Konten dari Pengguna

Lensa Desa Sidoasri: Dari Mahasiswa, Untuk Desa yang Penuh Cerita

FBD 42 SIDOASRI

FBD 42 SIDOASRI

Mahasiswa FISIP UNIVERSITAS BRAWIJAYA

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari FBD 42 SIDOASRI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa Universitas Brawijaya yang tergabung dalam Kelompok 42 FBD KOMPAK FISIP UB 2025 meluncurkan sebuah karya berbasis pengabdian masyarakat dalam bentuk majalah desa bertajuk Lensa Desa Sidoasri.

Cover Majalah Desa: Lensa Desa Sidoasri
zoom-in-whitePerbesar
Cover Majalah Desa: Lensa Desa Sidoasri

Publikasi ini menjadi representasi visual dan naratif dari identitas Desa Sidoasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Di dalamnya memuat berbagai informasi penting yang mencerminkan kehidupan masyarakat, struktur pemerintahan, mata pencaharian, potensi sumber daya alam, hingga sektor pariwisata dan kesenian lokal yang terus tumbuh dan lestari di tengah modernisasi.

Proses penyusunan majalah ini tidak dilakukan secara instan. Sebanyak 15 mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya terlibat langsung dalam kegiatan riset lapangan. Mereka mengumpulkan data melalui observasi, wawancara dengan tokoh masyarakat dan perangkat desa, serta melakukan pendokumentasian terhadap berbagai objek dan aktivitas khas desa. Pendekatan ini tidak hanya menjamin keakuratan informasi yang disampaikan, tetapi juga menciptakan kedekatan emosional antara tim penyusun dan warga yang menjadi subjek majalah. Hal ini penting untuk menjaga otentisitas narasi dan membangun rasa saling percaya dalam kerja bersama masyarakat.

Pantai Perawan Sidoasri

Desa Sidoasri dikenal sebagai wilayah dengan potensi wisata bahari yang menjanjikan. Dua pantai yang menjadi andalan, yakni Pantai Perawan dan Pantai Klatakan, menyuguhkan pemandangan alam yang masih alami dan jarang terekspos secara luas. Dengan garis pantai yang bersih, ombak yang relatif tenang, serta suasana yang masih asri, kedua destinasi ini menyimpan peluang besar untuk dikembangkan sebagai objek wisata unggulan. Namun, belum banyak dokumentasi resmi yang menjelaskan keindahan dan daya tariknya. Karena itu, kehadiran majalah ini diharapkan dapat menjadi media promosi yang menjangkau masyarakat luas dan membuka peluang kerja sama lintas sektor.

Tak hanya dari aspek alam, Desa Sidoasri juga memiliki kekayaan budaya yang layak diangkat. Beberapa kesenian tradisional seperti kuda lumping, pencak silat, reog, dan bantengan masih aktif dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam momen-momen perayaan dan acara adat desa. Pelestarian seni ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri yang memperkuat identitas budaya lokal. Dalam majalah, seluruh elemen ini tidak hanya ditampilkan dalam bentuk narasi, tetapi juga melalui foto dokumentasi kegiatan seni yang diambil langsung oleh tim mahasiswa.

Secara desain, Lensa Desa Sidoasri mengusung gaya visual minimalis dan bersih, dengan fokus utama pada kekayaan alam dan keunikan potensi lokal yang dimiliki desa. Pemilihan desain ini dimaksudkan agar informasi dapat tersampaikan secara lugas dan mudah dicerna oleh berbagai kalangan, baik warga desa, akademisi, maupun pengunjung dari luar daerah. Selain rubrik utama, majalah ini juga dilengkapi dengan rubrik funfact yang menyajikan informasi ringan, unik, dan terkadang mengejutkan tentang sisi-sisi kecil kehidupan masyarakat yang jarang terangkat dalam media arus utama.

Penyerahan Majalah Desa: Lensa Desa Sidoasri kepada Pemerintah Desa Sidoasri

Pada 30 Juli 2025, majalah ini resmi diserahkan kepada Pemerintah Desa Sidoasri sebagai bagian dari rangkaian penutupan program FBD KOMPAK 2025 kelompok 42. Tidak hanya dalam bentuk cetak, Lensa Desa Sidoasri juga disiapkan dalam versi digital agar dapat diakses secara lebih luas dan fleksibel. Kehadiran dua versi ini diharapkan mampu menjangkau pembaca dari berbagai latar belakang, sekaligus menjadi dokumentasi jangka panjang yang dapat digunakan dalam berbagai keperluan pengembangan desa.

Melalui majalah ini, mahasiswa tidak hanya menghasilkan karya yang bersifat dokumentatif, tetapi juga turut berkontribusi dalam membangun citra positif desa melalui media yang komunikatif. Lebih dari sekadar tugas lapangan, proyek ini menjadi ruang kolaborasi antara akademisi muda dan masyarakat dalam merayakan, mencatat, serta membagikan potensi lokal secara lebih bermakna. Majalah ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran bersama bahwa desa bukan hanya ruang tinggal, tetapi juga ruang cerita yang layak dikabarkan ke dunia luar.