penuh dengan aktivitas tak biasa. Anak-anak duduk bersila, menghamparkan kain polos di depan mereka, dikelilingi daun-daun segar, plastik bening, dan palu kayu. Tak ada meja, tak ada cat warna—hanya bahan-bahan alami yang dikumpulkan dari sekitar sekolah.
Itulah momen dimulainya program Kain Ecoprint, kegiatan kreatif yang digagas mahasiswa KKN Universitas Brawijaya di Desa Sidoasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Program ini tak hanya menjadi wadah bermain sambil belajar, tetapi juga bagian dari implementasi sub-tema “Kewirausahaan dan Ekonomi Kreatif.” Anak-anak diperkenalkan pada teknik dasar ecoprint, sebuah metode mencetak daun ke kain yang sederhana tapi sarat nilai. Lewat aktivitas ini, mereka diajak memahami bahwa karya seni bisa memiliki nilai jual, apalagi jika dibuat dengan ciri khas dan bahan ramah lingkungan.
Kegiatan dimulai dengan pengenalan singkat tentang ecoprint. Mahasiswa menjelaskan bahwa pola yang tercetak di kain berasal dari pigmen alami daun yang dipukul ke permukaan kain. Tak perlu cat atau alat mahal—cukup kreativitas dan ketelitian. Penjelasan disampaikan dengan bahasa ringan, sesekali diselingi tanya jawab agar anak-anak lebih mudah menangkap konsep dasarnya.
Tanpa berlama-lama, siswa langsung diajak praktik. Mereka bebas memilih daun yang mereka anggap menarik, lalu menyusunnya di atas kain sesuai keinginan. Ada yang membentuk pola simetris, ada pula yang asal menyebar. Setelah tertutup plastik, palu pun mulai digunakan. Suara pukulan terdengar dari berbagai penjuru kelas, diselingi tawa dan kekaguman saat warna mulai muncul di kain.
Setiap kelompok bekerja sama menciptakan pola terbaik mereka. Mahasiswa mendampingi dengan sabar, memberi arahan agar warna daun lebih tegas dan susunan tidak bergeser. Momen paling dinanti tentu saat kain dibuka—ketika jejak daun terlihat jelas dengan guratan alami yang unik dan tak bisa diulang. Hasilnya beragam, tapi semuanya asli dan penuh ekspresi.
Meski bukan untuk dipasarkan secara langsung, ecoprint ini secara tidak langsung menanamkan ide dasar kewirausahaan. Anak-anak mulai memahami bahwa karya tangan seperti ini bisa menjadi produk bernilai jika dikembangkan. Mereka juga dikenalkan pada prinsip menghargai alam: mengambil secukupnya, memanfaatkan yang ada, dan menciptakan tanpa merusak.
Di akhir kegiatan, setiap kain diberi nama kelompok dan pesan singkat, lalu dibentangkan bersama untuk didokumentasikan. Kain-kain tersebut bukan hanya hasil akhir dari sebuah praktik seni, tetapi juga simbol dari kolaborasi, kreativitas, dan pelajaran awal tentang ekonomi kreatif yang bisa mereka kembangkan suatu saat nanti.
Lewat kegiatan Kain Ecoprint, para siswa bukan hanya pulang membawa kenangan, tapi juga pulang dengan ide baru: bahwa dari daun yang sederhana, mereka bisa belajar mencetak masa depan.
