Artificial Intelligence dalam Asesmen RPL: Meningkatkan Efisiensi dan Akurasi
Tulisan dari SEVIMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Palu, Sulawesi Selatan – Dalam seminar yang rutin diselenggarakan oleh SEVIMA dan dihadiri oleh ribuan rektor serta dosen dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, Dr. Dandi Darmadi, M.A.P, pakar digitalisasi kampus dan pendidikan tinggi, memaparkan peran penting teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI), dalam evolusi sistem asesmen Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Sebagai seorang profesional dengan lebih dari satu dekade pengalaman dalam dunia pendidikan tinggi, Dandi tidak hanya dikenal sebagai dosen dan konsultan, tetapi juga sebagai Koordinator MBKM di Universitas Andi Djemma, Palopo, Sulawesi Selatan.
Dandi, yang aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi lainnya dan mendukung lebih dari 1.200 perguruan tinggi dalam pengelolaan sistem akademik SEVIMA Platform, menjelaskan dalam seminar tersebut bagaimana teknologi AI dapat meningkatkan kualitas dan efisiensi dalam proses asesmen RPL.
"Perkembangan teknologi semakin pesat, dan pendidikan tinggi harus memanfaatkan inovasi-inovasi ini untuk mempermudah dan mempercepat proses pembelajaran. Salah satu inovasi yang sangat potensial adalah penggunaan AI dalam asesmen RPL," ujar Dandi di hadapan peserta seminar yang antusias.
Peran AI dalam Sistem Asesmen RPL
Dandi menjelaskan bahwa teknologi AI memiliki berbagai aplikasi yang dapat digunakan dalam asesmen RPL, yang memungkinkan pengakuan pembelajaran dari pengalaman kerja atau pendidikan non-formal. Salah satu cara AI dapat mempercepat proses tersebut adalah dengan menggunakan analisis dokumen otomatis. Sistem ini dapat melakukan praseleksi portofolio peserta secara efisien, mengidentifikasi pengalaman relevan yang dapat dikonversi menjadi kredit akademik.
"Melalui automated document analysis, kita dapat mempercepat dan meningkatkan keakuratan dalam memeriksa portofolio peserta, meminimalkan bias manusia yang dapat terjadi dalam penilaian manual," ujar Dandi.
Natural Language Processing (NLP) untuk Evaluasi Pengalaman Peserta
Salah satu tantangan dalam asesmen RPL adalah menilai narasi pengalaman peserta. Di sinilah teknologi natural language processing (NLP) memainkan peran penting. Dengan NLP, AI dapat memahami dan mengevaluasi narasi pengalaman peserta secara lebih efektif. Teknologi ini dapat memindai deskripsi pengalaman peserta dalam portofolio mereka, menilai relevansinya, dan mengidentifikasi kompetensi yang relevan dengan kriteria asesmen.
"NLP memungkinkan kita untuk menganalisis teks dalam portofolio dengan cara yang lebih mendalam dan objektif, memastikan bahwa setiap pengalaman yang dicantumkan oleh peserta dapat dinilai dengan standar yang konsisten," tambah Dandi.
Machine Learning untuk Pengenalan Pola Kompetensi
AI juga dapat membantu dalam mengenali pola kompetensi melalui machine learning. Sistem ini dapat menganalisis data historis tentang peserta RPL dan mengidentifikasi pola yang menunjukkan kompetensi yang telah mereka kuasai. Dengan menggunakan algoritma machine learning, AI dapat membantu tim asesmen dalam menentukan apakah seorang peserta telah memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.
"Machine learning dapat menganalisis data dari berbagai sumber dan memberikan rekomendasi yang lebih akurat mengenai kompetensi peserta, bahkan dalam konteks yang lebih kompleks," jelas Dandi.
Predictive Analytics untuk Menilai Kesuksesan Peserta
Selain itu, AI juga dapat digunakan untuk melakukan predictive analytics dalam menilai kemungkinan kesuksesan peserta dalam menyelesaikan program yang mereka pilih. Dengan menganalisis data historis dan faktor-faktor lain yang relevan, AI dapat memberikan prediksi mengenai keberhasilan peserta dalam menyelesaikan asesmen atau program pendidikan yang mereka ikuti.
"Predictive analytics dapat memberi gambaran tentang peluang kesuksesan peserta, yang akan sangat membantu perguruan tinggi dalam memberikan panduan yang lebih baik untuk setiap peserta," ujar Dandi.
Chatbot untuk Panduan Sepanjang Proses Asesmen
Teknologi AI juga dapat membantu peserta asesmen dengan menggunakan chatbot yang memberikan panduan sepanjang proses asesmen RPL. Chatbot ini dapat menjawab pertanyaan peserta, memberikan informasi terkait proses asesmen, dan memastikan bahwa peserta merasa didukung selama seluruh proses evaluasi.
"Dengan chatbot, kami dapat memberikan panduan yang lebih cepat dan efisien kepada peserta, memfasilitasi mereka dalam setiap langkah asesmen," kata Dandi.
Meningkatkan Efisiensi dan Akurasi dalam Asesmen RPL
Menurut Dandi, penerapan AI dalam asesmen RPL akan membawa banyak keuntungan bagi perguruan tinggi di Indonesia. Selain meningkatkan efisiensi dan akurasi, penggunaan teknologi ini juga akan mengurangi beban administratif yang selama ini membebani tim asesmen. Dengan demikian, perguruan tinggi dapat fokus pada pengembangan kualitas pendidikan dan kompetensi lulusan.
"Penggunaan teknologi dalam pendidikan bukan hanya untuk mempermudah pekerjaan, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas dan kecepatan proses pendidikan yang lebih relevan dengan tuntutan dunia kerja," tutup Dandi.
Transformasi Pendidikan Tinggi Melalui Teknologi
Seminar ini menjadi bukti nyata bahwa teknologi tidak hanya mempermudah, tetapi juga meredefinisi cara kita melihat pendidikan dan asesmen di perguruan tinggi. Dengan semakin banyaknya perguruan tinggi yang mengadopsi solusi digital seperti SEVIMA Platform, Dandi berharap bahwa lebih banyak institusi pendidikan tinggi di Indonesia akan mengikuti jejak ini dalam upaya meningkatkan kualitas dan efisiensi sistem pendidikan di masa depan.
Melalui penerapan AI dalam asesmen RPL, Dandi percaya bahwa pendidikan tinggi Indonesia akan menjadi lebih inklusif, efisien, dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.

