KKN 140 Edukasi Sampah Warga Karangwangi Lewat Incinerator dan Komposting

Kelompok KKN 140 yang sedang Melakukan Pengabdian di Desa Karangwangi, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari KKN 140 UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG Karangwangi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tim KKN Kelompok 140 UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar penyuluhan pengelolaan sampah bagi warga Dusun 3 Desa Karangwangi yaitu RW 07, 08, 09, dan 10. Kegiatan ini digelar untuk meningkatkan kesadaran lingkungan warga melalui pemilahan sampah serta meningkatkan rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Pada program ini, Kelompok KKN 140 memaparkan penggunaan alat pembakar sampah yaitu incinerator untuk limbah nonorganik, serta teknik pembuatan kompos sederhana yang memanfaatkan wadah galon bekas untuk pengolahan sampah organik.

Inovasi Dua Solusi untuk Pengelolaan Limbah
Program ini hadir merespons pengelolaan sampah warga yang belum optimal, di mana limbah organik kerap menumpuk dan sampah anorganik dibakar secara terbuka (open burning). Guna menekan polusi asap dan mengolah limbah secara bijak, KKN Kelompok 140 menawarkan dua solusi inovatif:
1. Rancangan Incinerator 3D (SketchUp)
Inovasi wadah pembakaran khusus limbah non-B3 yang dirancang agar suhu api tinggi, sehingga mengurangi kadar asap yang keluar dan mencegah polusi dari open burning.
2. Metode Composting Sederhana:
Mengolah sisa sampah dapur (seperti nasi dan sayur) menggunakan media galon rakitan. Bahan didiamkan hingga terurai menjadi pupuk kompos yang hemat dan kaya nutrisi.
Rangkaian penyuluhan ini mendapat sambutan hangat dari warga RW 07 hingga RW 10 di Dusun 3 Desa Karangwangi kecamatan Ciranjang Cianjur. Lewat pemodelan skema dan edukasi yang interaktif, materi pengelolaan limbah dapat diserap dengan mudah oleh masyarakat.
Apresiasi tinggi turut disampaikan oleh Ketua RW 10, Pak Yusuf, atas hadirnya edukasi ini. KKN Kelompok 140 berharap program tersebut dapat menjadi pemantik bagi warga untuk lebih mandiri dan konsisten dalam menjaga kebersihan lingkungan desa secara berkelanjutan.
"Kami sangat terbantu. berbekal modul panduan yang diberikan, kami siap mencoba membangun incinerator itu secara mandiri ke depannya," tutur Pak Yusuf.
