Konten dari Pengguna

KKN-K 173 Lakukan Survey dan Rekonfirmasi Anak Tidak Sekolah di Desa Subo

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari KKN KOLABORATIF 173 SUBO PAKUSARI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi Pendataan Anak Tidak Sekolah
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pendataan Anak Tidak Sekolah

Rabu, 23 Juli 2025 – Tidak semua anak di Desa Subo, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, memilih untuk melanjutkan pendidikan formal di sekolah. Fenomena anak tidak sekolah (ATS) di desa ini ternyata lebih banyak disebabkan oleh kurangnya semangat dan motivasi belajar daripada masalah ekonomi semata. Namun, berdasarkan data pemerintah dan pengakuan warga masyarakat, beberapa anak semula yang tercatat putus sekolah sebenarnya telah melanjutkan pendidikan hingga lulus. Apalagi sebagian dari mereka sudah bekerja dan ada yang sudah menikah, yang menunjukkan dinamika situasi pendidikan dan kehidupan yang lebih kompleks di masyarakat.

Berdasarkan pendataan terbaru, terdapat sekitar 47 anak dari berbagai jenjang pendidikan yang tidak bersekolah di empat dusun Desa Subo, yaitu Dusun Sanggar, Dusun Kaliwinging, Dusun Karang Sadang, dan Dusun Gudang Duren. Anak-anak ini termasuk dalam beberapa kategori: mereka yang putus sekolah (drop out), yang telah lulus tetapi tidak melanjutkan pendidikan, yang putus sekolah tetapi memilih melanjutkan pendidikan di pesantren (mondok), serta yang sama sekali tidak pernah bersekolah.

Dokumentasi Pendataan Door to Door

Untuk mendapatkan data yang akurat, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif 173 melakukan rekonfirmasi secara langsung dengan mendatangi rumah-rumah anak yang tercatat tidak bersekolah. Pendataan dilakukan dengan metode “door to door” yaitu mahasiswa mengunjungi rumah anak-anak yang tercatat tidak bersekolah, didampingi oleh orang tua dan RT setempat. Melalui wawancara dan observasi langsung, siswa mencocokkan data yang ada di Dinas Pendidikan (DISPENDIK) dengan kondisi nyata di lapangan.

Dari hasil kunjungan ini, selain menguatkan bahwa faktor ekonomi menjadi kendala bagi beberapa keluarga, terungkap pula bahwa kurangnya motivasi dan keinginan belajar menjadi penyebab utama anak berhenti atau tidak melanjutkan sekolah. Namun, data rekonsiliasi juga menunjukkan bahwa sebagian anak yang awalnya tercatat putus sekolah ternyata sudah melanjutkan pendidikannya hingga lulus. Beberapa dari mereka bahkan telah memasuki dunia kerja atau membangun keluarga dengan menikah. Hal ini mengindikasikan perlunya pendekatan yang lebih mendalam dalam memahami status pendidikan dan kehidupan anak-anak di Desa Subo.

Data yang telah diperbarui ini kemudian diunggah ke dalam sistem myDispendik Jember sebagai bahan evaluasi dan dasar pengambilan kebijakan oleh Pemerintah Kabupaten Jember serta Dinas Pendidikan. Sinergi antara pemerintah, Dinas Pendidikan, dan mahasiswa KKN ini diharapkan mampu menghadirkan solusi yang tepat sasaran untuk mengatasi masalah anak tidak sekolah di Desa Subo.

Langkah ini menjadi usaha penting untuk memastikan agar setiap anak memperoleh kesempatan pendidikan yang memadai, serta meningkatkan kesadaran dan motivasi belajar di masyarakat sekitar.