Dekan FKIK UIN Alauddin Temui Menag, Dorong Kolaborasi PTKIN
Tulisan dari SEVIMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

JAKARTA — Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Dr. dr. Dewi Setiawati, Sp.OG., M.Kes., melakukan rangkaian audiensi dengan pimpinan Kementerian Agama (Kemenag) RI di Jakarta, Selasa (26 Agustus 2025). Pertemuan itu menjadi langkah awal penguatan jejaring dan program bersama antar-FKIK di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di bidang pendidikan dokter, kesehatan masyarakat, riset, dan layanan kesehatan berbasis nilai keislaman.
Dalam keterangan yang dihimpun redaksi, pertemuan digelar terpisah: dengan Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, Sekretaris Jenderal Kemenag Prof. Dr. Kamaruddin Amin, MA, serta Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Setditjen Pendis) Prof. Dr. M. Arskal Salim GP, M.Ag. Agenda mencakup penguatan tata kelola akademik, pengembangan kurikulum, hilirisasi riset, hingga rencana program kolaboratif lintas-FKIK PTKIN.
Dewi menegaskan mandat FKIK PTKIN untuk mengontribusikan solusi kesehatan yang relevan bagi publik. “FKIK PTKIN harus menjadi pusat unggulan kedokteran dan kesehatan, dengan ciri khas nilai keislaman dan kontribusi nyata bagi pembangunan kesehatan bangsa,” ujarnya. Ia menambahkan, komunikasi intensif dengan Kemenag akan memperluas jaringan kolaborasi, mendorong peningkatan mutu, dan mempertegas posisi PTKIN dalam ekosistem kesehatan nasional.
Sebagai konteks jabatan pejabat yang ditemui, dikutip dari laman resmi Kementerian Agama (kemenag.go.id), Prof. Nasaruddin Umar menjabat Menteri Agama RI dan aktif mengusung agenda moderasi beragama.
Dikutip dari kanal resmi Kemenag NTT, profil Menag Nasaruddin Umar dipublikasikan pada 21 Oktober 2024 beriringan dengan pelantikan kabinet.
Sementara itu, Sekjen Kemenag dijabat Prof. Kamaruddin Amin terkonfirmasi melalui siaran Kemenag bertanggal 30 Agustus 2025.
Adapun Prof. Arskal Salim GP tercatat sebagai Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam (Setditjen Pendis), sebagaimana data kepegawaian resmi Kemenag dan pemberitaan unit Pendis.
Dewi memaparkan sedikitnya tiga fokus tindak lanjut. Pertama, penyelarasan kurikulum dan standar mutu antar-FKIK PTKIN agar setara dengan capaian global, tanpa mengabaikan kompetensi klinik primer yang dibutuhkan layanan kesehatan berbasis komunitas. Kedua, platform riset kolaborasi yang memadukan laboratorium kampus dengan rumah sakit pendidikan dan fasilitas kesehatan jejaring, sehingga keluaran penelitian lebih aplikatif. Ketiga, program penguatan capacity building bagi dosen, tenaga kesehatan, dan mahasiswa melalui pertukaran dosen, visiting professor, pelatihan terstruktur, serta program joint supervision bagi kandidat doktor di rumpun kedokteran dan kesehatan.
Upaya itu berjalan seiring peta jalan nasional. Dikutip dari dokumen “Asta Cita” pemerintahan Prabowo–Gibran, penguatan layanan kesehatan, SDM unggul, dan inovasi menjadi misi prioritas menuju Indonesia Emas 2045 koridor kebijakan yang relevan bagi konsolidasi FKIK PTKIN.
Di tingkat internal UIN Alauddin, Dewi menegaskan kesiapan mengeksekusi program bersama. “Kami optimistis dapat memperkuat kualitas pendidikan, memperluas jaringan, dan mendorong peran PTKIN dalam pembangunan kesehatan nasional,” kata Dekan FKIK UIN Alauddin. Dikutip dari halaman resmi FKIK UIN Alauddin, alamat fakultas berada di Jl. H.M. Yasin Limpo No. 36, Romangpolong, Gowa bagian dari Kampus II UIN Alauddin Makassar di kawasan Samata, Gowa.
