Konten dari Pengguna

Bersama JNE Membangkitkan Ekonomi Petani, Kisah dari Lereng Gunung Semeru

Irpanudin

Irpanudin

Peternak ikan, lulus IPB th 2005. Suka menulis apa saja

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Irpanudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Agar petani sejahtera dibutuhkan penghubung petani dengan konsumen, sehingga aliran produk-produk pertanian dari petani ke konsumen berjalan lancar. Berpengalaman lebih dari 3 dekade di bidang logistik, mengantarkan barang dan dokumen, PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) dapat berkontribusi bagi sektor pertanian, ekonomi pedesaan, dan kesejahteraan petani Indonesia. Yaitu melalui peran strategisnya sebagai jembatan penghubung antara petani dengan pasar besar yang berada di perkotaan.”

Data menunjukkan Indonesia mengalami darurat regenerasi petani muda. Lebih dari 50% petani dan peternak di Indonesia berusia di atas 50 tahun. Anak muda sekarang enggan bertani atau beternak, terlebih mereka yang pernah mengecap pendidikan perguruan tinggi. Faktor utamanya tidak lain kesejahteraan. Petani identik dengan pekerjaan yang kotor, bau, lokasi jauh dari peradaban, dan berresiko tinggi, tetapi jaminan kesejahteraannya rendah.

Karena itu tidak mengherankan, perguruan tinggi di bidang keilmuan agraris sekali pun kesulitan mengarahkan lulusannya agar menjadi petani atau peternak. Kalau pun harus menggeluti bidang pertanian, maka menjadi peneliti, pegawai dinas pertanian atau karyawan perusahaan pupuk dan kimia pertanian, merupakan pilihan yang lebih menjanjikan bagi para sarjana pertanian.

Tetapi itu tidak berlaku bagi Dodi Jarwoko. Impiannya sejak remaja untuk menggeluti usaha peternakan dan pertanian ia wujudkan di lereng Gunung Semeru. Pada tahun 2012 Dodi dipercaya Altara Farm untuk memelihara 200 bakalan kambing, di peternakan yang berjarak lebih dari 70 km dari Kota Malang. Sejak itulah Dodi mengabdikan ilmu, gagasan, dan tenaganya, menjadi petani dan peternak yang sebenarnya dengan turun ke kandang serta mengolah kebun.

Dodi bersama Alpukat Hass yang dipelihara seperti anak sendiri (dok pribadi Dodi)

Altara Farm terus tumbuh, hingga mengelola ribuan ekor kambing dan ayam, dan bermitra dengan masyarakat sekitar membentuk plasma usaha-usaha pertanian. Mengembangkan ekonomi di pedalaman Malang. Kini selain peternakan kambing dan ayam, dan usaha pertanian, sejak tahun 2020 silam Dodi mulai mengembangkan Alpukat Hass. Kini lebih dari 3.000 pucuk alpukat mulai berbuah di lahan seluas 3ha yang dikelolanya.

Kegiatan di peternakan ayam Altara Farm ( dok pribadi Dodi)

“Kekuatan utama pertanian adalah budaya kebersamaan atau gotong-royong.” Kata Dodi, memulai kisahnya melewati naik turun usaha di bidang agraris.

Menurut Dodi, dengan memperkuat kegotongroyongan pula petani bisa mencapai taraf kesejahteraan yang tinggi. Bahkan bisa lebih tinggi dibanding profesi lain. Dodi punya alasan berpendapat demikian.

Menjadi petani memang tidak mudah. Kegiatan bertani membutuhkan modal yang lumayan besar, jika pun modalnya bukan uang, tenaga dan waktu kompensasinya. Belum lagi resiko tidak terduga seperti hama, penyakit, kondisi cuaca, sosial, hingga keadaan perekonomian negara turut mempengaruhi kehidupan petani.

Mengolah dan mempersiapkan lahan, sebagai proses paling awal usaha pertanian pun membutuhkan tenaga yang tidak sedikit. Petani yang memiliki lahan dan modal besar bisa mempekerjakan buruh tani. Sementara pemilik lahan yang tidak memiliki modal mencukupi biasanya memilih mengerjakan lahan secara gotong royong bersama komunitas dengan imbal jasa bagi hasil.

Bahkan untuk menjaga keamanan ternak dan tanaman dari pencurian, dibutuhkan kebersamaan. Demikian halnya saat perawatan, pemanenan, hingga membawa hasil panen ke pasar. Pendek kata, menjadi petani tidak pernah dapat melakukan pekerjaan seorang diri. Kebersamaan adalah ruh petani karena karakteristik pertanian sendiri.

