Tingkatkan Hasil Tani, KKN UNS 118 Kenalkan Alat Penabur Pupuk ke Desa Pasekan

Sekumpulan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) yang tergabung dalam kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nomor 118 2026
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari KKN 118 UNS 2026 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pasekan, Ambarawa — Mahasiswa KKN UNS kelompok 118 yang berjumlah 10 orang melakukan kegiatan sosialisasi alat penabur pupuk yang dilakukan bersamaan dengan dilaksanakannya pertemuan rutin kelompok tani Desa Pasekan “GAPOKTAN” pada hari Senin (26/1). Sosialisasi tersebut bertujuan untuk memperkenalkan alat penabur pupuk yang dirancang untuk membantu para petani Desa Pasekan yang beberapa diantaranya telah memasuki usia lanjut.
Kegiatan diawali dengan sambutan yang diberikan oleh ketua kelompok tani, Pitoyo. Kemudian, diteruskan dengan penjabaran mengenai fungsi dan manfaat alat penabur pupuk oleh koordinator program kerja. Kemudian, acara dilanjutkan dengan demonstrasi langsung dari alat penabur pupuk di lahan perkebunan cabai warga di Dusun Kintelan. Pada akhir acara, dilaksanakan serah terima alat penabur pupuk kepada masing-masing perwakilan kelompok tani.
Sosialisasi mengenai pembuatan alat ini mendapatkan sambutan yang baik dari para perwakilan kelompok tani. Diharapkan, alat penabur pupuk ini dapat membantu memudahkan para petani yang telah berusia lanjut agar tidak perlu membungkukkan badan lagi. Selain itu, dengan dibuatnya alat ini, diharapkan akan lebih banyak masyarakat dari golongan muda yang tertarik dengan dunia pertanian.
Inovasi alat penabur pupuk ini secara langsung mendukung capaian SDGs poin ke-8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan meningkatkan efisiensi kerja petani, sehingga mampu menekan biaya operasional dan mendorong produktivitas ekonomi sektor pertanian di Desa Pasekan. Selain itu, program ini menjadi wujud nyata pemenuhan SDGs poin ke-9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui introduksi teknologi tepat guna yang inklusif. Dengan mengadopsi inovasi sederhana namun berdampak besar ini, infrastruktur pertanian desa menjadi lebih modern dan adaptif, membuka jalan bagi terciptanya sistem pertanian yang lebih kokoh dan berkelanjutan.
