Bupati Trenggalek Temui Dekan FT UGM, Sepakati Arah Kolaborasi
Tulisan dari SEVIMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Yogyakarta/Trenggalek — Setelah sempat menyatakan keberatan atas kunjungan lapangan rombongan akademik ke prospek tambang emas di Trenggalek, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin bertemu pimpinan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) di Yogyakarta. Kedua pihak menyampaikan klarifikasi dan menyepakati langkah positif untuk menata komunikasi sekaligus menjajaki kerja sama yang menekankan konservasi sumber daya geologi di Trenggalek. Dikutip dari pemberitaan Tempo, pertemuan berlangsung di lingkungan FT UGM dan menjadi tindak lanjut polemik kunjungan ke area prospek tambang emas yang sebelumnya menuai sorotan publik.
Kontroversi berawal dari agenda SEG 2025 Pre-Conference Field Trip bertajuk “Cu-Au Deposits of Java Island, Sunda Arc, Indonesia” yang salah satu rutenya mencakup prospek tembaga–emas di Trenggalek. Kunjungan ini merupakan bagian dari kegiatan ilmiah yang diselenggarakan Society of Economic Geologists (SEG) bersama jejaring akademik, termasuk unsur Departemen Teknik Geologi UGM. Informasi resmi agenda lapangan SEG 2025 mencantumkan kunjungan ke beberapa lokasi mineralisasi emas–tembaga di Pulau Jawa, termasuk Trenggalek.
Bupati Arifin menyayangkan kunjungan ke fasilitas PT Sumber Mineral Nusantara (SMN) di Desa Ngepeh, Kecamatan Tugu, karena menurutnya tidak berkoordinasi terlebih dahulu dengan pemerintah daerah, sementara rencana pertambangan di wilayah tersebut tengah menghadapi penolakan warga. “Menggandeng swasta yang mendapatkan penolakan dari warga karena berpotensi merusak ekologi atas rencana eksplorasi yang akan dilakukan, saya berpesan mohon hati-hati,” tulis Arifin dalam unggahan media sosialnya, menegaskan perlunya kehati-hatian agar situasi sosial tetap kondusif. Pernyataan dan kronologi keberatan Bupati dilaporkan Tempo.
Dari pihak UGM, Juru Bicara UGM Dr. I Made Andi Arsana menyampaikan bahwa telah terjadi perbedaan pandangan terkait proses komunikasi kunjungan lapangan tersebut. Namun, perbedaan itu telah dibahas dan diselesaikan melalui pertemuan di FT UGM. “Yang lebih penting, UGM mengerti penyampaian dari Bupati tentang respons masyarakat terhadap rencana kegiatan pertambangan di Trenggalek,” ujarnya, menekankan bahwa klarifikasi telah dilakukan secara baik. Keterangan ini dimuat dalam laporan Tempo dan kanal regional yang merangkum respons UGM.
Pertemuan turut dihadiri jajaran Pemerintah Kabupaten Trenggalek. Dari FT UGM, hadir pimpinan fakultas termasuk Dekan FT UGM Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D. beserta unsur dekanat serta perwakilan Departemen Teknik Geologi. Identitas Dekan FT UGM ini dapat dirujuk pada publikasi resmi fakultas yang mengonfirmasi kepemimpinan Prof. Selo pada periode 2021–2026.
Dalam penjelasan tertulisnya, Dekan FT UGM Prof. Selo menegaskan bahwa kunjungan lapangan yang dipersoalkan itu berlangsung sangat singkat, tidak ada kegiatan penelitian, serta tidak ada afiliasi maupun kerja sama dengan PT SMN. Ia menambahkan, fokus pertemuan dengan Bupati dan jajaran adalah untuk menjelaskan duduk perkara, mengurai miskomunikasi, serta membuka ruang kolaborasi yang konstruktif. Ringkasan keterangan ini termuat dalam pemberitaan yang mengulas hasil pertemuan di FT UGM.
Seiring selesainya klarifikasi, kedua pihak sepakat melangkah ke depan dengan agenda positif dan solutif. FT UGM dan Pemkab Trenggalek akan menjajaki kerja sama konservasi sumber daya geologi, antara lain peluang pengembangan geosite hingga geopark, serta penguatan edukasi kebencanaan dan literasi geologi bagi masyarakat. Arah kerja sama ini sejalan dengan mandat keilmuan teknik dan geosains yang menekankan keberlanjutan, keselamatan, dan keseimbangan lingkungan. Rangkuman agenda penjajakan kerja sama ini ditampilkan di kanal informasi resmi FT UGM.
