Konten dari Pengguna

4 Transformasi Digital Universitas Terbuka yang Bisa Jadi Inspirasi Kampus

SEVIMA

SEVIMA

Sentra Vidya Utama (Sevima) adalah Education Technology yang berdiri sejak tahun 2.004, dengan komunitas dan pengguna platform yang tersebar di lebih dari 1.000 kampus se-Indonesia. Bersama kita revolusi pendidikan tinggi, #RevolutionizeEducation!

·waktu baca 4 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari SEVIMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Dok. SEVIMA
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Dok. SEVIMA

Di tengah arus digitalisasi global, Universitas Terbuka (UT) sebagai pelopor transformasi pendidikan tinggi di Indonesia. Dengan lebih dari 673 ribu mahasiswa aktif, dan target menyentuh angka satu juta, UT menjadikan digitalisasi bukan sekadar alat bantu, melainkan fondasi utama dalam menyelenggarakan pendidikan jarak jauh yang efisien dan menjangkau seluruh penjuru negeri, bahkan luar negeri.

Dalam wawancara eksklusif bersama Rektor Universitas Terbuka, Dr. Mohamad Yunus, S.S., M.A., terungkap bahwa transformasi digital di UT bukan hanya berkutat pada teknologi, melainkan menyentuh perubahan paradigma menyeluruh, dari tata kelola institusi hingga pola pikir mahasiswa dan tenaga pendidik.

“Digitalisasi kampus itu bukan sekadar aksesoris, bukan hanya soal semua orang pegang komputer. Tapi bagaimana kita mendesain pembelajaran, assessment, hingga interaksi dosen dan mahasiswa secara sistematis dan berbasis digital,” kata Dr. Yunus kepada SEVIMA, 20 Juni 2025.

Digitalisasi Bukan Pilihan, Tapi Keharusan

Dengan sistem pendidikan jarak jauh yang diterapkan UT, digitalisasi menjadi tulang punggung keberlanjutan kampus. Proses pendaftaran, registrasi, pembelajaran, hingga ujian, seluruhnya sudah bermigrasi ke sistem digital. Menurut Dr Yunus, pengelolaan ratusan ribu hingga jutaan mahasiswa tidak mungkin dilakukan dengan metode manual.

“Kalau misal semester depan kita punya 750 ribu mahasiswa, dan tahun depan 1 juta, lalu mereka masing-masing ambil 6 mata kuliah, berarti kita harus kelola hampir 6 juta transaksi ujian. Mana mungkin itu bisa dilakukan tanpa sistem digital?” ungkapnya.

Transformasi digital yang dilakukan UT bahkan telah mencakup sistem ujian daring yang fleksibel dan efisien, memungkinkan mahasiswa dari Papua hingga Arab Saudi mengikuti proses akademik secara merata.

Langkah Strategis UT yang Patut Dicontoh

Sebagai pelopor pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh, UT menempuh serangkaian strategi digital yang bisa dijadikan inspirasi oleh kampus-kampus lain, antara lain:

1. Edukasi dan Sosialisasi Digital

UT aktif melakukan edukasi kepada mahasiswa dan masyarakat melalui kanal digital. Dengan penyebaran informasi yang cepat, efisien, dan menjangkau seluruh wilayah, UT menghindari ketergantungan pada interaksi langsung yang terbatas ruang dan waktu.

2. Pendaftaran dan Registrasi Online

Proses registrasi mahasiswa dikelola sepenuhnya secara digital. Dengan skala besar, UT membuktikan bahwa digitalisasi mempercepat dan mempermudah layanan akademik.

3. Desain Pembelajaran Digital

UT menerapkan sistem pembelajaran yang adaptif terhadap infrastruktur digital mahasiswa. Untuk wilayah dengan keterbatasan akses internet, UT menyiasatinya dengan model pembelajaran yang fleksibel dan kombinasi luring.

4. Ujian Daring sebagai Solusi Nasional

UT mengembangkan sistem ujian daring yang aman dan andal. Ujian tatap muka kini hanya diikuti sebagian kecil mahasiswa, selebihnya dilakukan secara online, bahkan lintas negara.

Transformasi Paradigma: Kunci Sukses Digitalisasi

Bagi Dr Yunus, kunci dari transformasi digital bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan perubahan pola pikir seluruh civitas akademika. Kampus yang ingin menempuh digitalisasi tidak cukup membeli perangkat atau membangun server, melainkan harus membentuk cara pandang baru tentang layanan pendidikan.

“Perubahan itu harus dimulai dari cara berpikir. Digitalisasi bukan hanya cara baru, tapi keharusan baru. Pimpinan, dosen, staf, dan mahasiswa harus siap berubah,” tandasnya.

Dr Yunus mengakui, tidak semua wilayah memiliki infrastruktur digital merata. Namun ia menegaskan bahwa justru dalam keterbatasan itulah inovasi diuji.

“Setiap perguruan tinggi tentu punya skala dan tantangan masing-masing. Tapi transformasi digital tetap relevan. Minimal mulai dari sosialisasi digital, manajemen akademik, hingga sistem pembelajaran hybrid. Kalau tidak dimulai sekarang, kampus bisa tertinggal,” ujarnya.

Transformasi digital Universitas Terbuka membuktikan bahwa skala besar bukan hambatan, tetapi justru pemicu inovasi. Di tengah tuntutan efisiensi, aksesibilitas, dan kualitas, UT menunjukkan bahwa perubahan paradigma dan strategi digitalisasi yang tepat dapat menjawab tantangan pendidikan tinggi modern. Sebuah inspirasi nyata yang patut diadopsi oleh kampus-kampus lain di Indonesia.

Sebagai bagian dari komitmen menghadirkan layanan pendidikan yang inklusif dan mudah diakses, Universitas Terbuka juga menjalin kolaborasi dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan SEVIMA untuk memperluas kanal pembayaran uang kuliah. Salah satu terobosan terbaru adalah penambahan opsi pembayaran melalui platform e-commerce Shopee, yang memungkinkan mahasiswa melakukan pembayaran dengan lebih fleksibel, cepat, dan sesuai dengan kebiasaan digital mereka. Inisiatif ini tidak hanya mempercepat proses administrasi, tetapi juga menjadi bentuk transformasi digital UT dalam mendekatkan layanan pendidikan ke tengah kehidupan sehari-hari mahasiswa di berbagai wilayah.