Profil pimpinan fakultas dan aktivitas mutakhirnya juga tercantum di laman resmi FKIK, mengonfirmasi Dewi sebagai Dekan yang aktif memimpin agenda mutu dan layanan.
Dalam pertemuan bersama Setditjen Pendis, diskusi menukik pada governance pendidikan tinggi keagamaan Islam, termasuk percepatan layanan, tata kelola, dan integritas di madrasah serta PTKIN. Dikutip dari laman Pendis Kemenag, Prof. Arskal Salim beberapa kali menekankan perlunya percepatan peningkatan kualitas layanan dan tata kelola, sekaligus penguatan komunikasi publik yang proaktif pesan yang relevan untuk mengakselerasi program lintas-FKIK.
Ruang kolaborasi juga terbuka pada riset dan pengabdian bertema kedokteran komunitas, pencegahan stunting, layanan ibu dan anak, kesehatan jiwa, serta kesehatan berbasis Islamic values. FKIK PTKIN dinilai memiliki posisi unik untuk menjembatani ilmu kedokteran modern dengan perspektif keagamaan dalam promosi dan edukasi kesehatan, termasuk memobilisasi jejaring masjid, ormas, dan lembaga keagamaan.
Dalam kebijakan pendidikan kedokteran, UIN Alauddin menyiapkan skema practicum sharing, kelas tamu lintas kampus, serta klinik riset yang memfasilitasi pendampingan metodologi hingga publikasi. Fakultas juga membuka ruang joint clinic dengan rumah sakit pendidikan umat, puskesmas, dan jejaring faskes di Sulawesi Selatan untuk riset intervensi sederhana yang efektif, murah, dan cepat direplikasi.
Di sisi lain, kolaborasi FKIK PTKIN diharapkan berkontribusi pada pengurangan kesenjangan akses layanan kesehatan di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Melalui rotating module dan KKN tematik kesehatan, mahasiswa dapat berinteraksi langsung dengan persoalan lapangan mulai dari gizi, sanitasi, penyakit menular, hingga penyakit tidak menular seraya mengembangkan keterampilan komunikasi klinik dan kompetensi interprofesional.
Pertemuan dengan Menag juga membahas peluang pendanaan kompetitif untuk riset-aplikatif dan pendampingan regulasi bagi FKIK PTKIN. Didukung Setditjen Pendis, program ini diharapkan mendorong akselerasi akreditasi, standarisasi sarana-prasarana, serta kemitraan internasional. FKIK UIN Alauddin menargetkan milestone berupa penguatan outcome-based education (OBE) dan peningkatan jejaring rumah sakit pendidikan/affiliated hospital.
Sebagai rujukan komplementer, dikutip dari basis data Kemendikbudristek, UIN Alauddin Makassar beralamat resmi di kawasan Romangpolong, Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan menegaskan posisi FKIK yang dekat dengan layanan kesehatan masyarakat di wilayah penyangga Makassar.
Rangkaian audiensi ini juga menjadi ajang pemetaan isu prioritas kesehatan yang potensial dikerjakan bersama: penguatan layanan primer, gizi ibu-anak, kesehatan reproduksi, penyakit berbasis lingkungan, digitalisasi rekam medis berbasis kampus, hingga penelitian translasi sederhana yang dapat diterapkan cepat di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Menutup agenda di Jakarta, Dewi menyampaikan ajakan kepada FKIK PTKIN lain untuk memperluas kerjasama: pertukaran dosen, summer course, joint research, serta joint publication di bidang kedokteran dan kesehatan. Ia berharap dukungan kelembagaan Kemenag mempercepat penyusunan kerangka kerja bersama dan rencana aksi yang terukur.
“Kami siap menyiapkan blueprint program kesehatan PTKIN yang aplikatif dan berdampak. Kuncinya ada pada kolaborasi lintas-kampus, integrasi riset-layanan, dan tata kelola yang solid. Dengan dukungan Kemenag, kami ingin memastikan setiap inisiatif menyentuh kebutuhan nyata masyarakat,” tegas Dewi.
Sumber: upeks.co.id

