Konten dari Pengguna

I-Talk Fakultas Humaniora UIN Malang Hadirkan Prof Azhar Ibrahim (NUS)

Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Istimewa

Malang, 22 September 2025 — Fakultas Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar International Expert Talk (I-Talk) Series dengan menghadirkan Prof. Dr. Azhar Ibrahim dari National University of Singapore (NUS) sebagai pembicara utama. Acara yang berlangsung di Ruang Teater Lantai 3 Fakultas Humaniora pada Senin (22/9), pukul 08.00–11.30 WIB, mengusung tema “Communication for Multiculturalism and Social Transformation.” Kegiatan ini menjadi salah satu agenda penting fakultas untuk memperluas jejaring internasional sekaligus memperkaya wawasan akademik mahasiswa melalui dialog lintas disiplin dan lintas negara yang konstruktif serta berorientasi solusi.

Dalam pemaparan kuncinya, Prof. Azhar menekankan pentingnya literasi kritis sebagai benteng terhadap gejala anti-intelektualisme yang kian menonjol di era neoliberalisme. “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus berbicara. Salah satu nilai pertarungan makna adalah media massa,” ujarnya, menegaskan peran strategis ekosistem komunikasi publik, mulai dari ruang redaksi, sastra, hingga ruang digital dalam membentuk opini dan memperjuangkan kemaslahatan sosial. Ia menambahkan, “Anti intelektualisme itu datang dari berbagai bentuk, diantaranya adalah neoliberalisme. Untuk melawan anti intelektualisme itu adalah kritikalitas.” Pesan tersebut relevan bagi sivitas akademika yang terus bersinggungan dengan isu-isu kontemporer seperti misinformasi, polarisasi identitas, dan penyempitan ruang deliberasi publik.

Di hadapan mahasiswa dan dosen, Prof. Azhar juga mengangkat fenomena kesenjangan ekonomi dan supremasi yang berpotensi melahirkan “manusia tanpa mutu” sebagaimana diperbincangkan dalam karya filsuf José Ortega y Gasset The Revolt of the Masses. Ia mengingatkan bahwa orientasi ekonomi dan politik yang serba instan dan dangkal dapat mendorong lahirnya “the mass man” manusia massa yang kurang kepekaan sosial dan kedalaman intelektual. “Saat ini ekonomi dan politik telah membenarkan jenis manusia ini. Influencer yang mungkin menjadi public intellectual ataupun sebaliknya juga sudah banyak saat ini,” jelasnya, seraya mendorong mahasiswa untuk tetap berpijak pada nalar kritis, integritas akademik, dan etika publik.

Sesi tanya jawab berlangsung dinamis dan partisipatif, menampilkan pertanyaan-pertanyaan kritis seputar strategi membumikan literasi kritis, merawat ruang dialog di masyarakat majemuk, dan memperkuat kolaborasi akademik lintas negara. Menanggapi diskusi yang antusias, Prof. Azhar menyampaikan, “Persoalan yang saya angkat ini sebenarnya tidak asing lagi kalau dilihat dari persoalan yang ditanyakan. Literasi kritis ini mau mengangkat persoalan ideologis.” Ia mendorong mahasiswa untuk mengasah kepekaan membaca konteks, kemampuan menganalisis wacana, dan keberanian menyampaikan gagasan dengan argumen yang bertanggung jawab.

Sebagai konteks kelembagaan, Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang merupakan salah satu fakultas di UIN Malang yang berorientasi pada keunggulan akademik bertaraf global, dengan program studi yang menguatkan kompetensi bahasa, sastra, kajian budaya, dan komunikasi dalam kerangka keislaman yang moderat. Dikutip dari situs resmi Fakultas Humaniora UIN Malang, fakultas ini menegaskan visinya untuk melahirkan lulusan berdaya saing dan berwawasan internasional, salah satunya melalui penyelenggaraan forum-forum ilmiah seperti I-Talk dan kerja sama akademik lintas kampus.

Sementara itu, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berlokasi di Kota Malang, Jawa Timur, dan dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi keagamaan Islam negeri yang terus memperkuat reputasi akademik, riset, dan pengabdian masyarakat. Dikutip dari website resmi UIN Malang, kampus menegaskan komitmen pada pengembangan ilmu yang berintegrasi dengan nilai-nilai keislaman serta penguatan jejaring nasional dan internasional. Penyebutan profil resmi dan alamat kampus membantu pembaca mengenali lokasi dan ekosistem akademik yang menaungi kegiatan I-Talk ini.

