Konten dari Pengguna

Ini Bocoran yang Bikin Calon Mahasiswa Gen Z Batal Mendaftar

Ini Bocoran yang Bikin Calon Mahasiswa Gen Z Batal Mendaftar
zoom-in-whitePerbesar

Surabaya - Sebelum satu pun calon mahasiswa menginjakkan kaki ke kampus, mereka sudah menilai institusi pendidikan itu dari layar ponsel mereka. Itulah fakta yang disampaikan M. Budi Djatmiko, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI), dalam Grand Launching Serial Webinar Ngaji PMB: Hikmah Ramadan untuk Meningkatkan Penerimaan Mahasiswa Baru 2026 yang diselenggarakan oleh SEVIMA, pada 23 Februari 2026.

Budi Djatmiko hadir secara daring dari Samarinda untuk memberikan arahan langsung kepada ratusan pimpinan perguruan tinggi swasta yang tergabung dalam forum webinar tersebut. Satu pernyataannya jadi sorotan: kampus fisik bukan lagi titik kontak pertama antara institusi dan calon mahasiswa.

"Rumah kita atau kampus kita, sebelum dikunjungi oleh calon mahasiswa, generasi Gen Z itu pasti akan mengunjungi web kita terlebih dahulu," tegas Budi seperti dikutip dari Youtube SEVIMA, Rabu (4/3/2026).

30 Persen Siswa Sudah Tahu Mau Kuliah di Mana

Ketua APTISI itu tidak berbicara tanpa data. Merujuk pada riset yang dilakukan Universitas Indonesia pada 2017, Budi mengurai peta psikografis calon mahasiswa yang kerap luput dari perhatian tim penerimaan mahasiswa baru (PMB) kampus swasta.

Dari total populasi siswa SMA dan SMK di Indonesia, sekitar 30 persen sudah memiliki cita-cita dan tujuan masuk perguruan tinggi tertentu. Dari angka itu, tambah Budi, sekitar 25 persen siswa mengaku memilih program studi karena ikut-ikutan teman, bukan berdasarkan minat atau riset mandiri.

"Sisanya? Mereka belum punya cita-cita, belum tahu mau ke mana setelah lulus. Inilah kesempatan bagi kampus kita untuk bisa membuat mereka ikut, atau ditawarkan untuk masuk ke perguruan tinggi Anda," ujar Budi.

Artinya, lebih dari separuh calon mahasiswa bersifat undecided atau mudah dipengaruhi. Dan siapa yang memenangkan segmen ini? Kampus yang tampil paling meyakinkan di titik kontak pertama — yaitu website.

Website Tanpa Daya Tarik: Calon Mahasiswa Tidak Akan Lanjut

Budi secara eksplisit menggarisbawahi satu kondisi kritis: banyak kampus swasta memiliki website yang tidak mampu menahan calon mahasiswa untuk menjelajah lebih jauh.

"Setelah melihat web, saya ingin kasih catatan yang paling penting: dalam web itu ada sesuatu yang menarik. Apa yang menarik buat para calon mahasiswa?" katanya. "Kalau mereka tidak mendapatkan info yang menarik, mereka tidak akan melanjutkan."

Pernyataan ini menjadi otokritik langsung kepada kampus-kampus swasta yang selama ini masih mengandalkan pola marketing konvensional — brosur, pamflet, dan kunjungan ke sekolah — tanpa investasi serius pada ekosistem digital.

Menurut Budi, satu-satunya pengecualian hanya terjadi bila calon mahasiswa sudah mendapat rekomendasi dari lingkungan sekitarnya — teman, alumni, atau keluarga — sebelum mengunjungi website. Tanpa modal reputasi itu, website yang lemah sama saja dengan pintu yang tertutup.

Dalam paparannya, Budi juga mengingatkan bahwa framework marketing klasik seperti 7P Kotler — product, price, place, promotion, people, process, physical evidence — tetap valid sebagai kerangka berpikir. Namun mediumnya sudah bergeser total.

"Media sosial adalah sarana kita untuk memberi kebaikan, memberi kemudahan, memberi informasi," kata Budi. "Kampus kita sekarang bukan saja kampus fisik, tetapi kampus di cloud, di dunia maya."

Ia mendorong seluruh pimpinan perguruan tinggi swasta untuk mulai mengevaluasi kualitas produk digital kampusnya: apakah konten website menarik, apakah promosinya relevan bagi Gen Z, apakah programnya dikomunikasikan dengan bahasa yang tepat sasaran.

Webinar Ngaji PMB SEVIMA sebagai Ruang Berbagi Strategi Kampus Swasta

Grand Launching Serial Webinar Ngaji PMB diinisiasi oleh SEVIMA, perusahaan teknologi pendidikan yang telah beroperasi selama 23 tahun dan melayani lebih dari 1.000 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Forum ini dirancang sebagai ruang berbagi strategi PMB berbasis data dan praktik terbaik antar pimpinan kampus swasta menjelang siklus penerimaan mahasiswa baru 2026.

Selain M. Budi Djatmiko selaku Ketua APTISI, forum ini juga menghadirkan Prof. Dr. Ir. H. Triyogi Yuwono, DE. IPU ASEAN selaku Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), serta Qausya Faviandani dari Universitas Narotama sebagai narasumber.

Pesan Budi Djatmiko sederhana tapi keras: kampus yang abai terhadap kualitas website-nya sedang merelakan segmen calon mahasiswa yang paling bisa direbut untuk berpindah ke kompetitor. Di era Gen Z, pertarungan PMB tidak dimulai di depan gerbang kampus — melainkan di halaman pertama hasil pencarian Google.