Prinsip Utama UX Writing

Mahasiswa Teknologi Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kamilia Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

UX (User Experience) atau pengalaman pengguna menjadi kunci dalam kesuksesan sebuah produk digital. UX Writing menjadi salah satu elemen penting agar tercipta pengalaman pengguna yang nyaman dan menyenangkan. Copy yang terdapat pada tombol, menu, hingga notifikasi, di sebuah aplikasi atau website merupakan bentuk dari UX Writing. Tujuan dari UX Writing adalah membantu pengguna berinteraksi dengan produk secara lebih mudah dan efisien.
Bagi seorang UX Writer, terdapat prinsip utama yang perlu diterapkan agar copy yang dihasilkan bisa memberikan pengalaman pengguna yang terbaik, prinsip tersebut yaitu:
1. Clear (Jelas)
Prinsip pertama adalah kejelasan. Pesan yang tidak jelas akan menyebabkan kebingungan pengguna, bahkan bisa membuat mereka meninggalkan aplikasi atau website. Prinsip ini memastikan bahwa setiap copy dalam produk digital mudah dipahami oleh semua kalangan pengguna, baik yang sudah lama maupun yang baru.
Menurut Nielsen Norman Group, penggunaan bahasa yang sederhana dan langsung dapat membuat pesan lebih mudah dipahami oleh semua pengguna. Pesan yang jelas mencegah kesalahpahaman dan membuat pengguna merasa yakin atas tindakan yang akan mereka ambil.
Tips untuk menerapkan kejelasan dalam UX Writing:
Gunakan bahasa sehari-hari yang sederhana dan langsung ke intinya.
Hindari penggunaan istilah teknis yang hanya dipahami kalangan tertentu.
Periksa kembali apakah setiap pesan memberikan makna yang jelas dan tidak ambigu.
2. Concise (Ringkas)
Prinsip kedua adalah keringkasan. Dalam dunia digital yang serba cepat, pengguna cenderung tidak ingin membaca teks yang panjang atau bertele-tele, terutama saat mereka menggunakan perangkat mobile. Oleh karena itu, UX Writing harus langsung ke intinya dan menghindari kata-kata yang tidak perlu.
Sebagai contoh, tombol yang sebelumnya bertuliskan, "Klik di sini untuk melanjutkan", bisa lebih efektif jika dipersingkat menjadi "Lanjutkan". Hal ini mempersingkat waktu pemrosesan pengguna dan mengurangi distraksi dari konten utama.
Tips untuk menerapkan keringkasan dalam UX Writing:
Hapus kata-kata yang tidak perlu dan fokus pada pesan yang ingin disampaikan.
Gunakan kalimat pendek dan sederhana.
Selalu tanyakan, "Apakah penggunaan kata ini benar-benar diperlukan?"
3. Useful (Bermanfaat)
Prinsip ketiga adalah kebermanfaatan. UX Writing harus memberikan nilai tambah atau informasi yang berguna bagi pengguna. Bukan hanya soal memandu pengguna dari satu langkah ke langkah berikutnya, tetapi juga memberikan bantuan dan dukungan selama menggunakan aplikasi atau website. Ini termasuk penggunaan CTA (Call to Action) atau ajakan bertindak yang jelas dan informatif.
UX Writing juga perlu memberikan solusi atau jawaban atas kebutuhan pengguna di setiap tahap. Misalnya, jika pengguna mengalami kesalahan saat mengisi formulir, daripada hanya menampilkan pesan "Ada yang salah", UX Writing yang baik akan memberi tahu pengguna secara spesifik apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya, misalnya “Pastikan email yang Anda masukkan valid".
Tips untuk menerapkan kebermanfaatan dalam UX Writing:
Pastikan setiap kata atau kalimat memiliki tujuan yang membantu pengguna.
Berikan konteks tambahan saat diperlukan, terutama untuk proses yang kompleks.
Tulis pesan kesalahan dan instruksi dengan jelas serta sertakan solusi.
Dengan menerapkan ketiga prinsip ini secara konsisten, UX Writer dapat meningkatkan kualitas pengalaman pengguna secara keseluruhan dan membangun hubungan positif antara pengguna dan produk.