Di sisi narasumber, Prof. (Dr.) Azhar Ibrahim merupakan Senior Lecturer di Department of Malay Studies, Faculty of Arts & Social Sciences, NUS. Dikutip dari laman resmi NUS, fokus pengajarannya meliputi sastra Melayu-Indonesia, ideologi pembangunan, sosiologi sastra, teologi sosial, pemikiran Islam, hingga literasi kritis dan perkembangan intelektual Melayu-Indonesia. Rekam jejak akademiknya memperlihatkan kiprah yang konsisten menghubungkan kajian literatur, tradisi intelektual, serta pembacaan kritis atas dinamika sosial-politik kontemporer. Rujukan ini menegaskan relevansi kehadirannya dalam tema I-Talk yang menautkan komunikasi, multikulturalisme, dan transformasi sosial.

Penyelenggaraan I-Talk ini selaras dengan orientasi internasionalisasi Fakultas Humaniora UIN Malang. Dikutip dari laman resmi fakultas, berbagai program mobilitas akademik, kuliah umum internasional, serta jejaring riset terus diperkuat untuk memperkaya pengalaman belajar mahasiswa dan meningkatkan kualitas riset dosen. Melalui I-Talk bersama Prof. Azhar, fakultas mendorong terwujudnya ruang dialog yang inklusif, berimbang, dan berbasis data, sekaligus mengajak mahasiswa memaknai komunikasi lintas budaya sebagai sarana membangun kohesi sosial dan ketahanan demokrasi di masyarakat majemuk.

Dari perspektif pengembangan kurikulum, tema “Communication for Multiculturalism and Social Transformation” relevan dengan kebutuhan lulusan yang melek media, cakap membaca wacana publik, dan trampil menyusun strategi komunikasi untuk perubahan sosial yang damai. Forum ini mempertemukan landasan teoritis, seperti kritik atas neoliberalisme, wacana anti-intelektualisme, dan literasi kritis dengan praktik komunikasi di ruang kelas, komunitas, serta ruang digital. Dengan demikian, mahasiswa memperoleh kerangka analitis dan keterampilan praktis sekaligus, mulai dari literasi sumber, verifikasi informasi, hingga etika berkomunikasi lintas identitas.

Secara kelembagaan, kehadiran pakar internasional dari NUS menambah bobot akademik fakultas dan memperluas jalinan kolaborasi lintas universitas. Bagi mahasiswa, manfaatnya langsung dan berjangka panjang: memperluas jejaring dengan akademisi kawasan, membuka peluang riset bersama, magang akademik, hingga pertukaran pelajar yang memperkaya perspektif global. Bagi fakultas, I-Talk menjadi wadah transfer pengetahuan dan benchmarking pengembangan kurikulum, khususnya pada aspek komunikasi, kajian media, sastra, dan budaya, agar tetap selaras dengan standar internasional dan kebutuhan masyarakat multikultural.

Di penghujung acara, panitia mengapresiasi antusiasme peserta yang memenuhi Ruang Teater. Atmosfer diskusi yang hangat memperlihatkan kesiapan mahasiswa Fakultas Humaniora untuk berdialog secara kritis, santun, dan terbuka. Kegiatan ini diharapkan menjadi model praktik baik penyelenggaraan forum ilmiah yang inklusif dan berkelanjutan: selepas I-Talk, fakultas mendorong tindak lanjut berupa kelas baca (reading group) tematik, diskusi teks sastra dan media, serta workshop literasi kritis yang merangkum pengalaman belajar lintas sesi.

Ke depan, Fakultas Humaniora UIN Malang berkomitmen memperluas jejaring global dan menghadirkan pembicara internasional lintas disiplin untuk memperkaya lanskap keilmuan di kampus. Dengan dukungan ekosistem akademik yang progresif dan kolaboratif, fakultas menargetkan lahirnya lulusan yang berintegritas, berdaya saing, dan berkontribusi pada penguatan kohesi sosial di tingkat lokal, nasional, maupun regional.

Sumber: uin-malang.ac.id