Konten dari Pengguna

Kontribusi Ilmiah Harus Jelas sebelum Mengejar Scopus

Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Istimewa

Kontribusi ilmiah perlu ditetapkan sebelum dosen mulai mengejar publikasi di jurnal terindeks. Penelitian yang sejak awal hanya diarahkan untuk memenuhi kewajiban administratif berisiko kehilangan pertanyaan penting: pengetahuan baru apa yang sebenarnya diberikan kepada pembaca. Karena itu, riset sebaiknya dimulai dari masalah yang relevan dan manfaat ilmiahnya, bukan dari target formal semata.

Pandangan itu disampaikan Dosen Teknik Lingkungan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Muhammad Al Kholif, dalam webinar daring bertema Strategi Sukses Menulis Artikel SCOPUS Pertama dan Mendapatkan ID Scopus pada Jumat, 5 Desember 2025. Dalam sesi tersebut, ia membahas tahapan sebelum penulisan, mulai dari pemilihan topik sampai rancangan metode.

"Penelitian yang kita lakukan harus memiliki nilai kontribusi yang jelas terhadap ilmu pengetahuan," kata Al Kholif. Menurut dia, kontribusi itu dapat muncul dari data yang dikumpulkan, cara data ditafsirkan, maupun evaluasi sistematis terhadap temuan sebelumnya.

Kontribusi ilmiah dimulai dari pertanyaan riset

Al Kholif menilai persoalan sering muncul ketika penelitian diperlakukan sebatas pemenuhan tridarma, BKD, kenaikan pangkat, atau target pendanaan. Orientasi seperti itu membuat rancangan penelitian mudah berhenti pada kegiatan mengumpulkan data, tanpa menjelaskan mengapa hasilnya penting bagi bidang ilmu tertentu.

"Yang terpenting itu adalah ada kontribusi keilmuan yang bisa bermanfaat bagi pembaca," ujarnya. Ia menyarankan peneliti menanyakan alasan penelitian dilakukan sebelum menentukan bentuk artikel. Pertanyaan itu kemudian diuji melalui pembacaan literatur dan pencarian topik yang masih menyisakan persoalan.

Artikel berjudul 'How to prepare your manuscript' yang tayang di Elsevier Researcher Academy menempatkan kesiapan penelitian, pemilihan jurnal, serta pemahaman proses peer review sebagai bagian awal yang perlu dipahami sebelum manuskrip dikirim. Pedoman itu menekankan bahwa pemilihan tujuan publikasi tidak berdiri sendiri, tetapi terkait dengan kecocokan isi dan mutu penelitian.

Kontribusi ilmiah juga membutuhkan kebiasaan membaca. Literatur terbaru membantu peneliti mengetahui perkembangan bidang, melihat pertanyaan yang sudah dijawab, dan menemukan keterbatasan studi sebelumnya. Tanpa proses ini, kebaruan mudah berubah menjadi klaim karena penulis tidak memiliki pembanding yang cukup.

"Kenapa saya harus melakukan penelitian ini? Apakah ini sangat bermanfaat atau tidak?" jelas Al Kholif. Ia mencontohkan pencarian topik dapat dimulai dari tema besar, kemudian dipersempit melalui penelusuran artikel yang relevan dan mutakhir.

Bukan sekadar mencari celah kosong

Riset yang berorientasi kontribusi tidak berarti harus menemukan gagasan yang sama sekali belum pernah disentuh. Al Kholif mengingatkan bahwa gagasan penelitian sering berkembang melalui modifikasi, pengujian, atau perbaikan dari penelitian terdahulu. Celah penelitian dipakai untuk mengetahui keterbatasan yang masih dapat diuji, bukan untuk mengklaim bahwa penelitian baru akan menyelesaikan seluruh masalah.

Ia juga menekankan pentingnya merumuskan masalah, tujuan, dan pertanyaan riset secara jelas. Tiga unsur itu menjadi penghubung antara ide awal, metode yang dipilih, data yang dikumpulkan, dan argumen yang nantinya disusun di bagian hasil serta pembahasan.

SINTA mencatat Muhammad Al Kholif sebagai dosen S1 Teknik Lingkungan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya dengan bidang antara lain environmental engineering dan wastewater treatment. Rekam publikasinya menunjukkan bahwa praktik publikasi yang ia jelaskan berangkat dari aktivitas penelitian di bidangnya, bukan sekadar uraian prosedural.

"Kalau hanya sekadar untuk pemenuhan tridarma, untuk pemenuhan BKD atau untuk kenaikan pangkat, maka akan sulit untuk bisa mencapai jurnal Scopus," paparnya. Pernyataan itu menempatkan publikasi sebagai hasil dari kualitas rancangan, bukan tujuan administratif yang berdiri sendiri.

Perumusan kontribusi juga membantu peneliti memilih jenis bukti yang dibutuhkan. Pertanyaan yang ingin menunjukkan hubungan sebab-akibat memerlukan rancangan berbeda dari penelitian yang hanya memetakan fenomena. Penelitian deskriptif pun tetap dapat memberi kontribusi apabila konteks, data, dan keterbatasannya dijelaskan dengan tepat. Karena itu, kontribusi tidak identik dengan hasil yang spektakuler; yang lebih penting adalah kejelasan posisi temuan terhadap pengetahuan yang sudah ada.

Data yang dipublikasikan SINTA Kemendiktisaintek pada profil Muhammad Al Kholif memperlihatkan publikasinya mencakup teknik lingkungan, pengolahan air limbah, teknologi membran, dan adsorpsi. Rekam tersebut memberi konteks bahwa saran untuk membaca perkembangan bidang berkaitan langsung dengan kebutuhan peneliti mengikuti perubahan metode dan temuan pada disiplin yang bergerak cepat.

Bagi dosen yang sedang menyiapkan proposal, kontribusi ilmiah dapat dirumuskan dalam satu kalimat kerja: masalah apa yang belum terjawab, bukti apa yang akan dikumpulkan, dan siapa yang dapat menggunakan hasilnya. Rumusan ini kemudian diuji kembali setelah literatur dibaca. Bila jawabannya masih terlalu umum, topik belum cukup tajam untuk menjadi fondasi naskah internasional.

Sebelum masuk tahap submission, rumusan kontribusi juga dapat dipakai sebagai alat menyunting. Setiap paragraf yang tidak membantu menjawab pertanyaan utama dapat dipangkas atau dipindahkan. Cara ini membuat pendahuluan tidak melebar, metode tetap relevan, dan pembahasan tidak berubah menjadi ringkasan literatur yang terputus dari temuan.

Kontribusi ilmiah memang tidak otomatis membuat artikel diterima. Editor tetap menilai kecocokan dengan jurnal, sementara reviewer memeriksa metode dan kekuatan bukti. Namun, kontribusi yang dirumuskan sejak awal memberi dasar yang lebih kuat agar seluruh bagian penelitian bergerak menuju pertanyaan yang sama, bukan sekadar memenuhi kewajiban publikasi.