Konten dari Pengguna

Tepanom, Alat Penebar Pupuk Sederhana Buatan Mahasiswa KKN

fathur mendeita

fathur mendeita

mahasiswa universitas 17 agustus 1945 jakarta

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari fathur mendeita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi Pribadi Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi Penulis

Menebar pupuk merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan petani dalam merawat tanaman. Aktivitas tersebut umumnya dilakukan secara manual dengan tangan. Melihat kegiatan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta mencoba membuat alat penebar pupuk sederhana yang diberi nama Tepanom.

Tepanom dibuat saat pelaksanaan KKN di Kecamatan Cigombong, Kelurahan Tugu Jaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Alat ini dirancang sebagai alat bantu untuk memudahkan proses penyebaran pupuk tanpa menggunakan teknologi yang rumit.

Ide pembuatan Tepanom berangkat dari upaya memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan. Pipa atau paralon dipilih sebagai material utama karena dapat dirangkai dan disesuaikan dengan bentuk alat yang dibutuhkan.

Dalam pembuatannya, Tepanom menggunakan pipa berwarna putih berukuran 1/2 inci dan pipa berwarna abu-abu berukuran 3/4 inci. Beberapa komponen lain juga digunakan, yaitu satu bungkus pengikat kabel, per kecil, tutup pipa berukuran 3/4 inci, dua buah sambungan pipa berukuran 2 x 1/2 inci, serta sekrup.

Seluruh bahan tersebut dirangkai menjadi satu kesatuan alat. Dari proses tersebut, dibuat dua buah Tepanom yang kemudian digunakan sebagai bagian dari program kerja KKN.

Dari Pipa Menjadi Alat Bantu Pertanian

Penggunaan pipa sebagai bahan utama membuat Tepanom memiliki bentuk yang sederhana. Alat ini tidak menggunakan mesin ataupun sistem elektronik sehingga proses pembuatannya dapat dilakukan dengan peralatan yang relatif mudah ditemukan.

Prinsip penggunaannya juga dibuat sederhana. Pupuk ditempatkan pada bagian alat yang telah dirancang, kemudian alat digunakan untuk membantu mengarahkan pupuk ke area tanaman.

Kehadiran Tepanom diharapkan dapat membantu proses penebaran pupuk menjadi lebih praktis. Selain itu, pembuatan alat ini memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk mencoba mengubah sebuah kebutuhan di lapangan menjadi sebuah produk sederhana.

Meski demikian, Tepanom bukan dimaksudkan sebagai pengganti seluruh peralatan pertanian. Alat tersebut lebih tepat dilihat sebagai alat bantu yang masih dapat dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan petani.

Belajar dari Kebutuhan di Lapangan

Kegiatan KKN memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk tidak hanya menjalankan kegiatan akademik, tetapi juga berhadapan langsung dengan kondisi masyarakat.

Lingkungan Kecamatan Cigombong yang memiliki aktivitas pertanian menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa untuk melihat kebutuhan yang dapat dijadikan bahan dalam menyusun program kerja.

Pembuatan Tepanom kemudian menjadi salah satu bentuk kegiatan yang menggabungkan kreativitas dengan kebutuhan sederhana di bidang pertanian. Prosesnya dimulai dari menentukan konsep, memilih bahan, melakukan perakitan, hingga menghasilkan dua unit alat yang dapat digunakan.

Bagi mahasiswa, proses tersebut menjadi pengalaman untuk memahami bahwa membuat sebuah alat tidak selalu dimulai dari teknologi yang kompleks. Hal yang lebih penting adalah memahami fungsi yang ingin dibuat dan menyesuaikannya dengan kondisi di lapangan.

Masih Bisa Dikembangkan

Tepanom yang dibuat dalam kegiatan KKN ini masih merupakan alat sederhana. Karena itu, masih terdapat peluang untuk melakukan pengembangan, baik dari segi bentuk, ukuran, maupun mekanisme penyebaran pupuk.

Pengembangan tersebut dapat dilakukan berdasarkan pengalaman penggunaan alat secara langsung. Masukan dari pengguna juga dapat menjadi pertimbangan untuk mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki agar alat lebih nyaman dan efektif digunakan.

Dengan begitu, Tepanom tidak berhenti hanya sebagai hasil program kerja KKN. Alat ini dapat menjadi contoh awal bahwa pemanfaatan bahan sederhana bisa menghasilkan sebuah gagasan yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat.

Pada akhirnya, Tepanom bukan tentang seberapa canggih sebuah alat dibuat. Hal yang lebih penting adalah bagaimana sebuah gagasan dapat muncul dari kebutuhan yang ada di sekitar, kemudian diwujudkan menjadi sesuatu yang memiliki fungsi.

Dari beberapa potong pipa, pengikat kabel, per, sambungan pipa, tutup pipa, dan sekrup, mahasiswa KKN mencoba menghadirkan sebuah alat penebar pupuk sederhana. Tepanom menjadi bagian kecil dari pengalaman KKN sekaligus upaya untuk memberikan alternatif dalam kegiatan pemupukan di lingkungan masyarakat.