Kekuatan kebersamaan yang membuat Dodi dan masyarakat petani di sekitar Altara Farm mengatasi pengaruh wabah yang meluas ke sendi ekonomi. Dodi mengenang saat awal wabah covid19 silam, yang paling terpukul itu adalah peternakan Ayam. Ribuan ekor ayam pedaging dan telur siap panen tidak dapat keluar dari kandang akibat penurunan konsumsi masyarakat. Hasil-hasil pertanian, seperti daging dan telur, jika tidak segera dikonsumsi akan mengalami pembusukan, sehingga merugikan petani. Sementara memeliharanya sebagai makhluk hidup membutuhkan pakan. Padahal pakan menyerap hampir 70% komponen biaya peternakan.

Melalui jaringan komunikasi, kerjasama dengan sejumlah lembaga untuk penjualan hasil produksi dan pengolahan, para petani di Semeru bahu-membahu menekan dampak ekonomi akibat pandemi.

Latar belakang pendidikan sebagai sarjana peternakan dari perguruan tinggi negeri di Bogor sangat membantu Dodi mengembangkan usaha Altara Farm. Bersama-sama plasma dan komunitas petani di sekitarnya Dodi membuat ransum pakan bagi ternak ayam dan kambing, memanfaatkan tanaman, limbah organik pertanian, dan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar. Sehingga mampu menurunkan biaya operasional peternakan secara signifikan.

Kandang kambing di Altara Farm (dok pribadi Dodi)

“Menguasai ilmu pengetahuan dan mau terus belajar menjadi kunci penting, jika ingin terjun dan berhasil di bidang pertanian”. Lanjut Dodi.

Di masa awal membudidayakan Alpukat Hass di lereng Semeru tahun 2020 silam, Dodi menjalin lagi proses belajar dari ketidaktahuan tersebut. Dodi mempelajari seluk beluk pembibitan, pemeliharaan, kontrol kualitas buah Alpukat dari nol melalui diskusi dengan akademisi dan petani yang berhasil, dan sebagian lainnya diperoleh secara otodidak.

Pemilihan Alpukat Hass sebagai komoditas telah melalui pertimbangan yang matang. Alpukat ini dipilih karena berbagai keunggulan seperti: relatif lebih tahan hama dan penyakit, cepat berbuah, tahan lama setelah dipetik, dan terutama banyak peminat karena cita rasa yang enak. Prospeknya sangat cerah, sebab konsumsi Alpukat Indonesia terus meningkat dan kebutuhannya masih dipenuhi dari impor.

Lagi-lagi Dodi tidak sendiri mengembangkan Alpukat. Melalui pembibitan Alpukat mandiri, Altara Farm telah membagikan lebih dari 5.500 pucuk Alpukat Hass ke 5 petani di sekitar Semeru. Tahun ini rencananya, masih akan membagikan 5.000 bibit kepada para petani lain yang bertindak sebagai plasma. Tak hanya bibit, Dodi dan Altara farm juga mengajarkan penanaman, perawatan, dan kontrol kualitas, berbagi ilmu dan membentuk komunitas petani Alpukat.

Produksi bibit Alpukat Altara Farm (dok pribadi Dodi)
Bibit Alpukat siap kirim kepada petani di lereng Semeru (dok pribadi Dodi)

Di usia yang menginjak 3 tahun, Alpukat Hass milik Altara Farm dan komunitas petani Alpukat di lereng Semeru mulai berbuah. Dari hasil panennya Dodi mengirim ke pembeli di Samarinda, Jakarta, Palembang, Pangkalan Bun, hingga Makassar. Sebagian dikirim langsung untuk konsumen menggunakan jasa pengiriman JNE.

Bayangkan kondisi di masa silam. Karena jarak dan minimnya sarana transportasi, produk pertanian sulit diangkut menuju pasar di pusat kota. Petani hanya mampu menjual hasil panennya kepada tengkulak. Hasil panen dihargai sekedar sedikit di atas biaya produksi dan tenaga, sementara tengkulak menjualnya kepada konsumen dengan harga tinggi. Petani tidak memiliki posisi tawar tinggi. Tengkulak makin kaya, sedangkan petani terus miskin.

