ICE Institute, Marketplace Kuliah Online Guna Atasi Kesenjangan Akses Pendidikan

Sentra Vidya Utama (Sevima) adalah Education Technology yang berdiri sejak tahun 2.004, dengan komunitas dan pengguna platform yang tersebar di lebih dari 1.000 kampus se-Indonesia. Bersama kita revolusi pendidikan tinggi, #RevolutionizeEducation!
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari SEVIMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keterbatasan akses terhadap pendidikan tinggi berkualitas, khususnya di masa pandemi COVID-19, menjadi pemicu utama lahirnya Indonesia Cyber Education (ICE) Institute. Krisis itu memperlihatkan kebutuhan mendesak akan sistem pembelajaran daring yang terstruktur, terbuka, dan merata. Menjawab tantangan tersebut, ICE Institute diresmikan pada 28 Juli 2021 sebagai lokapasar (marketplace) pembelajaran daring. Platform ini merupakan inisiatif dari 14 perguruan tinggi di Indonesia yang tergabung dalam konsorsium.
Direktur ICE Institute Rahayu Dwi Riyanti mengatakan platform ini hadir sebagai solusi untuk menjembatani kesenjangan akses pendidikan di seluruh Indonesia. Namun, berbeda dengan platform gelar daring lainnya, ICE Institute menawarkan pembelian mata kuliah satuan, bukan paket gelar penuh, meskipun dapat diperhitungkan dalam perolehan gelar formal.
“ICE Institute itu seperti marketplace, sama kayak Tokopedia, Shopee, Korsera, EDX. Cuma kami itu nggak jual baju, tapi kami jual mata kuliah online,” kata Yanti sapaan akrabnya saat berbincang dengan SEVIMA, Rabu (25/6/2025).
Ia menambahkan ICE Institute lahir dari konsorsium awal yang terdiri dari 14 institusi, yakni 13 perguruan tinggi dan 1 asosiasi fakultas ekonomi dan bisnis. Ketiga belas perguruan tinggi tersebut yakni Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Terbuka (UT), Pradita University, BINUS University, Universitas Pelita Harapan (UPH), Universitas Atmajaya, Universitas 11 Maret, dan Teklom University.
"UT ditunjuk sebagai koordinator, dengan rektor UT menjabat Ketua Konsorsium dan rektor BINUS University sebagai sekretaris. Untuk kegiatan sehari‑hari, unit operasional berada di lingkungan UT," ucapnya.
Tak sampai di situ, ICE Institute memperluas kerja sama dengan berbagai provider, tidak hanya institusi pengembang mata kuliah dari dalam negeri tetapi juga dari luar negeri. Yanti menjelaskan bahwa perluasan ini bertujuan untuk memperkaya variasi mata kuliah yang ditawarkan kepada mahasiswa di seluruh Indonesia.
“Kalau hanya mengandalkan 14 institusi pendiri, ICE Insitute tidak akan cukup ramai. Maka kami bekerja sama dengan banyak perguruan tinggi lain yang kami sebut sebagai provider, termasuk dari luar negeri,” ujarnya.
Beberapa institusi ternama yang telah menjadi mitra internasional antara lain Tsinghua University dari Tiongkok, yang merupakan salah satu universitas terbaik di dunia dalam bidang teknologi dan pendidikan daring, hingga Saint Petersburg University.
Selain itu, sejumlah perguruan tinggi nasional seperti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Negeri Medan (Unimed), dan Universitas Hasanuddin (Unhas) juga turut berkontribusi sebagai pengembang mata kuliah. Kolaborasi ini menciptakan ekosistem pembelajaran global yang memungkinkan mahasiswa Indonesia untuk mengakses materi berkualitas tinggi lintas negara, dengan tetap mengedepankan konteks lokal dan relevansi terhadap kebutuhan industri domestik.
Pada tahap awal di tahun 2021–2024, ICE Institute berperan mendukung program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dari pemerintah dengan menyediakan akses gratis bagi mahasiswa. “Jadi semua mahasiswa bisa akses secara gratis semua mata kuliah di ICE Institute,” jelas Rahayu.
Namun mulai 2024, sebagian mata kuliah menjadi berbayar, tergantung keputusan provider, meskipun masih banyak mata kuliah gratis yang bisa dipilih. Selain mata kuliah satuan, ICE Institute juga menyediakan program mikro credential. Sejak Februari 2022, mereka meluncurkan micro‑credential di bidang pengembangan gim bekerja sama dengan 10 universitas (ITS, UGM, ITB, dan lainnya) untuk memberdayakan mahasiswa masuk industri gim. Pada November 2024, mereka memperluas diskusi kebijakan dan metode micro‑credentials guna menjawab kebutuhan pasar kerja
Sejak diluncurkan, lebih dari 10.000 mahasiswa dari sekitar 200 perguruan tinggi telah menikmati layanan ini. Teknologi dan inovasi juga menjadi fokus utama. Platform ini mengadopsi sistem blockchain untuk mencatat sejarah penempuhan mata kuliah, mendukung validitas akreditasi, dan dapat terhubung dengan pasar kerja
ICE Institute dirancang sebagai wadah pembelajaran bersama, bukan hanya untuk mahasiswa UT, tetapi juga terbuka bagi masyarakat umum dan berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