Secara terpisah, pemberitaan daerah juga mencatat bahwa kunjungan lapangan SEG 2025 dipimpin oleh Dr. Lucas Donny Setijadji (UGM) dan Dr. Simon C. Adam (University of Michigan) dengan peserta dari berbagai universitas, praktisi geologi, serta relawan mahasiswa. Informasi itu menempatkan kegiatan sebagai agenda ilmiah pra-konferensi untuk mempelajari geologi mineralisasi emas–tembaga di Jawa.
Dari sisi perusahaan, perwakilan eksternal PT SMN menyatakan bahwa agenda lapangan adalah inisiatif komunitas akademik/keilmuan dan bukan kegiatan perusahaan, sehingga urusan perizinan maupun penolakan/ persetujuan kunjungan bukan kewenangan mereka. Penjelasan ini, yang dimuat media lokal, menekankan pemisahan peran antara perusahaan dan penyelenggara agenda ilmiah.
Dalam konteks yang lebih luas, penolakan rencana pertambangan emas di Trenggalek telah diberitakan sejak beberapa tahun lalu oleh organisasi masyarakat sipil dan media. Riwayat polemik mencakup desakan aktivis lingkungan agar izin-izin pertambangan ditinjau, di tengah kekhawatiran atas daya dukung ekologi kawasan pesisir selatan. Catatan kampanye lingkungan tersebut menjadi latar penting untuk memahami sensitivitas sosial yang disampaikan Bupati, sebagaimana terekam dalam arsip advokasi publik.
Sementara itu, sebagai institusi pendidikan dan riset, Fakultas Teknik UGM berlokasi di Jalan Grafika 2, Yogyakarta, dan dikenal sebagai salah satu fakultas tertua di UGM. Informasi profil dan lokasi kampus ini dapat disimak di laman pengetahuan umum yang merangkum sejarah FT UGM sejak 1949. Penyebutan profil kelembagaan ini relevan untuk memberi konteks posisi FT UGM dalam ekosistem sains dan teknologi nasional.
Pola penyelesaian polemik melalui dialog yang ditempuh Pemkab Trenggalek dan FT UGM memperlihatkan pendekatan kolaboratif yang menitikberatkan keterbukaan informasi, partisipasi pemangku kepentingan, dan orientasi solusi. Setelah klarifikasi, fokus diarahkan pada konservasi sumber daya geologi, penguatan edukasi publik, serta kemungkinan pemanfaatan potensi geologi untuk pengembangan geosite/geopark secara bertanggung jawab. Dalam keterangan yang dirangkum media, Bupati Arifin kembali menegaskan pentingnya kehati-hatian agar suasana di daerah tetap kondusif, mengingat adanya pandangan kritis sebagian warga terhadap rencana kegiatan pertambangan.
Di sisi lain, pernyataan Juru Bicara UGM I Made Andi Arsana menekankan bahwa pihak kampus memahami respons masyarakat dan menyambut baik dialog sebagai sarana untuk meluruskan persepsi atas agenda lapangan yang sejatinya bersifat akademik. “UGM mengerti penyampaian dari Bupati tentang respons masyarakat terhadap rencana kegiatan pertambangan di Trenggalek,” ujarnya, menegaskan komitmen kampus terhadap komunikasi yang baik dengan pemerintah daerah dan warga.
Ke depan, FT UGM menyebut akan menugaskan tim peneliti dari Teknik Geologi untuk menindaklanjuti rencana kerja sama dengan Pemkab Trenggalek. Penugasan ini diorientasikan pada kajian konservasi, edukasi mitigasi kebencanaan, dan pengembangan potensi geologi yang selaras dengan prinsip keberlanjutan serta aspirasi masyarakat setempat. Arah kolaborasi ini sekaligus menjadi kesempatan memperkuat transfer pengetahuan dari kampus ke daerah, menggabungkan kompetensi teknis, penelitian terapan, dan kepentingan lingkungan hidup.
Dengan demikian, dinamika yang semula memicu polemik berhasil diputar haluannya menjadi momentum kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi. Klarifikasi, transparansi, dan rencana aksi bersama menjadi fondasi untuk memastikan bahwa setiap kegiatan ilmiah dan pengembangan wilayah di Trenggalek dilaksanakan dengan kepekaan sosial, kepatuhan regulasi, dan komitmen keberlanjutan. Hasil pertemuan Bupati Trenggalek dan Dekan FT UGM ini menegaskan bahwa dialog terbuka dan kemitraan konstruktif dapat menghadirkan keputusan yang positif, berimbang, dan bermanfaat bagi masyarakat serta lingkungan
Sumber: msn.com

