Mahasiswa UNISMA Lakukan Pemetaan Ekonomi dan Pariwisata di Desa Wringinanom
Tulisan dari SEVIMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

MALANG, 16 September 2025 – Mahasiswa Universitas Islam Malang (UNISMA) yang tergabung dalam Kelompok 10 Kandidat Sarjana Mengabdi Tematik (KSM-T) melaksanakan program pemetaan ekonomi dan pariwisata di Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi ekonomi dan pariwisata desa tersebut guna mendorong pembangunan yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Kelompok KSM-T ini melaksanakan pemetaan dengan pendekatan partisipatif, melibatkan pemerintah desa, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta masyarakat setempat. Proses pemetaan dilakukan melalui wawancara, observasi lapangan, serta inventarisasi potensi wisata dan analisis keterkaitan antara sektor ekonomi dan pariwisata yang ada di desa.
Hasil pemetaan ekonomi Desa Wringinanom menunjukkan bahwa perekonomian desa ini sangat bergantung pada sektor pertanian, perdagangan lokal, dan usaha mikro. Produk unggulan yang ditemukan di desa ini meliputi hasil pertanian, kerajinan tangan, dan kuliner tradisional. Salah satu sektor yang menunjukkan potensi besar adalah kerajinan tangan, yang dapat diperkuat melalui jaringan distribusi yang lebih luas dan keberlanjutan dari sektor pariwisata.
Selain itu, pemetaan sektor perdagangan juga menemukan bahwa produk lokal dari desa ini memiliki peluang untuk lebih dikenal luas, baik melalui pasar domestik maupun internasional. Usaha mikro yang ada, jika diberikan kesempatan untuk berkembang, bisa menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah, terutama jika dapat diintegrasikan dengan sektor pariwisata yang sedang berkembang.
“Pemetaan ekonomi menunjukkan bahwa sektor pertanian dan UMKM di Desa Wringinanom memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Khususnya produk-produk lokal seperti kerajinan tangan dan kuliner, yang jika dipromosikan dengan baik dapat memberi dampak signifikan terhadap ekonomi masyarakat,” ungkap salah satu anggota kelompok KSM-T, Febti Ismiatun, S.Pd., M.Pd.
Desa Wringinanom memiliki daya tarik wisata yang besar berkat pemandangan alam yang indah, situs budaya, dan kegiatan komunitas berbasis kearifan lokal. Beberapa tempat menarik, seperti hutan alam, situs sejarah, dan kegiatan adat, menjadi daya tarik utama yang dapat menjadi destinasi wisata. Namun, ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam pengembangan sektor pariwisata, di antaranya adalah keterbatasan infrastruktur, kurangnya promosi, dan kelemahan dalam kelembagaan pengelolaan.
Menurut Kelompok 10 KSM-T, untuk mengembangkan potensi pariwisata ini, perlu adanya penguatan infrastruktur pendukung, seperti jalan, fasilitas umum, dan aksesibilitas menuju lokasi wisata. Selain itu, promosi yang lebih intensif juga diperlukan agar potensi wisata ini dapat dikenal oleh wisatawan lebih luas. Pihak pemerintah desa juga diminta untuk mengelola sektor pariwisata dengan pendekatan yang lebih terorganisir dan berbasis pada kearifan lokal.
Salah satu temuan penting dari pemetaan ini adalah potensi besar untuk mengintegrasikan sektor ekonomi dan pariwisata. Peningkatan jumlah wisatawan yang datang ke Desa Wringinanom bisa memberikan dampak positif terhadap permintaan produk lokal, membuka lapangan kerja baru, serta memperkuat UMKM. Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, masyarakat dapat memperoleh pendapatan tambahan dari sektor pariwisata yang mendukung aktivitas ekonomi lainnya.
Selain itu, kekuatan ekonomi desa yang semakin kokoh dapat menjadi pondasi bagi keberlanjutan sektor pariwisata itu sendiri. Program-program yang memperkuat perekonomian lokal, seperti pelatihan UMKM dan penguatan kapasitas produksi, dapat memperkuat daya saing produk-produk lokal di pasar pariwisata.
“Keterkaitan antara sektor ekonomi dan pariwisata membuka ruang besar bagi terciptanya multiplier effect yang nyata. Peningkatan jumlah wisatawan dapat mendongkrak permintaan produk lokal, yang pada gilirannya juga membuka peluang usaha baru dan memperkuat UMKM,” tambah Febti Ismiatun.
Kelompok 10 KSM-T tidak hanya melakukan pemetaan, tetapi juga memfasilitasi diskusi partisipatif dengan warga dan perangkat desa. Mereka mendorong adanya strategi pembangunan berbasis data, yang diharapkan dapat memberikan arahan yang jelas dalam pengembangan desa. Dalam prosesnya, kelompok ini juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya integrasi ekonomi dan pariwisata untuk pembangunan yang berkelanjutan.
“Penting bagi kami untuk tidak hanya melakukan pemetaan, tetapi juga memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya sektor ekonomi dan pariwisata yang saling mendukung,” ujar anggota kelompok lainnya, Khoirul Anwar, S.Gz., M.Si.
Hasil pemetaan ini dapat menjadi dasar bagi pemerintah desa dalam merumuskan program-program pembangunan yang lebih terarah dan berbasis pada kebutuhan masyarakat. Selain itu, pemetaan ini juga dapat dijadikan sebagai rujukan bagi masyarakat dalam mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pengelolaan sektor pariwisata. Dalam skala yang lebih luas, hasil pemetaan ini dapat menjadi acuan bagi investor untuk melihat peluang pengembangan ekonomi yang ada di desa.
“Kami berharap hasil pemetaan ini dapat menjadi acuan untuk pengembangan lebih lanjut, baik dari sisi ekonomi maupun pariwisata. Selain itu, diharapkan pula dapat membuka peluang kerja sama dengan pihak-pihak yang tertarik untuk berinvestasi di Desa Wringinanom,” ungkap Febti Ismiatun.
Dengan adanya pemetaan ini, diharapkan Desa Wringinanom dapat mengoptimalkan potensi yang ada dan menjadi model pengembangan desa berbasis ekonomi dan pariwisata yang berkelanjutan. Melalui integrasi kedua sektor ini, desa ini bisa berkembang dengan lebih inklusif dan mampu memberikan kesejahteraan yang lebih besar bagi masyarakat.
Pemetaan ekonomi dan pariwisata di Desa Wringinanom yang dilakukan oleh Kelompok 10 KSM-T UNISMA menunjukkan bahwa desa ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara sinergis. Dengan integrasi ekonomi dan pariwisata, desa ini bisa tumbuh menjadi pusat perekonomian yang berkelanjutan dan destinasi wisata unggulan. Peran UNISMA dalam pengembangan ini tidak hanya terbatas pada riset, tetapi juga pada pendampingan langsung bagi masyarakat untuk menciptakan peluang ekonomi baru.
Sumber: timesindonesia.co.id

