Menumbuhkan Jiwa Wirausaha Melalui Gelang Tali Kepang di SMP YBPK Tambakasri

Mahasiswa FISIP UNIVERSITAS BRAWIJAYA
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari FBD 42 SIDOASRI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kabupaten Malang – Desa Sidoasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, dikenal dengan potensi alamnya yang melimpah. Namun di balik kekayaan sumber daya tersebut, masih tersimpan tantangan besar dalam hal pemberdayaan generasi muda.
Minimnya akses pendidikan menengah dan terbatasnya pelatihan keterampilan menjadikan anak-anak remaja di desa ini belum terbiasa melihat kreativitas sebagai aset ekonomi. Budaya kewirausahaan belum sepenuhnya tumbuh, terutama dalam bentuk usaha kreatif yang lahir dari keterampilan tangan sederhana.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa peserta KKN FBD KOMPAK 2025 Kelompok 42 menghadirkan program bertajuk “Pembuatan Gelang Tali Kepang” sebagai upaya menumbuhkan semangat wirausaha sejak dini di kalangan pelajar. Program ini dirancang tidak hanya sebagai aktivitas pengisi waktu, tetapi juga sebagai bentuk edukasi ekonomi kreatif yang aplikatif, menyenangkan, dan mudah diterapkan di lingkungan sekitar. Sasarannya adalah siswa kelas 9 SMP YBPK Tambakasri yang dipandang memiliki potensi besar untuk mulai mengenal dunia kewirausahaan lokal.
Kegiatan ini mengajak para siswa untuk membuat gelang dari tali cina dua warna dan manik-manik. Prosesnya sederhana namun sarat makna. Dengan dipandu dua tutor dari mahasiswa, siswa belajar menyusun simpul demi simpul, memilih perpaduan warna, hingga menghasilkan satu karya yang bisa dibawa pulang. Gelang tersebut tidak hanya menjadi produk keterampilan tangan, tetapi juga simbol bahwa ide kreatif bisa diwujudkan dan dihargai.
Selama kurang lebih dua setengah jam, suasana kelas diubah menjadi ruang praktik yang penuh tawa, antusiasme, dan kreativitas. Kegiatan diawali dengan pengenalan program, pembagian alat dan bahan, sesi praktik pembuatan gelang, hingga sesi dokumentasi penutupan. Mahasiswa mendampingi setiap siswa secara aktif, membantu jika mengalami kesulitan, dan memberikan semangat agar mereka percaya diri menyelesaikan karyanya. Satu gelang terbaik diberi apresiasi khusus, sementara seluruh siswa tetap membawa pulang hasil buatan mereka masing-masing.
“Lewat kegiatan ini, kami ingin menyampaikan bahwa kreativitas itu tidak mahal, dan siapa saja bisa mulai berkreasi dari hal-hal sederhana di sekitar mereka. Gelang ini mungkin kecil, tapi proses pembuatannya mengajarkan ketekunan, kebanggaan, dan harapan,” ujar salah satu mahasiswa pelaksana.
Satu gelang juga diserahkan kepada pihak sekolah sebagai simbol kerja sama yang terjalin. Program ini disambut baik oleh guru-guru karena dinilai membuka wawasan siswa terhadap pentingnya keterampilan non-akademik yang punya nilai ekonomi. Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun budaya wirausaha lokal yang dimulai dari ruang-ruang kelas.
Sebagai bagian dari implementasi sub-tema “Kewirausahaan dan Ekonomi Kreatif” dalam FBD KOMPAK 2025, kegiatan ini menjadi bukti bahwa edukasi ekonomi tidak harus dimulai dari hal yang besar dan rumit. Justru melalui pendekatan kreatif dan kontekstual seperti ini, mahasiswa dan siswa bisa belajar bersama menciptakan ekosistem ekonomi yang tumbuh dari desa, oleh desa, dan untuk desa.
Dengan gelang kecil yang dibuat oleh tangan mereka sendiri, para siswa belajar bahwa mereka punya kemampuan untuk mencipta, berkreasi, dan mungkin suatu hari nanti, membangun usaha sendiri. Sebuah langkah kecil yang membawa harapan besar bagi masa depan Desa Sidoasri.
