Konten dari Pengguna

Mahasiswa Fapet UGM ikuti SEP di University of Eastern Philippines

Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Istimewa

Yogyakarta—Mahasiswa Program Studi Sarjana Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhammad Zaky Putra Pramudya, mengikuti Summer Enrichment Program (SEP) di University of Eastern Philippines (UEP) pada Juli–Agustus 2025. Partisipasi Zaky berlangsung atas undangan Asosiasi Universitas Agrikultur Asia (Asian Association of Agricultural Colleges and Universities/AAACU) yang setiap tahun menyelenggarakan program pengayaan musim panas untuk mahasiswa bidang pertanian/agrikultur.

Dalam pernyataannya, Zaky menilai keikutsertaan di SEP menjadi momentum untuk memperluas perspektif keilmuan sekaligus jejaring internasional. “Keikutsertaan ini menjadi kesempatan yang bagus untuk memperluas pemahaman untuk memperluas perspektif inovasi agrikultur dan menambah relasi internasional,” ujarnya, Senin (8/9).

Selama mengikuti SEP, seluruh agenda dipandu langsung oleh dosen UEP. Zaky menjelaskan peserta diwajibkan menjalani kombinasi kuliah teori dan praktik lapangan. Materi yang diikuti antara lain penguatan ketahanan sektor pertanian menghadapi perubahan cuaca di Filipina, presentasi berbagai prototipe teknologi pertanian yang dikembangkan mahasiswa UEP, hingga pengenalan kebudayaan setempat. “Setelah ikut program SEP ini, saya termotivasi untuk menerapkan ilmu yang diperoleh demi kemajuan sektor agrikultur di Indonesia,” ucapnya.

Kegiatan juga memfasilitasi peserta untuk berinteraksi lintas negara dalam suasana kelas dan aktivitas bersama. Menurut Zaky, pendekatan itu memperkaya pemahaman teknis sekaligus kompetensi lintas budaya yang dibutuhkan generasi muda di sektor pangan dan agrikultur.

Sebagai konteks tempat pelaksanaan, UEP berlokasi di Catarman, Northern Samar, Filipina. Dikutip dari Wikipedia, Catarman merupakan ibu kota Provinsi Northern Samar dan menjadi lokasi University of Eastern Philippines, salah satu kampus negeri tertua di kawasan Timur Filipina.

Sementara itu, penyelenggara program, AAACU, adalah jaringan perguruan tinggi agrikultur di Asia yang bermitra dalam penguatan kurikulum, mobilitas, dan penelitian. Dikutip dari dokumen resmi AAACU “Student Enrichment Program Application Form”, sekretariat AAACU berkedudukan di University of the Philippines Los Baños (UPLB) dan SEP dirancang untuk memberikan pengalaman akademik lapangan lintas negara bagi mahasiswa anggota, termasuk pelatihan pendek di universitas mitra seperti UEP.

Menurut penjelasan Zaky, program berjalan selama empat pekan dengan struktur harian yang memadukan diskusi kelas, kunjungan fasilitas, hingga praktik di lahan uji. Di antara agenda yang diikuti:

Kuliah tematik mengenai strategi adaptasi iklim di sektor pertanian Filipina, mencakup manajemen air, varietas tahan cekaman, dan sistem peringatan dini.

Paparan prototipe teknologi pertanian karya mahasiswa UEP, seperti alat bantu budidaya skala kecil, aplikasi pemantauan cuaca untuk petani, dan inisiatif pengolahan pascapanen.

Sesi berbagi budaya dengan mahasiswa lokal untuk mengenalkan praktik komunitas petani dan kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya.

Zaky menegaskan, pendekatan teori–praktik di SEP membuat materi mudah diadopsi untuk konteks Indonesia. “Rangkaian kegiatan membuat kami melihat langsung bagaimana inovasi sederhana dapat berdampak pada produktivitas dan ketahanan petani skala kecil,” tuturnya.

Kegiatan seperti SEP sejalan dengan arah internasionalisasi pendidikan tinggi dan kebutuhan transfer pengetahuan cepat di sektor agrikultur. Zaky menilai, kerja sama mahasiswa lintas negara mendorong diffusion of innovation—mulai dari teknologi hemat biaya, pembenahan proses budidaya, hingga digitalisasi layanan penyuluhan.