Rekor sementara bobot terbesar Alpukat di Altara Farm (dok pribadi Dodi)

Saat ini melalui media sosial dan toko daring di internet, petani bisa mempromosikan produknya ke seluruh Indonesia. Sementara JNE, membantu para petani yang berada jauh dari pusat kota, mengantarkan produk pertanian secara cepat dan tepat. Langsung sampai ke tangan konsumen, dengan biaya terjangkau.

Bagi petani karena terhubung langsung dengan konsumen, produk pertaniannya dihargai secara pantas. Sedangkan konsumen, menerima produk pertanian yang lebih segar dan berkualitas. Keberadaan jasa logistik JNE, dengan cabang berada di seluruh Indonesia dan keagenan yang menjangkau hingga pelosok, dinilai Dodi sangat membantu petani seperti dirinya.

Dodi sendiri memilih jasa pengiriman JNE karena berbagai pertimbangan. Di antaranya: waktu pengirimannya cepat, kantor cabangnya tersebar di penjuru Indonesia, tariff yang wajar dan kompetitif, tersedia beragam pilihan layanan paket, sistem daring yang memudahan melakukan tracking pengiriman 24 jam, serta adanya layanan costumer service jika pengiriman paket menemui kendala. Agar kualitas Alpukat Hass terjaga saat diterima konsumen, maka jasa pengiriman pun dipilih yang paling berkualitas. Selama ini Dodi mengaku, tidak pernah menemui kendala berarti saat menggunakan jasa JNE untuk mengirim paket berisi Alpukat Hass.

Gayung bersambut. JNE sendiri memang sedang gencar mendukung sektor UMKM untuk terus bertumbuh. Berbagai program diluncurkan JNE untuk UMKM, sebagai komitmen dan kontribusi JNE bagi kebangkitan ekonomi Indonesia pasca pandemi.

JNE mendukung penuh UMKM untuk kemandirian anak negeri (foto JNE Ekpress)

Terkhusus di Malang, Kepala Cabang JNE Kota Batu, Sigit Subroto, menyebutkan bahwa JNE Kota Batu memandang sektor pariwisata, UMKM, dan komoditas hasil pertanian atau perkebunan, merupakan pasar besar mendapat perhatian untuk terus dikembangkan. Industri pariwisata dan hasil komoditas pertanian dan perkebunan pasca pandemi covid 19 di sekitar Malang mulai bangkit, kemudian berimbas kepada peningkatan kiriman paket. Berkat kejelian melihat potensi daerahnya, JNE Kota Batu menjadi cabang dengan pertumbuhan tertinggi di JNE Cabang Utama Malang.

Simbiosis mutualisme, yang secara alami terjalin antara petani seperti Dodi dengan Jasa pengiriman paket JNE merupakan refleksi nyata dari semangat kebersamaan. Bagi setiap pribadi yang terlibat tanpa disadari dalam kebersamaan itu; petani, pengantar paket, sopir, petugas administrasi, hingga agen JNE, motif dasarnya barangkali sederhana: mencari nafkah untuk keluarga. Tetapi ketika kebersamaan ini terwujud dalam produktifitas, lalu saling bertaut dengan kerja nyata di pihak lain, menghasilkan dampak besar bagi lingkungan, bahkan negara.

Semoga ke depan, JNE semakin kukuh menjadi jembatan penghubung antara petani dengan konsumennya. Menghubungkan desa, kota dan pulau, dan daerah terpencil, menjadi rekan bagi peningkatan kesejahteraan pahlawan-pahlawan pangan. Sehingga negara ini tidak lagi kekurangan pemuda yang mau menjadi petani. Selamat ulang tahun ke-32 JNE.

#JNE32tahun #JNEBangkitbersama #JNEcontentcompetition2023 #ConnectingHappines

Sumber Bacaan dan Foto

1. Dokumen pribadi Dodi Jarwoko

2. https://www.umm.ac.id/id/arsip-koran/harian-bhirawa/antisipasi-krisis-peternak-muda.html

3. https://katadata.co.id/ariayudhistira/analisisdata/6064027728ff4/indonesia-dalam-ancaman-krisis-regenerasi-petani

4. https://tirto.id/indonesia-krisis-regenerasi-petani-muda-cnvG

5. https://jnewsonline.com/tumbuh-dari-geliat-pariwisata-cerita-jne-kota-batu-malang/2/

6. https://investor.id/business/277128/tak-hanya-kirim-barang-jne-juga-sokong-umkm-untuk-berkembang

7. https://www.jne.co.id/id/berita/berita-detail/jne-gelar-jne-umkm-bersinergi-menuju-kemandirian-anak-negeri