Konten dari Pengguna

KKN UNEJ Desa Tegaljati: Transformasi Sampah Organik Menjadi Pupuk Padat

KKN TEGALJATI SUMBERWRINGIN

KKN TEGALJATI SUMBERWRINGIN

KULIAH KERJA NYATA MAHASISWA UNIVERSITAS JEMBER DESA TEGALJATI KECAMATAN SUMBERWRINGIN KABUPATEN BONDOWOSO

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari KKN TEGALJATI SUMBERWRINGIN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Proses pembuatan pupuk organik padat (PP)
zoom-in-whitePerbesar
Proses pembuatan pupuk organik padat (PP)

Desa Tegaljati, Kecamatan Sumberwringin, menjadi saksi nyata inovasi ramah lingkungan yang diinisiasi oleh mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2025. Melalui pemanfaatan limbah organik rumah tangga, para mahasiswa KKN berhasil menciptakan pupuk organik padat yang berguna untuk mendukung pertanian dan penghijauan di lingkungan desa.

Program ini lahir dari keprihatinan terhadap masih rendahnya pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga, khususnya sampah organik yang berpotensi menumpuk dan mencemari lingkungan. Dengan pendekatan edukatif dan partisipatif, para mahasiswa mengajak warga untuk memilah sampah, mengumpulkan limbah organik, dan mengolahnya secara sederhana menjadi pupuk padat.

Proses pembuatan dilakukan menggunakan bahan-bahan lokal bisa menggunakan biokompos, EM4 (mikroorganisme pengurai), air, dan sampah organik sisa dapur seperti sayuran dan daun-daunan. Melalui proses fermentasi selama 1 minggu dengan 2 hari pertama suhu pupuk harus di monitoring berkala 5 jam sekali setelahnya di cek 2 kali sehari, jika menggunakan biokompos, limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna berubah menjadi pupuk padat yang subur dan dapat langsung digunakan untuk tanaman. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi persentase keberhasilan pupuk organik padat yaitu kadar air karena mempengaruhi kinerja mikroorganisme dalam pupuk pada proses fermentasi, jika pupuk saat proses monitoring bersuhu dingin maka mikroorganisme harus di bangunkan dengan cara disiramkan air sebaliknya jika suhu pupuk terasa lebih panas maka pupuk organis harus di angin-anginkan dengan cara dibolak-balik.

Monitoring pupuk organik padat secara berkala

Program ini tidak hanya menjadi solusi lingkungan, tetapi juga menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam membangun kemandirian dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah berbasis pemberdayaan lokal.