Monogami Penguin: Insting Alamiah Sejak Zaman Evolusi Darwin

PhD student at Institute of Biology Leiden and Faculty of Biology Universitas Gadjah Mada
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Klara Kharisma Bunga Chandra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penguin adalah hewan yang terkenal dengan fiturnya yang lucu, menggemaskan, dan aktif berlari di kawasan bersalju. Selain keunikannya, penguin memiliki sifat yang mengharukan yaitu setia terhadap satu pasangan. Simbol dari cinta yang sejati dan penuh makna.
Sebagian besar spesies penguin terbukti memiliki kesetiaan tinggi kepada pasangannya, dan berpasangan hanya dengan satu individu tanpa berganti-ganti. Spesies penguin yang dikenal monogami di antaranya adalah Galapagos Penguin, Little Blue Penguin, Macaroni Penguin, Adelie Penguin, Gentoo penguin, dan Chinstrap Penguin. Bukti nyata dari penelitian ini adalah pasangan bersatu kembali dari tahun ke tahun di lokasi sarang mereka dengan fidelity rate atau tingkat kesetiaan yang tinggi mencapai 80%.
Oleh karena itu, ikatan pasangan dapat bertahan lama, dengan banyaknya penguin jantan yang pulang untuk bertemu pasangan mereka sebelumnya di lokasi perkembangbiakan yang sama setiap tahun. Seperti yang ditunjukkan pada film Happy Feet, Mumble akan selalu kembali pada Gloria, dan Gloria akan tetap selalu menunggu Mumble untuk kembali, entah bagaimana insting selalu menemukan satu sama lain.
Ahli Biologi dari Kanada, Williams dan Rodwell meneliti pola migrasi spesies penguin Pygoscelis papua (Penguin Gentoo) dan Eudyptes chysolophus (Macaroni penguin) selama empat tahun, dari tahun 1986 sampai 1990 di pulau Bird, Selatan Georgia. Hasilnya menunjukkan tahun 1988, 79% Gentoo Penguin, dan 70% dari Macaroni Penguin, yang sudah berkembang biak pada tahun sebelumnya, memutuskan kembali ke tempat yang sama untuk berkembang biak kembali.
Kedua pasangan, jantan dan betina sudah ditandai dengan gelang elektronik yang menunjukkan spesies yang sama kembali di titik tersebut. Penguin Macaroni yang tidak sedang berkembang biak tetap kembali ke lokasi sarang lama mereka dan tetap hadir selama beberapa hari. Jarak sarang hanya sekitar 1 meter dari lokasi awal pertemuan kedua individu untuk berkembang biak, sehingga hal ini menjadi bukti kesetiaan yang tinggi.
Desakan pemenuhan gizi dan kompetisi yang tinggi antar penguin, keterbatasan ketersediaan sumber pangan menuntut mereka untuk mencari ke tempat yang lebih jauh, selama berbulan-bulan bahkan setahun lamanya. Hal ini menyebabkan individu jantan harus meninggalkan sarang, di mana letak kesetiaan itu diuji. Secara alamiah, penguin betina tidak akan jauh meninggalkan sarang lamanya sehingga pola kembali atau return rate terbentuk.
Persentase spesies yang tidak kembali, diduga memiliki banyak faktor. Beberapa dilaporkan mati dalam perjalanan kembali setelah puasa musim panas, tersesat dan kehilangan arah, dan tampak hilang dari radar. Tidak ada kepastian apakah mereka menemukan pasangan lainnya, atau hanya sekadar ingin sendiri. Seperti Penguin Gentoo misalnya, ia memiliki kemampuan breeding yang rendah. Penguin Gentoo yang tidak sedang berkembang biak hanya mengunjungi koloni pada malam hari, menghabiskan siang hari di laut. Namun terlepas dari itu, ia tetap kembali.
Contoh spesies penguin yang tingkat kepulangannya lebih rendah dari koloni lain yaitu Aptenodytes forsteri, tokoh utama film Happy Feet, si Mumble. Spesies penguin ini terkenal tidak memiliki kemampuan membuat sarang, dan menginkubasi telurnya dengan kaki. Artinya, ia tidak memiliki rumah untuk pulang sehingga sang jantan dan betina kerap berjalan ke arah yang berbeda.
Perbedaan ini mengakibatkan sangat sulit untuk mereka bertemu kembali, kesulitan menemukan titik awal bertemu, dan terdapat ancaman dari kompetisi wilayah dengan spesies lain. Beberapa individu terjebak dalam cekaman suhu panas dan mati. Namun, sebagaimana kesetiaan itu ada, insting mereka tetap mempertemukan sehingga tingkat kesetiaan mereka berkisar 30-40% sepanjang tahun.
Menariknya, jika evolusi mampu mengubah fisiologi spesies berdasarkan perubahan lingkungannya, maka kesetiaan itu hadir dalam diri penguin sebagai bentuk yang abadi. Istilah lainnya yaitu conserved behavior. Hukum evolusi Darwin menandai adanya kemampuan individu untuk mewariskan sifat yang mirip lingkungannya, maka sifat monogami penguin menjadi alat untuk mereka bertahan hidup. Kesetiaan tidak dibatasi oleh spasial dan temporal, tidak juga dipengaruhi ancaman lingkungan sebab kesetiaan bukan genotipe baru yang terekspresi secara fisik, melainkan insting yang sudah mengakar dalam diri individu penguin.