Dari sisi kompetensi, mahasiswa peserta memperoleh keterampilan komunikasi ilmiah, kerja sama tim multikultural, dan penyusunan laporan berbasis data yang dapat diintegrasikan ke tugas akhir maupun riset mandiri. “Portofolio dari SEP akan saya gunakan sebagai pijakan riset yang relevan dengan kebutuhan ketahanan pangan di tingkat lokal,” kata Zaky.

Setelah kembali ke Yogyakarta, Zaky menargetkan untuk:

  • Mendiseminasikan materi pembelajaran dan praktik baik dari SEP melalui forum mahasiswa dan unit kegiatan ilmiah.

  • Mengadaptasi prototipe teknologi tepat guna yang ditemui di UEP untuk uji coba skala kecil pada komoditas prioritas lokal.

  • Mengembangkan jejaring riset mahasiswa dengan rekan-rekan UEP guna eksplorasi publikasi bersama di topik adaptasi iklim, manajemen pakan, serta kesejahteraan hewan (animal welfare).

Ia juga membuka peluang kolaborasi dengan laboratorium dan kelompok minat di lingkungan kampus. “Kita memiliki tantangan khas, misalnya variabilitas iklim dan skala usaha peternak yang beragam. Kolaborasi lintas kampus memberi sudut pandang baru agar solusi teknis lebih aplikatif,” ujarnya.

Filipina dan Indonesia menghadapi tantangan serupa dalam ketahanan pangan akibat perubahan iklim, fragmentasi lahan, dan akses teknologi di tingkat petani. Program lintas negara semacam SEP memberi ruang pembelajaran komparatif: bagaimana kebijakan adaptasi cuaca diterapkan di level operasional, bagaimana kampus memfasilitasi inkubasi inovasi mahasiswa, dan bagaimana komunitas lokal dilibatkan dalam adopsi teknologi.

Dari sudut pandang jaringan akademik, model AAACU mendorong mobilitas mahasiswa jangka pendek untuk mempercepat tukar-menukar pengetahuan. Dikutip dari dokumen AAACU terkait SEP, format program umumnya meliputi stasiun pembelajaran tematik, pendampingan dosen, serta penugasan akhir yang menuntut integrasi pengetahuan teknis dan sosial—misalnya etnografi singkat komunitas petani dan perancangan solusi berbasis kebutuhan lapangan.

Zaky menyebut, sejumlah ide awal yang akan dibawa ke ruang diskusi kampus antara lain:

  • Optimasi pakan berbasis sumber lokal dengan pendekatan life-cycle thinking untuk menekan jejak emisi ternak.

  • Pemanfaatan aplikasi cuaca mikro bagi peternak kecil, terutama untuk manajemen kandang dan pakan saat cuaca ekstrem.

  • Pengembangan alat ukur sederhana (low-cost sensors) untuk memantau kondisi lingkungan kandang yang dapat dirakit mahasiswa.

Ia berharap dukungan kolaborasi antarmahasiswa lintas fakultas, termasuk teknik, kehutanan, dan pertanian, agar rancangan uji coba cepat diwujudkan. “Kami butuh ekosistem lintas disiplin supaya ide bisa segera diujicobakan,” kata Zaky.

University of Eastern Philippines (UEP)—lokasinya di Catarman, Northern Samar, Filipina. Wikipedia tentang Catarman menyebutkan kota ini menjadi lokasi UEP sebagai perguruan tinggi negeri setempat.

AAACU/Asian Association of Agricultural Colleges and Universities—berdasarkan dokumen formulir resmi AAACU Student Enrichment Program, sekretariat AAACU berada di University of the Philippines Los Baños (UPLB), dan SEP merupakan wahana pengayaan akademik mahasiswa anggota melalui kegiatan lintas negara.

Keikutsertaan Zaky dalam SEP diharapkan menjadi contoh bagi mahasiswa lain untuk aktif memanfaatkan program mobilitas internasional yang memberi nilai tambah langsung pada kesiapan akademik maupun profesional. “Program ini menyenangkan, tidak hanya memberikan kesempatan belajar tetapi juga pengalaman budaya,” ujarnya menutup.

Sumber: ugm.ac.id