Konten dari Pengguna

Dosen UMM Ini Satu-satunya Perwakilan Indonesia di Forum ICLRS Inggris

SEVIMA

SEVIMA

Sentra Vidya Utama (Sevima) adalah Education Technology yang berdiri sejak tahun 2.004, dengan komunitas dan pengguna platform yang tersebar di lebih dari 1.000 kampus se-Indonesia. Bersama kita revolusi pendidikan tinggi, #RevolutionizeEducation!

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari SEVIMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Istimewa

Malang – Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berhasil terpilih sebagai salah satu peserta dalam The International Center for Law and Religion Studies (ICLRS) Young Scholars Fellowship on Religion and the Rule of Law. Program bergengsi ini mempertemukan cendekiawan dari berbagai negara untuk mendalami isu-isu hukum, agama, dan hak asasi manusia. Acara ini berlangsung di Christ Church, University of Oxford, Inggris, dari 14 Juli hingga 1 Agustus 2025.

Keikutsertaan Syamsul Arifin dalam forum ini bukan hanya membanggakan dirinya, tetapi juga membawa nama Indonesia ke panggung global. Dalam kegiatan ini, Syamsul Arifin menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia yang diterima dalam program fellowship tersebut. Kegiatan ini diikuti oleh akademisi terpilih dari berbagai negara melalui proses seleksi ketat, dari ratusan pelamar, hanya 17 peserta dari 16 negara yang akhirnya diterima.

Program ICLRS Young Scholars Fellowship bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi akademisi muda untuk mengembangkan penelitian terkait hubungan antara agama, hukum, dan hak asasi manusia di seluruh dunia. Selama tiga minggu penuh, para peserta diberikan kesempatan untuk mengikuti kuliah, seminar, dan diskusi mengenai topik-topik tersebut, dengan pembicara dan profesor terkemuka di bidangnya. Mereka juga mendapat kesempatan untuk melakukan kunjungan singkat ke lembaga-lembaga penting di London, seperti parlemen dan Mahkamah Konstitusi.

Menurut Syamsul Arifin, pengalaman ini tidak hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga membuka peluang bagi jejaring internasional yang berharga. “Ini adalah kesempatan besar untuk belajar langsung dari para profesor ahli di bidangnya, yang tentunya sangat memperkaya gagasan saya sebagai akademisi,” ujar Syamsul.

Keikutsertaan Syamsul dalam forum ini juga menjadi langkah penting bagi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam berkontribusi pada diskursus global mengenai agama, hukum, dan pendidikan, khususnya dalam konteks pendidikan agama di Indonesia.

Selama kegiatan fellowship, Syamsul Arifin menulis dan membahas penelitiannya tentang pendidikan agama bagi mahasiswa non-Muslim di perguruan tinggi Muhammadiyah. Dalam penelitiannya, ia meneliti implementasi UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama, khususnya terkait pendidikan agama bagi mahasiswa yang sebagian besar beragama non-Muslim di kampus-kampus Muhammadiyah.

“Dalam penelitian saya, saya fokus pada mahasiswa non-Muslim di perguruan tinggi Muhammadiyah yang tersebar di daerah-daerah seperti Kupang, Sorong, dan Maumere. Saya meneliti bagaimana pendidikan agama di kampus-kampus dengan mayoritas mahasiswa non-Muslim, apakah sudah sesuai dengan amanat undang-undang yang menjamin hak mereka untuk mendapatkan pendidikan agama sesuai keyakinan mereka,” kata Syamsul.

Penelitian yang dilakukan oleh Syamsul Arifin menghasilkan karya ilmiah berjudul “When Constitutional Rights Meet Institutional Identity: A Case Study of Religious Education for Christian-Majority Students at Muhammadiyah Universities in Eastern Indonesia.” Karya ini memberikan kontribusi signifikan dalam diskursus global terkait pendidikan agama di Indonesia, terutama dalam konteks pendidikan agama di kampus dengan mayoritas mahasiswa non-Muslim.

Hasil penelitian Syamsul Arifin dalam forum ICLRS ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pemikiran yang tidak hanya berguna bagi peneliti dan akademisi, tetapi juga bagi pembuat kebijakan terkait pendidikan agama di Indonesia. Syamsul berharap, dengan partisipasinya dalam forum ini, hasil penelitian yang telah dilakukan dapat menjadi kontribusi nyata dalam perumusan kebijakan pendidikan agama di Indonesia, yang selama ini menjadi isu penting, terutama bagi mahasiswa non-Muslim di perguruan tinggi Muhammadiyah.

“Semoga penelitian ini bisa memberikan kontribusi nyata bagi kebijakan pendidikan agama di Indonesia, khususnya di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah. Kami ingin memastikan bahwa hak-hak mahasiswa non-Muslim dalam mendapatkan pendidikan agama sesuai keyakinan mereka dapat terpenuhi secara adil,” ujar Syamsul.

Sebagai satu-satunya perwakilan Indonesia, Syamsul Arifin merasa bangga dapat menjadi bagian dari forum internasional yang memiliki kontribusi besar dalam pengembangan ilmu hukum dan agama. Keikutsertaan Syamsul di forum ini tidak hanya sebagai pencapaian pribadi, tetapi juga sebagai wujud kontribusi UMM dalam diskursus global terkait pendidikan agama, hak asasi manusia, dan toleransi antaragama.

“Keikutsertaan saya di forum internasional ini bukan hanya untuk mengangkat nama pribadi, tetapi juga untuk membawa nama baik UMM dan Indonesia dalam hal kontribusi terhadap pendidikan agama dan kebijakan sosial yang lebih inklusif,” ujar Syamsul.

Ke depan, Syamsul Arifin berharap semakin banyak dosen dari UMM yang berani berpartisipasi dalam program Young Scholars Fellowship seperti ini, yang dapat membuka lebih banyak peluang bagi dosen untuk berkolaborasi secara internasional dan memperkaya penelitian mereka. Hal ini juga akan memperkuat posisi UMM di kancah akademik global dan mendukung pengembangan riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Saya berharap semakin banyak dosen di UMM yang berani mendaftar di program fellowship ini. Ini adalah kesempatan untuk berkolaborasi dengan akademisi global, meningkatkan kualitas riset, dan pada akhirnya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan negara,” tambah Syamsul.

Keberhasilan Prof. Dr. Syamsul Arifin dalam terpilih menjadi peserta ICLRS Young Scholars Fellowship on Religion and the Rule of Law membuktikan bahwa UMM memiliki peran penting dalam kontribusi internasional untuk bidang pendidikan agama dan hak asasi manusia. Dengan temuan penelitian yang berfokus pada pendidikan agama bagi mahasiswa non-Muslim, Syamsul Arifin tidak hanya berkontribusi pada dunia akademik, tetapi juga mendorong perumusan kebijakan yang lebih inklusif dalam bidang pendidikan di Indonesia.

Dengan keterlibatan aktif UMM dalam forum-forum internasional, diharapkan lebih banyak penelitian yang bermanfaat bagi pengembangan kebijakan dan pendidikan agama di Indonesia, khususnya dalam konteks masyarakat majemuk. UMM telah membuka jalan bagi pendidikan agama yang lebih baik dan relevan dengan dinamika sosial global.

Sumber: umm.ac.id